Tuesday, 3 December 2019

Mengenal Grandslam

Salah satu cabang olahraga yang memiliki paling banyak turnamen kelas dunia adalah Tenis Lapangan. Beberapa opini masyarakat mengatakan bahwa olahraga ini adalah olahraga kelas atas. Mungkin karena perlengkapan olahraganya yang memiliki harga relatif mahal, seperti reket dan bolanya. Tapi saya tak ingin membahas tentang itu. Tulisan ini hanya ingin berbagi informasi dan mengenalkan apa itu turnamen Grandslam dalam olahraga Tenis Lapangan.

Grandslam adalah sebutan untuk Turnamen paling bergengsi dalam Asosiasi Tenis Profesional (ATP) dan level kedua adalah turnamen ATP Final yang mempertemukan 8 Petenis teratas dunia. Grandslam diadakan 4 kali dalam setahun di 4 negara yang berbeda, yaitu Australia (Australian Open), Prancis (France Open / Rolland Garros), Inggris (Wimbledon), dan Amerika (US Open).

Turnamen Grandslam ini memiliki perbedaan dengan turnamen lainnya. Hanya turnamen inilah yang dipertandingkan dengan 3 Set, artinya pemain harus merebut kemenangan 3 set agar menjadi pemenang. Sedangkan turnamen yang lain hanya digelar dengan merebutkan 2 set kemenangan. Oleh karena itu, tidak sedikit para pemain yang harus berhenti di tengah pertandingan karena kelelahan atau cedera. Bukan tanggung stamina yang harus dipersiapkan untuk ikut turnamen ini.

Jenis Lapangan
a. Australian Open
Turnamen Grandslam pertama diadakan di Australia (Australian Open) biasanya diadakan di bulan Januari awal tahun. Jenis lapangan yang digunakan adalah lapangan semen dengan unsur granit. Karakter lapangan seperti ini lebih disenangi oleh beberapa pemain ATP seperti Djokovic dan Roger Federer.


b. France Open / Rolland Garros
Turnamen Grandslam kedua dilakukan di Prancis (France Open / Rolland Garros), biasanya dilangsungkan pada bulan April. Jenis Lapangan yang digunakan adalah tanah liat. Pemain yang hebat dilapangan ini salah satunya adalah Rafael Nadal.

C. Wimbledon
Turnamen ketiga dihelat di Inggris (Wimbledon). Jenis Lapangan yang digunakan adalah lapangan rumput. Pemain yang hebat di lapangan ini biasanya adalah Roger Federer. Turnamen ini biasanya dilakukan pada bulan Agustus atau September.

D. US Open
Turnamen terakhir Grandslam dilaksanakan di Amerika serikat (US Open). Biasanya dilangsung pada bulan Oktober. Jenis lapangan yang digunakan adalah granit. Semua pemain sudah terbiasa bermain di lapangan jenis ini. Dari data yang saya punya, turnamen inilah yang memberikan hadiah terbesar dari 4 Grandslam yang ada.

Oke guys...
Semoga pengetahuan kita tentang Grandslam dan lapangan yang digunakan sudah semakin bertambah. See u next info...

Sunday, 1 December 2019

Anak SMA saat ini

Aku adalah seorang guru SMA sejak tahun 2003 sampai hari ini. Ada berbagai sekolah SMA dimana aku pernah mengajar, di antaranya SMA Al Azhar Medan, SMAN 2 Pematangsiantar dan saat ini aku mengajar di dua sekolah SMA yaitu SMA Assyafiiyah Internasional Medan, dan SMAN 3 Medan. Dari secuil pengalaman mengajar itu sedikit banyak aku mengetahui beberapa karakter siswa yang notabene adalah para remaja. Saya akan sedikit paparkan siapa dan bagaimana para remaja kita ini, terlepas dari benar atau salah, inilah beberapa hal yang bisa saya deskripsikan.

1. Keaktifan dalam belajar.
Saat ini para siswa SMA yang sering dikatakan sebagai generasi milenial cenderung lebih berani merespon setiap pembelajaran yang disampaikan oleh gurunya, walaupun ada juga beberapa siswa yang masih belum berani bertanya atau merespon setiap proses pembelajaran. Model pembelajaran yang mereka senangi juga tidak sama dengan ketika aku masih menginjak bangku SMA yang cenderung satu arah ( kurang interaktif).



