Tuesday, 22 January 2019

Potensi Pariwisata dan Sex


Potensi Pariwisata ditinjau dari perspektif sex


Pendahuluan
            Undang-undang No 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan. (Salah satu tujuan penyelenggaraan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, juga memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta mendorong pembangunan daerah). Untuk itu sudah selayaknya pariwisata dapat dijadikan alternative penggerak perekonomian hingga sedemikian rupa menjadi sumber pendapatan bagi setiap daerah yang memiliki potensi untuk menyelenggarakannya, dalam upaya memperoleh atau meningkatkan pendapatan daerah.
            Proses pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan peningkatan “sadar wisata” masyarakat. Tugas aparat pemerintah adalah untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terciptanya peran serta masyarakat dengan cara-cara yang mudah difahami dan dilaksanakan oleh masyarakat. Sadar wisata dikalangan masyarakat tidak tumbuh dengan sendirinya, masyarakat lebih mudah memahami apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Pembangunan pariwisata yang manfaatnya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat akan menciptakan iklim yang lebih baik bagi tumbuh dan berkembangnya sadar wisata di kalangan masyarakat.
Wacana tentang pariwisata seringkali menjadi perbincangan yang tak habis-habisnya di Negara tercinta Indonesia ini. Potensi pariwisata itu dilihat tentunya pertama sekali dari potensi sumber daya alamnya. Dalam arti kata alam yang ada dianggap memberikan daya tarik tersendiri bagi pemandangan mata. Memang ada beberapa criteria agar sebuah daerah pariwisata itu dapat maju dengan baik. Di antaranya adalah, ada matahari (sun), ada pasir (sand), dan seks (sex), di samping air dan alam. Walaupun begitu, tidak selamanya potensi alam yang baik itu menjamin sebuah kepariwisataan yang baik pula. Hal lain lagi yang sangat dibutuhkan adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui system pengetahuan yang ada pada manusia maka manusia akan dapat merubah apa saja sesuai dengan kemauannya. Singkat kata, budaya manusialah yang menentukan bagaimana alam akan tercipta. Dalam artian bahwa manusia dapat juga melakukan rekayasa terhadap alam, dan tidak selamanya alamlah yang menentukan kebudayaan manusia.
Di daerah Sumatera Utara, ada berbagai tempat yang menjadi daerah pariwisata yang tersebar di beberapa kabupaten. Di antaranya adalah, Danau Toba di Kabupaten Simalungun, Bukit Lawang di Kabupaten Langkat, Sipiso-piso di Kabupaten Karo, dan beberapa tempat wisata lain yang lebih kecil di beberapa daerah perkotaan. Daerah- daerah pariwisata ini dalam pandangan pemerintah merupakan sebuah potensi untuk menambah devisa Negara. Untuk itulah pemerintah seharusnya juga memberikan perhatian yang serius terhadap daerah-daerah pariwisata ini, tidak hanya sekedar konsen pada urusan pemasukan atau retribusi yang dapat dihasilkan dari daerah tersebut. Melalui Dinas Pariwisata sebagai perwakilan pemerintah yang paling berkompeten mengurusi permasalahan ini, tentu harus memiliki berbagai program kerja yang dapat meningkatkan lagi potensi-potensi pariwisata yang ada di seluruh Indonesia ini. Salah satu yang paling dekat adalah Bukit Lawang yang terletak di Kabupaten Langkat.

