Tuesday, 27 August 2019

Amanatku sebagai Pembina Upacara


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua.

Anak-anak sekalian...
Satu hal yang patut kita syukuri adalah bahwa kita masih diberikan kesehatan oleh Allah SWT, Tuhan yang maha Esa, karena dengan modal itulah kita masih bisa terus melanjutkan proses pendidikan kita, dan semoga kesehatan yang ada pada diri kita ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk terus menggali ilmu untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Anak-anak sekalian...
Mari kita fokuskan keberadaan kita di sekolah ini untuk belajar. Belajar berbagai hal, keilmuan, nilai-nilai, etika, sopan santun, ketrampilan, olahraga dan lain sebagainya. Harus kita sadari bahwa sekolah ini tidak semata-mata belajar tentang keilmuan, tapi juga etika, sopan santun, berinteraksi dengan baik dengan orang lain dan sejenisnya. Hal itulah yang menyebabkan kurikulum pendidikan nasional saat ini memiliki Kompetensi inti pertama dan kedua, yaitu kompetensi religi dan kompetensi sosial. 

Anak-anak sekalian...
Disetiap sekolah biasanya memiliki budaya sekolah, contoh bersalaman jika ketemu, itu sudah jalan, bagus. Tersenyum ketika bertemu orang yang lebih tua, itu sudah jalan, bagus. Bagaimana dengan budaya terlambat?Buang sampah pada tempatnya? Belum! Kita masih memiliki budaya buang sampah sembarangan. Susah ya, cuma persoalan buang sampah Lo...mental kita belum baik dalam persoalan itu. Bagaimana negeri ini berangkat menuju negara maju/modern? Maka saya boleh dong berhipotesa bahwa salah satu indikator negara modern adalah bahwa masyarakatnya sudah mampu membuang sampah pada tempatnya. Maka, selama kita belum mampu buang sampah pada tempatnya maka kiranya agak susah negeri ini berangkat dari negara transisi ini menuju negara maju/modern.
Seorang seniman Taman Budaya Sumatera Utara, bernama Winarto Kartupat pernah bercerita ketika ia berada di Malaka (Malaysia). Sehabis tampil di sana ia bersama seorang temannya duduk-duduk di sebuah lapangan. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri dengan maksud ingin merokok. Karena mereka tak melihat ada orang maka merekapun merokok. Setelah rokok mereka habis, maka Winarto meletakkan puntung rokoknya di dekat kakinya dan memijakkannya agar mati. Beberapa menit kemudian, tanpa disangka, seorang tukang bersih-bersih datang dan mengutip puntung rokok dari bawah kaki si Winarto itu tanpa marah. Betapa malunya si Winarto waktu itu, dan semenjak itu, ia tak lagi sembarangan untuk merokok di luar area merokok. Nah, cerita itu menunjukkan bahwa mereka tak perlu menghukum orang dengan kekerasan fisiknya, tapi cukup dengan menyentuh budaya malunya. Seorang yang bermental baik mungkin tepat dengan cara itu, tapi jika memang mentalnya bobrok, cara itu tentu tidak cukup efektif. Bagaimana dengan kita?

Anak-anak sekalian...
Sistem pendidikan yang dikonstruksi (dibangun) oleh pemerintah ini sebenarnya sudah cukup baik. Tetapi perlu diingat bahwa sistem pendidikan yang baik juga harus didukung oleh semua sub sistem (unsur-unsurnya), peraturannya, sarana dan prasarananya, tenaga pendidiknya, atau siswanya. Jika satu saja dari unsur itu tidak baik atau terganggu, maka yang namanya sistem tidak akan berjalan dengan baik. Untuk itu anak-anak sekalian, mari kita bersinergi menciptakan sebuah ilklim pendidikan yang sehat dan baik. Kita tentu tidak menginginkan berada pada sebuah institusi pendidikan yang tidak mendidik. 

Semoga amanat ini bermanfaat,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat Pagi.