Mereka lebih senang ketika mereka dibuat menjadi aktif, misalnya dengan mengerjakan sesuatu, apalagi pekerjaan itu dengan menggunakan smartphone yang hampir rata-rata siswa SMA telah memilikinya.  Tak heran jika perubahan itu terjadi, karena teknologi informasi yang semakin maju memberikan banyak pengetahuan dan tontonan yang terkait dengan remaja-remaja SMA. Di samping itu pula tentu hal ini tidak terlepas dari budaya keluarga yang membentuk si anak ketika berada di luar rumah/sekolah.

2. Pola interaksi


Aku masih terbayang bagaimana takutnya aku ketika akan menanyakan sesuatu kepada guru SMA ku, tanpa kutau alasan yang jelas mengapa aku harus takut. Hanya tetap saja dalam kepalaku bahwa guruku itu adalah orang yang hebat dan sangat pintar, sehingga untuk berinteraksi dengan mereka pun aku takut salah. 
Saat ini anak SMA tak lagi mengadopsi pola interaksi seperti itu. Mereka lebih interaktif dan membangun interaksi dengan model mengarah kepada perkawanan. Memang, seorang guru harus juga mampu menjadi, orang tua, guru dan teman, sehingga siswa lebih nyaman untuk mengutarakan apa yang ingin mereka utarakan (curhat). Hal ini penting, karena anak-anak milenial saat ini cenderung lebih mengikuti peers mereka daripada nasehat2 formal yang disampaikan orang2 yang lebih tua dari mereka. Maka dari itu keterbukaan antara guru dan siswa memang sangat dibutuhkan.
Kelonggaran interaksi antara guru dan siswa saat ini juga terkadang bisa disalahartikan baik oleh siswa maupun gurunya.
Di salah satu sekolah swasta yang pernah aku ajar, aku pernah ditegur oleh seorang siswa wanita, "Pak, nanti bapak ada acara?", Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, lalu aku jawab "enggak, kenapa?", " Nonton yuk?", Tanyanya padaku. Terperanjat aku mendengar pertanyaan itu. 
Nah, ada 2 hal yang perlu digaris bawahi.
Pertama, ternyata ada saja siswa yang berkarakter seperti itu diantara ratusan karakter siswa. Kedua, saat seperti itu, guru juga dicoba untuk bisa menyikapi hal-hal seperti itu dengan benar. Yah kalau gurunya ngeres juga, sudah jelas itu momen yang "asik".
Aku cuma memahami itu sebagai gejolak psikologis remaja aja yang tak perlu disahuti dengan serius, dan aku hanya tertawa sambil bilang "ada aja kamu ini"....hehe.
Tapi perlu juga digaris bawahi bahwa pola interaksi selonggar apapun, nilai dan norma harus tetap hidup dan interaksi tersebut.

3. Kecenderungan berkelompok



Menurut observasi ku, memang saat ini kecenderungan anak anak SMA untuk berkelompok cukup besar. Membentuk kelompok atau bergabung dengan kelompok buat mereka merupakan sebuah ekspresi kejiwaan mereka. Ada semacam kehebatan tersendiri bagi mereka, mereka merasa gaul dengan itu dan juga sebagai wadah curhat diantara sesama anggota kelompoknya. Kelompok yang dimaksud di sini bisa saja kelompok yang cenderung kurang positif, misalnya hanya ngumpul2 dan beraktifitas yang kurang bermanfaat, atau bisa juga kelompok yang positif, walau itu jarang, karena kelompok yang positif sudah ada di sekolah, misalnya kelompok ekskul. Dalam istilah sekarang kelompok-kelompok itu dinamakan dengan "tongkrongan".
Inilah maka dalam sosiologi dikatakan bahwa penyebab perilaku menyimpang itu, selain dari sosialisasi tidak sempurna, adalah sub kebudayaan menyimpang. Inti dari sub kebudayaan menyimpang itu adalah bahwa ketika seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok (sub kebudayaan) yang tidak benar, maka orang tersebut juga akan menjadi tidak benar yang akan selalu berperilaku menyimpang. 