Monday, 26 August 2019

Kampung Orang tuaku telah berubah (Perubahan Sosial budaya)

Penulis: Ikhwan Rivai Purba

Dulu aku sering datang ke Kampungku dengan senang dan tak merasa ada hal-hal yang perlu aku takuti dan khawatirkan. Aku masih sering berjalan ke sana kemari dengan jalan kaki dan melintasi berbagai pepohonan nan rindang. Sawah-sawah masih terbentang luas di antara jalanan yang aku lalui. Orang-orang yang memiliki sawah masih terlihat membersihkan sawah-sawah mereka dengan penutup kepala dari topi jerami dan beberapa wanita dengan kain sarung yang dibalutkan di kepalanya. 
Hasil gambar untuk desa Pematang Bandar
Pohon-pohon Durian yang tinggi menjulang masih sangat sering aku temui di setiap aku berjalan-jalan di kampung itu. Tepatnya, Desa itu bernama Pematang Bandar yang kini telah menjadi kecamatan dan Desa Sibolatangan. Dua desa yang sering sekali aku jalani waktu itu memberikan banyak kisah yang tak mungkin bisa aku lupakan sampai hari ini.
Hasil gambar untuk pohon durian
Perjalan dari satu Desa ke Desa yang satunya lagi jarang aku dan saudaraku tempuh dengan kendaraan, tetapi kami lebih senang berjalan kaki, karena di setiap perjalanan kami sering melakukan banyak hal. Misalnya di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk mengambil kelapa muda yang enak sekali rasanya, satu diantara saudaraku yang pandai memanjat kelapa menjatuhi kelapa yang masih muda-muda dan segar ke bawah dan kami belah dengan semangat untuk mengambil airnya. Satu hal yang menarik adalah ketika kami akan meminum air kelapanya, sepupuku yang kebetulan tinggal di Desa tersebut memotong bambu yang berukuran kecil dan menjadikannya seperti pipet, lalu kami gunakan untuk menyedot air kelapa yang sudah dibolongi untuk diminum airnya, tanpa kami berfikir apakah di dalam bambu tersebut bersih atau tidak, yang penting "kipas tross"...Glek,glek,glek...suara air kelapa itu kami minum dengan semangatnya. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan beramai-ramai dengan teman-teman dan saudara sambil tertawa-tawa dan menceritakan berbagai hal yang saling nyambung di antara kami.

Belum berhenti sampai di situ, belum lagi kami sampai ke Desa yang kami tuju, kami singgah kembali ke Sungai pinggiran yang berada di antara pohon-pohon besar yang rindang dan pohon-pohon bambu yang tinggi-tinggi. Jangan bayangkan sungai itu seperti sungai besar dan panjang seperti sungai Ular di perbatasan Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Sungai itu tidak terlalu besar dan berada di antara bebatuan yang besar dan memiliki air yang sangat jernih. Setiap mata memandang ke air itu, maka apa yang ada di bawah air itu kelihatan semuanya, pasir-pasirnya, batu-batu kecil, bahkan ikan-ikan kecil yang berenang-renang di dalam air tersebut, tetapi ikan tersebut susah sekali untuk diambil, karena geraknya yang sangat cepat. Selain itu, batu-batu yang ada di pinggiran sungai itu ada yang besar, ada yang kecil, ada yang meninggi ke atas, ada yang saling berhimpit, dan di antara celah batu tersebut ada yang mengeluarkan air yang sangat jernih. Sepupuku bilang bahwa air itu dari dalam batu dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Karena aku kurang percaya, maka aku suruh dia untuk meminumnya dan ia segera mengambil air itu dengan tangannya dan meminumnya di depanku. Karena sudah percaya akupun tak mau kalah lalu menampung air itu dengan tanganku dan segera meminumnya. Rasanya...waaaaah...segar sekali. Aku, saudaraku dan temanku terus bermain air di sungai yang terlalu besar itu tetapi memiliki air yang sangat jernih itu. Orang-orang Kampung setempat sambil  lewat dan melihati kami sambil tersenyum ramah dan membiarkan kami terus bermain air. 
Hasil gambar untuk Sungai Desa jernih
Gambar Ilustrasi

Tanpa mengeringkan lebih dahulu badan kami dengan handuk, kami keluar dari sungai dan melanjutkan perjalanan ke Desa yang kami tuju. Di jalan pakaian kami kering sendiri dihembus angin. Apalagi ketika musim durian tiba, aku selalu singgah ke ladang keluargaku untuk menyantap durian mereka yang masih sangat bagus kualitasnya, buahnya besar-besar dan jarang sekali yang rusak. Pohon durian masyarakat kampung masih sangat banyak dan besar-besar. Begitu juga dengan pohon durian Atokku (baca : kakek), bahkan aku sering tinggal di sana ketika hari libur untuk membantunya menjaga buah durian miliknya, dan sambil menjaganya aku bebas memakan buah durian itu sepuasku. Setelah selesai memakan buah durian rasa hauspun datang dan aku disuruh untuk mengambil jerigen (wadah) untuk mengambil air di sungai dari celah-celah batu yang memancarkan air, dan air itulah yang kami minum bersama-sama.

Di perjalanan aku sering bertemu dengan orang-orang setempat yang juga sedang berjalan kaki menuju tujuannya masing-masing. Setiap kali berpapasan mereka selalu menegurku dan sepupu-sepupuku, walau sekedar basa-basi, tapi aku tau bahwa itu adalah bentuk interaksi yang ramah dan merasa bahwa mereka warga yang baik. Jarang aku temui kendaraan yang lalu lalang di Desa tersebut. Rumah-rumah yang kulewati rata-rata masih sangat sederhana dengan atap rumbia yang katanya tidak memancarkan panas matahari ke dalam ruangan rumah. Hanya ada juga beberapa rumah yang sudah menggunakan seng sebagai atap rumahnya. Setiap hari sabtu Desa Pematang Bandar itu selalu ada "Pekanan", kalau istilah saat ini adalah pajak/pasar, hanya saja pekanan itu hanya dilakukan seminggu sekali. Tempatnya hanya beralaskan tanah dan terpal-terpal sebagai atapnya. Di situlah warga menjual semua yang bisa ia jual untuk mencari keuntungan ekonomi tambahan, misalnya mereka menjual pisang hasil ladangnya, menjual, durian atau buah-buahan lain hasil ladangnya,Ikan hasil kolamnya, walaupun ada juga yang menjual bahan-bahan lain seperti buku, pakaian, sembako dan lain sebagainya, tetapi biasanya yang seperti itu adalah orang-orang luar desa yang ikut berdagang di pekan tersebut. Suasana dan pengalaman itu menjadi catatan tersendiri yang indah dalam perjalanan hidupku.

Kini...
Ketika aku kembali pulang ke kampung orangtuaku, ada warna dan suasana yang jauh berbeda dengan apa yang aku ceritakan di atas. Aku tak pernah lagi berjalan dari Desa Pematang Bandar ke Desa Sibolatangan, karena terik panas sudah mulai menyiksa tubuh tanpa ada penghalang-penghalang panas.

Hasil gambar untuk pohon durianHasil gambar untuk pohon durian

Selain itu Debu-debu jalanan serta asap-asap kendaraan masyarakat sudah mulai sangat terasa, terutama dari truk-truk beberapa toke sawit di daerah itu yang selalu hilir mudik mengambil hasil kebun para warga. 
Aku yang dulu bisa dengan bebas memakan buah durian yang tidak hanya yang dimiliki oleh keluargaku tapi juga milik orang lain yang sering menyuruh singgah untuk merasakan durian mereka karena itu adalah bagian dari ketidaksombongan mereka,kini aku harus membeli durian yang beberapa masyarakat jual di pinggiran jalan dengan harga yang relatif mahal, karena pohon durian yang sudah sangat jarang. Karena rinduku pada rasa durian daerah itu, akupun membelinya beberapa buah. Setelah aku membelahnya maka kualitas buah durian itupun ikut berubah, terkesan kering, dan sesekali terlihat banyak kehitaman, bahkan kurang masak. Hal itu tentu tidak terjadi begitu saja. Menurut warga setempat itu disebabkan oleh semakin banyaknya sawit-sawit yang kini telah menjadi salah satu usaha andalan warga setempat, sehingga kualitas tanah juga semakin berkurang dihisap oleh "pohon-pohon rakus" itu. 
Hasil gambar untuk pohon sawit di pinggir jalan
Hempasan ekonomi dan tuntutan kebutuhan ternyata harus merenggut kerindangan pohon-pohon durian yang besar-besar itu. Cara pandang lain telah menyentuh masyarakat dan dengan segera mereka menjadikan kekokohan dan menjulangnya batang-batang durian itu menjadi komoditi-komoditi sesaat untuk keperluan para "kapitalis" dengan cara mengambil batang-batang durian itu untuk dijadikan papan, broti atau keperluan-keperluan lainnya. Satu persatu masyarakat mulai menumbangkan pohon-pohon duriannya dengan alasan ekonomi, dan ada juga yang dengan alasan bahwa buah duriannya semakin tidak baik kualitasnya, jadi tidak perlu lagi dipertahankan.