4. Lebih memperhatikan penampilan.


Nah, yang ini terasa sekali. 
Kalau kita pernah mendekati anak-anak SD atau bahkan SMP yang baru bermain, maka aromanya lumayan menyakiti hidung kita, dan mengganggu kenyamanan kita untuk menghirup udara....hehe
Nah anak SMA sekarang, sudah sangat jarang kita temui yang beraroma nyelekit, walau ada juga beberapa yang mungkin sudah bawaan badannya.
Penampilan dan yang berkaitan dengan tubuh mereka, sudah sangat diperhatikan. Di antara bukti yang bisa saya paparkan, anak SMA sekarang:
1.  Selalu membawa cermin/kaca di dalam tasnya, atau sekarang smartphone nya sudah dapat melakukan fungsi cermin yang selalu mereka bawa itu. Itu mereka gunakan untuk selalu memperhatikan wajah mereka agar tetap cantik menurut mereka, sampai sampai beberapa siswa secara sembunyi-sembunyi bercermin lewat hp nya ketika sedang belajar...hehe.

2. Parfum. Benda ini juga menjadi sesuatu yang tak ketinggalan di dalam tas mereka. Setiap selesai olahraga atau ketika akan pulang sekolah, mereka selalu memakai parfum di tubuhnya, terutama pada wanita, walau kadang beberapa teman prianya minta parfum itu untuk disemprotkan ke tubuhnya. Sebagai guru sih ini gak masalah, ruangan jadi wangi dan tidak menggangu aktifitas menghirup udara..hmm. 

3. Bagi wanita berjilbab, seringkali beberapa menit memperbaiki jilbabnya agar rapi dengan menghembuskan udara dari mulutnya ke atas untuk merapikan bagian depan jilbabnya.


Dan beberapa lagi yang tak perlu saya tuliskan. Ini juga adalah bagian dari gejolak psikologis mereka. Mereka yang wanita tentu ingin dilihat cantik oleh teman2nya, terutama yang pria. 
Jadi, mari kita perhatikan adik kita, anak kita, teman kita, yang mulai mengalami gejolak psikologis, keingintahuan yang besar memerlukan kontrol yang juga besar dari orang lain, sekolah, terutama orangtuanya. 
Semoga bermanfaat.



Friday, 22 November 2019

Kisi kisi soal sosiologi 11

1. Kelompok sosial terbentuk atas beberapa dasar :
a. Kedaerahan cth: ikatan pemuda Melayu
b. Hobi : persatuan sepakbola tanah datar.
  (Ingat! Mana yg terlebih dahulu disebutkan, itulah yg menunjukkan dasarnya: sepakbola, bukan tanah datar.
c. Geografis : himpunan pemuda gunung Sibayak.
d. dan sejenisnya...

2. Paguyuban dan Patembayan
3. Kelompok primer dan sekunder
4. Stratifikasi sosial terbuka : ada kesempatan untuk berganti status sosial
    Stratifikasi sosial tertutup : tidak ada kesempatan utk berganti status sosial cth : kasta.
5. Cara mendapatkan status sosial ada 3:
a. Achieved status : status sosial didapatkan dari usaha, kerja keras
B. Ascribed status : didapatkan dari kelahiran atau keturunan.
C. Assigned status: didapatkan dari penghargaan atau tanda jasa.

Wednesday, 20 November 2019

Kisi-kisi semester ganjil 12

Perubahan sosial:
1. Perubahan cepat (revolusi), dan yang lambat dan bertahap (evolusi). Perubahan yang mengarah pada kemajuan (progress) dan kemunduran (regress).

2. Adapun yang menjadi permasalahan dalam ketimpangan sosial adalah ketidakadilan dalam mengakses sumber daya negara.

3. Modernisasi dan westernisasi memang berasal dari barat, tapi ingat, setiap hal positif dari barat, kita kategorikan sebagai modernisasi, sedangkan hal negatif dari barat (perilakunya atau budaya negatif lainnya) kita kategorikan sebagai westernisasi.
Pengembangannya fahami sendiri.

4. Kemiskinan yang disebabkan dari mereka sendiri (malas, mengatakan itu sebagai takdir, dah) dikatakan sebagai kemiskinan kultural. Sedangkan kemiskinan yang disebabkan karena kebijakan pemerintah yang kurang berpihak kepada rakyat kecil (menaikkan pajak, harga bahan, kurangnya lapangan pekerjaan, dsj), dikatakan sebagai kemiskinan struktural.

5. Cultural shock : tidak siapnya seseorang terhadap sebuah budaya baru yang dilihatnya. (Semua contoh yg sejenis itu harus sudah difahami).
     Cultural lag : tidak seimbangnya perkembangan budaya dalam bentuk materi dengan perkembangan budaya non materi. Contoh : perkembangan internet begitu cepat, tetapi pengetahuan masyarakat belum mampu mengakses internet tsb dengan maksimal.
(Berbagai contoh yang sejenis itu harus sudah difahami).