Aku coba untuk mengambil air dari celah-celah batu yang dulu pernah aku minum langsung, tapi air itu telah hilang dari sana, begitu juga dengan air sungai yang sangat jernih itu telah semakin berkurang dan sungainya juga semakin menyempit, rasanya tak lagi pantas untuk anak-anak bermain-main atau mandi-mandi lagi di sungai itu, yang kelihatan hanya beberapa warga yang memanfaatkannya untuk mencuci pakaian mereka sambil mandi menggunakan gayung yang mereka bawa dari rumah. Pekanan yang tadinya terhampar dengan apa adanya, kini telah menjadi seperti ruko-ruko tempat berdagang yang harus disewa dengan harga yang relatif mahal juga. Jalan-jalan desa semakin tak karuan, berlobang disana-sini, kemungkinan karena seringnya truk-truk pengangkat sawit dengan muatan yang sangat berat lalu-lalang di Desa tersebut. 

Hasil gambar untuk truk pengangkat sawitHasil gambar untuk truk pengangkat sawit

Tapi apa boleh buat, warga membutuhkannya untuk mengangkat hasil ladang mereka. Pelan dan lambat jalanan itu bisa terperbaiki, itupun jika kepala desanya (pangulu) cepat tanggap dengan kondisi infrastruktur desanya. Orang-orang tak lagi terlihat begitu ramah dengan tegur sapanya, karena banyak kesibukan, untuk tetap menjaga hubungan yang baik, maka kalaupun mereka tak menegur, aku yang duluan harus menegur mereka untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Terlihat beberapa pemuda desa yang seringkali menjadi buruh para toke-toke sawit dan hidup di atas truk-truk mereka untuk mencari penghidupan. Mereka tak lagi mengerjakan sawah bersama orangtua mereka, karena sawah-sawah yang tertata indah yang pernah kulihat dulu, telah sirna dan berubah menjadi kebun-kebun sawit yang mereka anggap lebih menjanjikan kesejahteraan.
Ketika aku berada di rumah orang tuaku, aku terkejut melihat galon-galon air mineral berbaris di dapur. Aku menanyakan untuk apa galon-galon itu, dan ternyata galon-galon itu adalah untuk diisi air minum dengan cara isi ulang yang dijual oleh beberapa pedagannya di kampung itu atau untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang membutuhkan air bersih. Ini berarti bahwa air di Desa atau di kampung itu sudah tidak lagi dipercaya oleh masyarakat setempat untuk dikonsumsi sebagai air minum, sehingga masyarakat sudah banyak yang menggunakan air isi ulang untuk kebutuhan rumah tangganya. Udah kaek Kota-kota ya...
Kemana alamku yang dulu itu? Kemana pohon-pohon yang terkesan angkuh dan besar-besar itu? Kemanakah sungai-sungai nan jernih dan menyegarkan itu? Kemana masyarakat kampung yang selalu tersenyum dengan tegur sapa yang ikhlas itu? Kemana itu semua? Seperti inikah Hasil dari Globalisasi dan Modernisasi itu???

Hasil gambar untuk globalisasi dan modernisasi

Sunday, 30 June 2019

Cerpen "Kita akan tetap bersama" (bagian I)

Poooom....poooom...suara kapal feri yang akan menuju Tomok terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin kuat terdengar mendekati daratan parapat tempat orang-orang menggunakan tikar di tepi-tepi perairan danau toba tersebut. Semua mata mengarah ke kapal yang dekat dengan daratan sambil suara keras dari sirene kapal itu beberapa kali terus berbunyi sebagai tanda bahwa siapa orang-orang yang mau pergi ke Tomok dipersilahan memanggilnya dan kapal akan merapat untuk menjemputnya. Terutama anak-anak sangat tertarik dengan suara klakson kapal itu, dan memancing mereka untuk merayu orang tuanya menaiki kapal tersebut walau tak tau kemana kapal itu akan berangkat.