6. Fakir miskin Dan anak terlantar dipelihara oleh negara, adalah bunyi pasal 34.



Tuesday, 19 November 2019

Tongkrongan

Hasil gambar untuk tongkrongan warkop"

Seringkali sudah aku mendengar istilah "tongkrongan", terutama bagi anak-anak sekolah baik itu SMP apalagi SMA. Istilah tongkrongan ini buatku adalah tempat berkumpulnya anak-anak sekolah itu sepulang sekolah atau setelah kegiatan di sekolahan sudah selesai. Tetapi ada juga beberapa anak sekolah yang masih jam belajar aktif sudah berada di tongkrongan, alias cabut sekolah.

Hampir di semua sekolah terutama SMA, beberapa siswanya memiliki tempat tongkrongan sendiri-sendiri dan dengan aktivitas sendiri-sendiri pula. Ini adalah bagian dari perkembangan psikologis remaja yang selalu ingin berkelompok sebagai bagian dari ekspresi keremajaan itu. Dalam tinjauan sosiologi, ketika seseorang berada dalam kelompoknya, maka ada beberapa perasaan yang ia rasakan, contoh: seseorang akan merasa kuat / hebat, sehingga dalam situasi seperti itu maka jangan cari gara-gara, karena sebagai sebuah kelompok ia akan merasa bahwa seseorang sedang menguji  kehebatan kelompoknya, sehingga kelompok itu sangat ingin membuktikan bahwa kelompoknya itu adalah kelompok yang hebat. Kehebatan kelompoknya itu juga akan terekspresikan dalam bentuk simbol-simbol, misalnya memiliki bendera tersendiri, atau yel-yel yang dianggap dapat membakar semangat dan kekokohan diantara anggota kelompok. Dalam hal ini dasar terbentuknya kelompok itu adalah kesamaan hobi (nongkrong di tempat tertentu sambil bersosialisasi).

Dalam ilmu sosiologi ada beberapa penyebab terjadinya perilaku menyimpang, dan salah satunya adalah  sub kebudayaan menyimpang. Saya akan berikan contohnya, seorang anak yang awalnya "baik", diajarin nilai-nilai yang positif di rumah dan di sekolah sebagai agen sosialisasi. Tetapi ada agen sosialisasi lain seperti teman sepermainan yang juga turut andil dalam proses sosialisasinya. Maka jika si anak bergaul dengan sekelompok orang (grup), yang dalam hal ini dikatakan sebagai sub kebudayaan dan kelompok tersebut adalah kelompok yang "tidak baik" dan suka berperilaku menyimpang, maka si anak bisa saja akan menjadi seorang "penyimpang", apalagi ia sangat sering berada di dalam kelompok tersebut. Nah itu yang disebut sebagai penyimpangan hasil dari sub kebudayaan yang menyimpang.

Tongkrongan, boleh saya katakan sebagai sebuah kelompok dalam pergulatan pergaulan anak-anak sekolah saat ini. Barangkali ada banyak hal yang mereka bicarakan dengan teman-teman satu tongkrongannya, yang mungkin tidak terceritakan kepada orang tua atau mungkin gurunya. Tongkrongan barangkali menjadi salah satu wadah mereka bercerita tentang apa saja, karena mungkin buat mereka  tongkrongan sebagai sesuatu yang bebas nilai dan bebas kontrol. Hanya saja buat saya, ini hal yang agak berbahaya, karena teman berceritanya juga teman-teman sebaya  dengan emosi dan rasionlaitas yang cenderung sama, sehingga tak ada yang bisa menjadi panutan atau kalau dalam istilah umum "yang dituakan", yang mungkin bisa berperan untuk mengontrol hal-hal negatif yang akan atau sedang dilakukan. 