Sebuah keluarga yang sedang berada di daratan, dengan 3 orang anak beserta ayah dan ibunya juga tidak berbeda dengan yang lain, menoleh ke arah kapal yang sedang berkeliling di area tempat orang-orang berkumpul. Tampak oleh anak yang tertua kelas 6 SD orang-orang yang sedang berada di atas kapal dengan santai duduk dan terhembus oleh angin yang mengibas rambutnya. "wah, pasti enak sekali di atas kapal itu" fikir anak itu dalam kepalanya. Sebut saja Tia nama anak itu. Tapi Tia mikir dua kali untuk menyuruh ayah dan ibunya untuk naik ke kapal itu, karena ia beranggapan bahwa pasti ongkosnya sangat mahal, sedangkan ayah dan ibu membawa kami (Tia dan 2 adiknya) ke Parapat saja itu sudah syukur, ayah dan ibu pasti sudah berjuang keras mengumpulkan uang untuk kami sekeluarga bisa sesekali bertamasya ke sini. Fikiran itu bergejolak dalam kepala Tia. Tia memang anak yang baik. Di rumah ia selalu membantu ibunya sepulang sekolah, menjaga adiknya yang  masih belum sekolah dan kelas 3 SD yang nomor dua. Sementara ibunya menjadi tukang masak di salah satu rumah makan di daerahnya. Ayahnya seorang tukang bersih-bersih (cleaning service) pada sebuah sekolah.

Tia, tegur ibunya, saya mak (panggilan Tia kepada ibunya). Kenapa nak? Mikirin apa kamu? Gak ada kok mak, cuma lihat kapal itu aja, jawab Tia sambil tersenyum. Kamu kepingin naik kapal itu ya? Pertanyaan ibunya seolah tak tega melihat anaknya hanya membayangkan enaknya naik kapal itu. Enggak kok mak, Tia cuma lihat aja karena sirenenya kuat sekali, jadi ya Tia melihatnya. Hehe....ibunya tertawa pelan sambil memahami karakter anaknya yang sangat penuh pengertian kepada orang tuanya. Nak, kita naik kapal itu yok....rayu ibunya kepada Tia. Tia nggak kepingin lo mak, lagian ongkos kapal itu kan pasti mahal mak, kita di sini ajalah, kan di sini juga sudah enak, sama ayah dan adik-adik. Tengok tu mak, adik ketawa-ketawa terus main sama ayah, gak mesti naik kapal kan kita baru bisa bahagia, jelas Tia kepada ibunya. Semakin terharu ibunya mendengar jawaban anaknya yang seolah punya fikiran jauh melebihi usianya. 
Tia...mamak dan ayah sudah mempersiapkan uang kok untuk kita jalan-jalan, kami udah kumpulkan duit memang sengaja untuk kita jalan-jalan bertamasya, untuk kalian anak ayah dan mamak. Jadi buat apa mamak dan ayah udah ngumpulin duit banyak-banyak, tapi anaknya gak mau diajakin jalan-jalan, padahalkan duit ayah dan mamak itu untuk buat kalian bahagia dan senang-senang. Lagipula ini juga gak setiap hari kok, mamak juga udah seumuran ini gak pernah naik kapal seperti itu. Ayah juga udah setuju kok, kami udah bicarakan di rumah bakal naik kapal ke Tomok membawa kalian. Jelas ibunya kepada Tia. Padahal sebenarnya tidak pernah ada wacana naik kapal di Parapat, hanya saja si ibu sangat iba melihat anaknya dan membayangkan pekerjaan anaknya itu membantu di rumah. Gak apalah, fikir ibunya, masih ada kok sedikit uang lagi yang bisa digunakan untuk kami sekeluarga menikmati kapal yang akan berjalan di danau nan indah itu. Rasa sayang ibu kepada anaknya itu membuat ibunya semakin berkeras untuk membawa anaknya naik kapal.
Angin menghembus agak keras menyentuh pohon-pohon yang berada di sekitaran danau Toba itu, cuaca masih agak panas membuat orang-orang dan Tia merasa sangat sejuk dan angin itu seperti membisikkan ke otak Tia "naiklah ke kapal itu, mumpung mamak kamu mengajak kamu, kapan lagi kamu akan naik kapal seperti itu?" dan sebentar itu Tiapun menjawab, Ya sudah mak, kalau mamak kepingin, Tia dan adik ikut kan? Ya iyalah nak, masak ibu pergi sendiri. Kita akan naik kapal bersama-sama dengan adik dan ayah. 

Ayah Tia melambaikan tangannya ke atas dan menggoyang-goyangkannya ke arah kapal yang sedang berkeliling di area itu, lalu klakson kapal berbunyi dan mendekat ke pinggir daratan tempat Tia dan keluarganya berada. Senang sekali hati Tia ketika kapal itu mulai mendekati mereka, tak kepalang tanggung bahagianya Tia karena keinginan besarnya itu akhirnya kesampaian juga. Para pekerja kapal itu segera menurunkan papan ke daratan sebagai tangga para penumpang yang ingin masuk ke dalam kepal. Terlihat juga beberapa keluarga akhirnya juga memutuskan untuk ikut menaiki kapal tersebut, karena anak mereka juga merengek-rengek untuk ikut naik ke kapal.
Hasil gambar untuk kapal feri parapat

Ayah Tia menggendong adiknya yang paling kecil, sedangkan Ibunya menggandeng adik Tia dan Tia berjalan sendiri melalui tangga yang sudah dipasang oleh anak buah kapal itu. Kemudian Ayah mengambil posisi tempat duduk di pinggir dengan maksud agar lebih leluasa memandangi alam yang akan mereka lalui nanti sambil memangku adik Tia yang paling  kecil. Di samping ayah, ada Tia dan adiknya, sedangkan ibunya berada di samping mereka. Pancaran wajah yang sangat gembira terpancar dari mereka masing-masing, termasuk juga ibu dan Tia yang dari awal memang sangat ingin naik ke kapal tersebut. Poooom....poooom.....kembali klakson kapal itu berbunyi untuk berkeliling sekali lagi mencari penumpang yang ingin naik lagi, karena masih ada sedikit bangku yang bisa ditempati oleh para penumpang, dan akhirnya kapal itupun penuh oleh para penumpang yang akan menuju Tomok melewati danau Toba nan Indah itu.

Kapalpun mulai berjalan menuju tujuannya....
Angin berhembus mulai kencang menerpa para penumpang kapal. Begitu juga dengan Tia yang tersenyum bahagia menyambut terpaan angin yang sejuk, membelai rambutnya, menyentuh kulit wajahnya dan menghenbus rambutnya yang tergerai panjang. Sejukk sekali. Ayahnya beberapa kali menunjuk-nunjuk ke beberapa arah untuk menjelaskan sesuatu kepada adik paling kecil. Beberapa pertanyaan ringan diajukan adik Tia kepada ibunya sambil menikmati terpaan angin yang kencang. Ibu menjelaskan saja apa yang dia tau dan sesekali memeluk anaknya itu dengan kasing sayang yang sangat. Tia cuma terdiam memandangi alam dan danau biru yang indah itu. Sesekali ia memandangi orang-orang yang juga berada di dalam kapal itu, semua tersenyum senang. Setelah kapal berjalan sekitar 20 menit, kapal itupun mendekat ke arah pinggiran danau toba. Kelihatan di sana ada batu- batu yang bergantung ke bawah. Konon kabarnya batu itu memiliki legenda tersendiri bagi orang-orang sekitar dan cerita itu juga sudah tersebar hampir ke seluruh Indonesia. Beberapa menit kapal itu berhenti untuk memberikan waktu kepada para penumpang menikmati pemandangan di sekitar pinggiran danau Toba itu dan sesekali awak kapal menceritakan kisah batu gantung itu. Tia juga turut mendengarkannya.