Hasil gambar untuk tongkrongan warkop"

Tongkrongan, bisa menjadi hal positif, jika saja pembicaraan atau pergaulan yang dihasilkan di sana memberikan pengetahuan paling tidak ada hal positif dalam perkembangan keperibadian anak sekolah. Tetapi tongkrongan bisa juga menjelma menjadi "kawah candra dimuka" bagi anak sekolah yang tak mampu menyaring mana yang baik dan yang buruk buatnya.
Semoga yang namanya tongkrongan itu mampu lebih mendewasakan anak-anak sekolah yang datang ke sana dan mampu memberikan hal positif bagi pengetahuan mereka.
Kalau saya sih, bisa memaklumi tongkrongan-tongkrongan itu, karena saya juga pernah menjadi bagian dari anak-anak tongkrongan itu ketika masih sekolah. Hanya saja terkadang orang tua sering merasa khawatir dengan anak-anaknya yang sering ngumpul-ngumpul dan dianggap tidak memberikan manfaat apa-apa. Tapi maunya ya anak-anaknyapun jangan menunjukkan perubahan ke arah yang negatif kepada orang tuanya. Gaul ya gaul....tapi jangan menjadikan kita malah jadi orang yang "brengsek", tak mengerti nilai dan norma dan nilai-nilai pelajaran jadi semakin memburuk. 
Jangan ya Nak......

Atau kamu ada komen tentang tongkrongan? Silahkan dikomen tulisan ini...




Tuesday, 27 August 2019

Amanatku sebagai Pembina Upacara


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua.

Anak-anak sekalian...
Satu hal yang patut kita syukuri adalah bahwa kita masih diberikan kesehatan oleh Allah SWT, Tuhan yang maha Esa, karena dengan modal itulah kita masih bisa terus melanjutkan proses pendidikan kita, dan semoga kesehatan yang ada pada diri kita ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk terus menggali ilmu untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Anak-anak sekalian...
Mari kita fokuskan keberadaan kita di sekolah ini untuk belajar. Belajar berbagai hal, keilmuan, nilai-nilai, etika, sopan santun, ketrampilan, olahraga dan lain sebagainya. Harus kita sadari bahwa sekolah ini tidak semata-mata belajar tentang keilmuan, tapi juga etika, sopan santun, berinteraksi dengan baik dengan orang lain dan sejenisnya. Hal itulah yang menyebabkan kurikulum pendidikan nasional saat ini memiliki Kompetensi inti pertama dan kedua, yaitu kompetensi religi dan kompetensi sosial. 

Anak-anak sekalian...
Disetiap sekolah biasanya memiliki budaya sekolah, contoh bersalaman jika ketemu, itu sudah jalan, bagus. Tersenyum ketika bertemu orang yang lebih tua, itu sudah jalan, bagus. Bagaimana dengan budaya terlambat?Buang sampah pada tempatnya? Belum! Kita masih memiliki budaya buang sampah sembarangan. Susah ya, cuma persoalan buang sampah Lo...mental kita belum baik dalam persoalan itu. Bagaimana negeri ini berangkat menuju negara maju/modern? Maka saya boleh dong berhipotesa bahwa salah satu indikator negara modern adalah bahwa masyarakatnya sudah mampu membuang sampah pada tempatnya. Maka, selama kita belum mampu buang sampah pada tempatnya maka kiranya agak susah negeri ini berangkat dari negara transisi ini menuju negara maju/modern.
Seorang seniman Taman Budaya Sumatera Utara, bernama Winarto Kartupat pernah bercerita ketika ia berada di Malaka (Malaysia). Sehabis tampil di sana ia bersama seorang temannya duduk-duduk di sebuah lapangan. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri dengan maksud ingin merokok. Karena mereka tak melihat ada orang maka merekapun merokok. Setelah rokok mereka habis, maka Winarto meletakkan puntung rokoknya di dekat kakinya dan memijakkannya agar mati. Beberapa menit kemudian, tanpa disangka, seorang tukang bersih-bersih datang dan mengutip puntung rokok dari bawah kaki si Winarto itu tanpa marah. Betapa malunya si Winarto waktu itu, dan semenjak itu, ia tak lagi sembarangan untuk merokok di luar area merokok. Nah, cerita itu menunjukkan bahwa mereka tak perlu menghukum orang dengan kekerasan fisiknya, tapi cukup dengan menyentuh budaya malunya. Seorang yang bermental baik mungkin tepat dengan cara itu, tapi jika memang mentalnya bobrok, cara itu tentu tidak cukup efektif. Bagaimana dengan kita?