Cuaca di langit kelihatan mendung...nakhoda kapal itupun segera melanjutkan perjalanan yang masih harus ditempuh setengah perjalanan lagi. Awan mulai agak gelap dan memberikan tanda akan segera turun hujan. Angin semakin kencang bertiup dan beberapa penumpang sudah mulai merasa kedinginan dan memakai jaket yang mereka bawa. Tia mulai merapat ke ibunya, begitu juga adiknya. Ayah memeluk adik paling kecil agar tidak kedinginan. 
Mak, dingin sekali ya mak? Iya nak, sepertinya hujan akan turun. Apa masih jauh mak? Lumayan nak, sahut ibunya tanpa bisa memberikan jawaban pasti berapa jauh lagi menuju daratan Tomok. Angin semakin kuat dan hujanpun mulai turun. Hembusan angin itu membawa air hujan masuk ke dalam kapal dan membasahi beberapa penumpang yang ada di dalam kapal, terutama yang berada di pinggir kapal, begitu juga yang berada di tengah juga terkena air hujan yang dibawa angin yang keras tadi. Ayah memeluk kedua anaknya dan ibu memeluk Tia, mereka berdekapan melawan dingin yang mulai menohok tubuh mereka. Begitu juga dengan penumpang lain. Karena kencangnya angin, kapalpun mulai bergoyang, ditambah ombak yang dibawa angin mulai menghantam dinding kapal bagian bawah. Suara berteriak mulai terdengar dari mulut penumpang "Aaaaaaaaaaa....", teriak seorang penumpang yang mulai terkejut dan ketakutan. "Astaghfirullaaaaaahh", kata seorang penumpang ketika ombak menghantam dinding kapal mereka...
Tia mulai ketakutan, tapi ayah menenangkan mereka, Tenang nak, sebentar lagi juga anginnya berhenti. Adik kecil dan kakaknya mulai menangis melihat teriakan penumpang lain, seolah sedang tersugesti dan ikut merasakan ketakutan itu. Ibu Tia juga tak bisa membohongi wajahnya yang menggambarkan ketakutan yang luar biasa..

Angin tak juga berhenti dan hujan semakin deras, suasana berubah menjadi sangat mencekam, dimana tak ada kapal lagi yang sedang lewat sekedar untuk menyapa mereka. Cuaca tak lagi terang tapi berubah seperti wajah Ular cobra yang sedang bersiap menyerang mangsanya. Angin yang tadinya sangat indah dan membelai mesra tubuh mereka, kini berubah menjadi ribuan anak panah yang datang menusuk-nusuk tubuh mereka....dingiiiiiin sekali, ditambah air hujan yang menambah keganasan angin tadi. Ombak mulai berevolusi menjadi ikan-ikan Hiu ganas yang menghantam kapal yang tidak besar itu, seolah sedang kelaparan dan ingin menjatuhkan santapan yang sedang berada di atas kapal, lapaar dan ingin segera menyantapnya...mengerikan sekali. 
Ibu Tia mulai menangis sambil terus mengucapkan kata-kata do'a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi keselamatan. Beberapa penumpang bergerak ke sana kemari mencari pelampung yang ada di kapal itu, tapi tak kunjung ditemuinya. Awak kapal memperingatkan para penumpang untuk tidak berjalan-jalan dan tenang di bangkunya, karena akan mengganggu keseimbangan kapal. Buarrrrrrrrr......Ombak kembali menghantam kapal, percikannya membasahi para penumpang.... Allahuakbar...teriak beberapa orang penumpang yang ketakutan. Beberapa orang yang kristiani terlihat menggenggamkan tangannya sambil berdo'a kepada Tuhannya....Suara tangisan tak henti-hentinya terdengar di kapal itu. Belum lagi semua tangisan itu berhenti, sebuah ombak besar kelihatan mendekati kapal.....semua penumpang menjerit sekuat-kuatnya....awak kapal hanya bisa berteriak...."pegangaaaaaaaaaan....pegangaaaaaaaaan", sambil ia juga memegang bagian pintu masuk ke nakhoda kapal.
Buaaaaaarrrrrrr......suara keras ombak itu mengantam kapal dengan kerasnya, seolah Hiu yang tak lagi akan memberikan kesempatan kepada mangsanya untuk selamat. Kapal miring ke kiri, tepat di pinggir ayah Tia duduk. Ayah Tia berpegangan kuat di pinggir kapal untuk menahan anak dan istrinya yang terdorong ke kiri...kapal tak juga kembali normal, malah semakin miring ke kiri dan akan segera terbalik ke kiri. 
Hasil gambar untuk kapal feri parapat terbalik

Ayah sekuat tenaga menyanggah dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memeluk kedua anaknya yang masih kecil....Tia menjerit sekeras-kerasnya, "Maaaaaak..." karena Tia tak lagi melihat ibunya ada di dekatnya. Derai airmata terus mengalir di pipi Tia, tak lagi bisa dibedakan antara air mata dan air danau yang membasahi mereka... "Pegangan Tiaaaaaaa.." jerit ayahnya kepada Tia...dan belum lagi sempat Tia menjawabnya, seorang penumpang dari atas tersungkur ke bawah dan menghantam ayah Tia...Brakkkkkk!! Ayah Tia hanya manusia yang memiliki keterbatasan tenaga, tangan kirinyapun patah menahan beban yang datang tiba-tiba itu, dan merekapun terjatuh ke air....Tia yang masih berpegang kuat pada bangku kapal itu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, "Ayaaaaaaaaaah....adeeeekk....mamaaaaaaaak..." teriak Tia yang hampir tak terdengar karena jeritan orang-orang yang sedang panik di kapal itu. Dipandanginya ayahnya tenggelam dan melepaskan pelukannya, adik-adiknya hanya bisa menggerak-gerakkan kaki dan tangannya di dalam air, tak bisa bersuara lagi karena air memasuki hidung dan mulut mereka...ibunya yang ternyata lebih dulu terhempas penumpang lain dan tenggelam di air hanya mampu berdo'a dalam hatinya untuk keselamatan keluarganya....
Tak ada kata-kata lagi yang bisa diucapkan Tia untuk melampiaskan kesedihan hatinya yang terlalu, ia hanya membisu, fikirannya melayang kembali ke belakang, saat ia menjaga adiknya ketika ibunya bekerja. Saat ia menyiapkan nasi di meja makan untuk mereka makan bersama, saat ia memijit-mijit kaki ibunya yang sedang istirahat, saat ia mengganggu adik-adiknya agar adiknya tertawa.....saat ia membuatkan teh manis ketika ayahnya pulang kerja....saat ia memeluk ibunya kala ibunya lagi sedih, saat ia menyuapi adiknya kalau adiknya malas makan, saat mereka akan berangkat tamasya ke Parapat dan saat mereka bergembira akan naik kapal, dan lain sebagainya. Tia tak peduli lagi kejadian yang ada di sekelilingnya, tangannya terus berpegangan pada kursi yang melekat pada lantai kapal sambil airmatanya terus mengalir tanpa henti...

Brakk! tiba-tiba sebuah tangan menyambarnya dan membawanya melompat ke air...Lamunan Tia seketika itu terhenti dan terkejut karena tubuhnya segera terendam air dengan tangan yang memegang erat tubuhnya. Ternyata seorang awak kapal yang menerjang dan memeluknya ke dalam air dengan sebuah pelampung untuk mereka bertahan di danau yang sangat dingin waktu itu. Kapal pun terbalik menumpahkan semua yang ada di atasnya...Beberapa awak kapal kelihatan memegang satu orang yang bisa mereka selamatkan, dan semua masih tergolong anak-anak, yang lain harus berusaha menyelamatkan diri masing-masing, walaupun kecil kemungkinan untuk selamat, karena pertolongan tidak segera datang.
Hasil gambar untuk kapal feri parapat

Awak kapal itu tetap mengapung membawa Tia menjauh dari kapal sambil menanti pertolongan tiba. Tia tetap terdiam dan menyerahkan sepenuhnya hidupnya kepada Tuhan. Mata Tia tak lepas memandangi kapal yang semakin lama semakin tak tampak di permukaan air. Dalam hatinya ia hanya berkata "Kita akan tetap bersama Ibu, ayah, adik-adik", sambil airmatanya kembali berderai di pipinya...

(bersambung ke bagian 2)
catatan:
1. Kisah ini hanyalah fiktif belaka
2. foto-foto yang terlaampir hanya sebuah ilustrasi.


Amanatku sebagai Pembina Upacara

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua. Anak-anak sekalian... Satu hal y...