Anak-anak sekalian...
Sistem pendidikan yang dikonstruksi (dibangun) oleh pemerintah ini sebenarnya sudah cukup baik. Tetapi perlu diingat bahwa sistem pendidikan yang baik juga harus didukung oleh semua sub sistem (unsur-unsurnya), peraturannya, sarana dan prasarananya, tenaga pendidiknya, atau siswanya. Jika satu saja dari unsur itu tidak baik atau terganggu, maka yang namanya sistem tidak akan berjalan dengan baik. Untuk itu anak-anak sekalian, mari kita bersinergi menciptakan sebuah ilklim pendidikan yang sehat dan baik. Kita tentu tidak menginginkan berada pada sebuah institusi pendidikan yang tidak mendidik. 

Semoga amanat ini bermanfaat,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat Pagi.

Monday, 26 August 2019

Kampung Orang tuaku telah berubah (Perubahan Sosial budaya)

Penulis: Ikhwan Rivai Purba

Dulu aku sering datang ke Kampungku dengan senang dan tak merasa ada hal-hal yang perlu aku takuti dan khawatirkan. Aku masih sering berjalan ke sana kemari dengan jalan kaki dan melintasi berbagai pepohonan nan rindang. Sawah-sawah masih terbentang luas di antara jalanan yang aku lalui. Orang-orang yang memiliki sawah masih terlihat membersihkan sawah-sawah mereka dengan penutup kepala dari topi jerami dan beberapa wanita dengan kain sarung yang dibalutkan di kepalanya. 
Hasil gambar untuk desa Pematang Bandar
Pohon-pohon Durian yang tinggi menjulang masih sangat sering aku temui di setiap aku berjalan-jalan di kampung itu. Tepatnya, Desa itu bernama Pematang Bandar yang kini telah menjadi kecamatan dan Desa Sibolatangan. Dua desa yang sering sekali aku jalani waktu itu memberikan banyak kisah yang tak mungkin bisa aku lupakan sampai hari ini.
Hasil gambar untuk pohon durian
Perjalan dari satu Desa ke Desa yang satunya lagi jarang aku dan saudaraku tempuh dengan kendaraan, tetapi kami lebih senang berjalan kaki, karena di setiap perjalanan kami sering melakukan banyak hal. Misalnya di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk mengambil kelapa muda yang enak sekali rasanya, satu diantara saudaraku yang pandai memanjat kelapa menjatuhi kelapa yang masih muda-muda dan segar ke bawah dan kami belah dengan semangat untuk mengambil airnya. Satu hal yang menarik adalah ketika kami akan meminum air kelapanya, sepupuku yang kebetulan tinggal di Desa tersebut memotong bambu yang berukuran kecil dan menjadikannya seperti pipet, lalu kami gunakan untuk menyedot air kelapa yang sudah dibolongi untuk diminum airnya, tanpa kami berfikir apakah di dalam bambu tersebut bersih atau tidak, yang penting "kipas tross"...Glek,glek,glek...suara air kelapa itu kami minum dengan semangatnya. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan beramai-ramai dengan teman-teman dan saudara sambil tertawa-tawa dan menceritakan berbagai hal yang saling nyambung di antara kami.

Belum berhenti sampai di situ, belum lagi kami sampai ke Desa yang kami tuju, kami singgah kembali ke Sungai pinggiran yang berada di antara pohon-pohon besar yang rindang dan pohon-pohon bambu yang tinggi-tinggi. Jangan bayangkan sungai itu seperti sungai besar dan panjang seperti sungai Ular di perbatasan Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Sungai itu tidak terlalu besar dan berada di antara bebatuan yang besar dan memiliki air yang sangat jernih. Setiap mata memandang ke air itu, maka apa yang ada di bawah air itu kelihatan semuanya, pasir-pasirnya, batu-batu kecil, bahkan ikan-ikan kecil yang berenang-renang di dalam air tersebut, tetapi ikan tersebut susah sekali untuk diambil, karena geraknya yang sangat cepat. Selain itu, batu-batu yang ada di pinggiran sungai itu ada yang besar, ada yang kecil, ada yang meninggi ke atas, ada yang saling berhimpit, dan di antara celah batu tersebut ada yang mengeluarkan air yang sangat jernih. Sepupuku bilang bahwa air itu dari dalam batu dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Karena aku kurang percaya, maka aku suruh dia untuk meminumnya dan ia segera mengambil air itu dengan tangannya dan meminumnya di depanku. Karena sudah percaya akupun tak mau kalah lalu menampung air itu dengan tanganku dan segera meminumnya. Rasanya...waaaaah...segar sekali. Aku, saudaraku dan temanku terus bermain air di sungai yang terlalu besar itu tetapi memiliki air yang sangat jernih itu. Orang-orang Kampung setempat sambil  lewat dan melihati kami sambil tersenyum ramah dan membiarkan kami terus bermain air. 
Hasil gambar untuk Sungai Desa jernih
Gambar Ilustrasi

Tanpa mengeringkan lebih dahulu badan kami dengan handuk, kami keluar dari sungai dan melanjutkan perjalanan ke Desa yang kami tuju. Di jalan pakaian kami kering sendiri dihembus angin. Apalagi ketika musim durian tiba, aku selalu singgah ke ladang keluargaku untuk menyantap durian mereka yang masih sangat bagus kualitasnya, buahnya besar-besar dan jarang sekali yang rusak. Pohon durian masyarakat kampung masih sangat banyak dan besar-besar. Begitu juga dengan pohon durian Atokku (baca : kakek), bahkan aku sering tinggal di sana ketika hari libur untuk membantunya menjaga buah durian miliknya, dan sambil menjaganya aku bebas memakan buah durian itu sepuasku. Setelah selesai memakan buah durian rasa hauspun datang dan aku disuruh untuk mengambil jerigen (wadah) untuk mengambil air di sungai dari celah-celah batu yang memancarkan air, dan air itulah yang kami minum bersama-sama.

Di perjalanan aku sering bertemu dengan orang-orang setempat yang juga sedang berjalan kaki menuju tujuannya masing-masing. Setiap kali berpapasan mereka selalu menegurku dan sepupu-sepupuku, walau sekedar basa-basi, tapi aku tau bahwa itu adalah bentuk interaksi yang ramah dan merasa bahwa mereka warga yang baik. Jarang aku temui kendaraan yang lalu lalang di Desa tersebut. Rumah-rumah yang kulewati rata-rata masih sangat sederhana dengan atap rumbia yang katanya tidak memancarkan panas matahari ke dalam ruangan rumah. Hanya ada juga beberapa rumah yang sudah menggunakan seng sebagai atap rumahnya. Setiap hari sabtu Desa Pematang Bandar itu selalu ada "Pekanan", kalau istilah saat ini adalah pajak/pasar, hanya saja pekanan itu hanya dilakukan seminggu sekali. Tempatnya hanya beralaskan tanah dan terpal-terpal sebagai atapnya. Di situlah warga menjual semua yang bisa ia jual untuk mencari keuntungan ekonomi tambahan, misalnya mereka menjual pisang hasil ladangnya, menjual, durian atau buah-buahan lain hasil ladangnya,Ikan hasil kolamnya, walaupun ada juga yang menjual bahan-bahan lain seperti buku, pakaian, sembako dan lain sebagainya, tetapi biasanya yang seperti itu adalah orang-orang luar desa yang ikut berdagang di pekan tersebut. Suasana dan pengalaman itu menjadi catatan tersendiri yang indah dalam perjalanan hidupku.

Kini...
Ketika aku kembali pulang ke kampung orangtuaku, ada warna dan suasana yang jauh berbeda dengan apa yang aku ceritakan di atas. Aku tak pernah lagi berjalan dari Desa Pematang Bandar ke Desa Sibolatangan, karena terik panas sudah mulai menyiksa tubuh tanpa ada penghalang-penghalang panas.

Hasil gambar untuk pohon durianHasil gambar untuk pohon durian

Selain itu Debu-debu jalanan serta asap-asap kendaraan masyarakat sudah mulai sangat terasa, terutama dari truk-truk beberapa toke sawit di daerah itu yang selalu hilir mudik mengambil hasil kebun para warga. 
Aku yang dulu bisa dengan bebas memakan buah durian yang tidak hanya yang dimiliki oleh keluargaku tapi juga milik orang lain yang sering menyuruh singgah untuk merasakan durian mereka karena itu adalah bagian dari ketidaksombongan mereka,kini aku harus membeli durian yang beberapa masyarakat jual di pinggiran jalan dengan harga yang relatif mahal, karena pohon durian yang sudah sangat jarang. Karena rinduku pada rasa durian daerah itu, akupun membelinya beberapa buah. Setelah aku membelahnya maka kualitas buah durian itupun ikut berubah, terkesan kering, dan sesekali terlihat banyak kehitaman, bahkan kurang masak. Hal itu tentu tidak terjadi begitu saja. Menurut warga setempat itu disebabkan oleh semakin banyaknya sawit-sawit yang kini telah menjadi salah satu usaha andalan warga setempat, sehingga kualitas tanah juga semakin berkurang dihisap oleh "pohon-pohon rakus" itu. 
Hasil gambar untuk pohon sawit di pinggir jalan
Hempasan ekonomi dan tuntutan kebutuhan ternyata harus merenggut kerindangan pohon-pohon durian yang besar-besar itu. Cara pandang lain telah menyentuh masyarakat dan dengan segera mereka menjadikan kekokohan dan menjulangnya batang-batang durian itu menjadi komoditi-komoditi sesaat untuk keperluan para "kapitalis" dengan cara mengambil batang-batang durian itu untuk dijadikan papan, broti atau keperluan-keperluan lainnya. Satu persatu masyarakat mulai menumbangkan pohon-pohon duriannya dengan alasan ekonomi, dan ada juga yang dengan alasan bahwa buah duriannya semakin tidak baik kualitasnya, jadi tidak perlu lagi dipertahankan.

Aku coba untuk mengambil air dari celah-celah batu yang dulu pernah aku minum langsung, tapi air itu telah hilang dari sana, begitu juga dengan air sungai yang sangat jernih itu telah semakin berkurang dan sungainya juga semakin menyempit, rasanya tak lagi pantas untuk anak-anak bermain-main atau mandi-mandi lagi di sungai itu, yang kelihatan hanya beberapa warga yang memanfaatkannya untuk mencuci pakaian mereka sambil mandi menggunakan gayung yang mereka bawa dari rumah. Pekanan yang tadinya terhampar dengan apa adanya, kini telah menjadi seperti ruko-ruko tempat berdagang yang harus disewa dengan harga yang relatif mahal juga. Jalan-jalan desa semakin tak karuan, berlobang disana-sini, kemungkinan karena seringnya truk-truk pengangkat sawit dengan muatan yang sangat berat lalu-lalang di Desa tersebut. 

Hasil gambar untuk truk pengangkat sawitHasil gambar untuk truk pengangkat sawit

Tapi apa boleh buat, warga membutuhkannya untuk mengangkat hasil ladang mereka. Pelan dan lambat jalanan itu bisa terperbaiki, itupun jika kepala desanya (pangulu) cepat tanggap dengan kondisi infrastruktur desanya. Orang-orang tak lagi terlihat begitu ramah dengan tegur sapanya, karena banyak kesibukan, untuk tetap menjaga hubungan yang baik, maka kalaupun mereka tak menegur, aku yang duluan harus menegur mereka untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Terlihat beberapa pemuda desa yang seringkali menjadi buruh para toke-toke sawit dan hidup di atas truk-truk mereka untuk mencari penghidupan. Mereka tak lagi mengerjakan sawah bersama orangtua mereka, karena sawah-sawah yang tertata indah yang pernah kulihat dulu, telah sirna dan berubah menjadi kebun-kebun sawit yang mereka anggap lebih menjanjikan kesejahteraan.
Ketika aku berada di rumah orang tuaku, aku terkejut melihat galon-galon air mineral berbaris di dapur. Aku menanyakan untuk apa galon-galon itu, dan ternyata galon-galon itu adalah untuk diisi air minum dengan cara isi ulang yang dijual oleh beberapa pedagannya di kampung itu atau untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang membutuhkan air bersih. Ini berarti bahwa air di Desa atau di kampung itu sudah tidak lagi dipercaya oleh masyarakat setempat untuk dikonsumsi sebagai air minum, sehingga masyarakat sudah banyak yang menggunakan air isi ulang untuk kebutuhan rumah tangganya. Udah kaek Kota-kota ya...
Kemana alamku yang dulu itu? Kemana pohon-pohon yang terkesan angkuh dan besar-besar itu? Kemanakah sungai-sungai nan jernih dan menyegarkan itu? Kemana masyarakat kampung yang selalu tersenyum dengan tegur sapa yang ikhlas itu? Kemana itu semua? Seperti inikah Hasil dari Globalisasi dan Modernisasi itu???

Hasil gambar untuk globalisasi dan modernisasi

Mengenal Grandslam

Salah satu cabang olahraga yang memiliki paling banyak turnamen kelas dunia adalah Tenis Lapangan. Beberapa opini masyarakat mengatakan ba...