Meninjau daerah Bukit Lawang
a.      Kondisi alam



Wisata bukit Lawang menjadi tujuan wisata andalan di Leuser dikarenakan memiliki daya tarik swasta langka Orang Utan Sumatera semi liar dan panorama hutan hujan tropis. Bukit Lawang atau lebih dikenal sebagai pusat pengamatan Orangutan Sumatera memiliki luas 200ha, berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Dulunya Bukit Lawang merupakan pusat rehabilitasi Orangutan di Bukit Lawang berawal dari program yang dijalankan oleh WWF dan Frankfurd Zoological Society pada tahun 1973.
Saat itu sebagai perintis yaitu Regina Frey dan Monica Borner melihat bahwa kondisi dan situasi Bukit Lawang sesuai untuk dijadikan pusat rehabilitasi orangutan. Pada awalnya pusat rehabilitasi ini hanya dikunjungi oleh para peneliti maupun para konservasionis. Pada perkembangannya kemudian, daerah ini berkembang menjadi Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera dan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Sumatera Utara yang ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara. Tercatat sejak tahun 1972 hingga 2001, bukit lawang merupakan tempat rehabilitasi Orangutan. Dalam kurun waktu ini, 229 orangutan bekas peliharaan yang disita dari perdagangan swasta sudah direhabilitasi di lokasi ini. Bukit Lawang hingga kini diakui sebagai pintu gerbang terbaik untuk menikmati keindahan Taman Nasional Gunung Leuser yang mempesona. Walaupun bukan lagi sebagai tempat rehabilitasi dan pelpasliaran Orangutan, hutan di sekitar kawasan Bukit Lawang masih menyisakan peluang untuk dilakukannya aktivitas wisata dan pengamatan Orangutan Sumatera dan juga spesies tumbuhan dan satwa lainnya.
Pondok-pondok wisata bernuansa alami dengan tarif bervariasi ntara Rp. 100.000 s/d Rp. 500.000 per malam. Fasilitas wisata lainnya yang tersedia berupa restoran / rumah makan, areal camping ground, viewing centre, information corner, visitor centre, terminal, pintu gerbang kawasan, jalan setapak/trail, papan informasi, feeding site dan sampan penyeberangan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan ini telah menjadi daerah tujuan wisata hutan hujan tropis yang cukup dikenal di mancanegara.
Suhu Udara rata-rata 21,1°C – 27,5°C. Kelembaban nisbi 80 - 100%. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Topografi kawasan, landai dan perbukitan dengan kemiringan bervariasi (45 - 90%). Memiliki tipe ekosistem dataran rendah dan bergelombang¹.
Daerah Bukit Lawang terdapat sebuah sungai yang memanjang dari hulu sungai yang diapit oleh hutan-hutan di kiri dan kanannya. Suasana hutan dengan pepohonan yang rindang itu menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi bukit lawang sebagai sebuah tawaran bagi para turis-turis baik local maupun manca Negara untuk dating ke sana. Di samping itu, dalam rimbunnya pepohonan hutan itu terdapat juga hewan-hewan monyet atau orang hutan yang dilindungi oleh beberapa lembaga yang konsen dengan urusan orang hutan. Hal itu menjadi tambahan terhadap daya tarik wisatawan untuk dating ke bukit lawang. Pada dasarnya memang yang menjadi modal utama kepariwisataan bukit lawang adalah sungai ada di sana. Dengan batu-batuan yang ada di sepanjang sungai itu maka dijadikanlah menjadi sebuah tempat selain untuk mandi-mandi para wisatawan dengan keluarganya, juga dimanfaatkan oleh orang-orang setempat untuk membuat perahu-perahu karet sebagai sampan yang dapat digunakan wisatawan mengarungi sungai yang terkesan menantang itu. Kalau saya boleh mengistilahkannya, maka ia dinamakan dengan ‘arung jeram mini’.
      Menurut beberapa informan yang saya wawancarai, sungai yang digunakan oleh para wisatawan itu dahulunya (pra banjir bandang) yang terjadi beberapa tahun yang lalu memiliki lebar yang kurang dari sekarang. Artinya sungai yang ada saat ini lebih lebar dari yang sebelumnya. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk rekayasa manusia terhadap alam. Pelebaran itu dilakukan dengan tujuan agar sungai yang ada itu dapat diatur sesuai dengan kepentingannya. Pada bagian-bagian tertentu, terlihat air sungai itu mengalir lebih deras dibandingkan dengan bagian sungai yang lain. Ini dimaksudkan pada bagian sungai yang deras itu dapat digunakan oleh para pengarung jeram mini untuk menikmati arung jeramnya. Sedangkan pada bagian sungai yang tidak begitu deras, dapat digunakan oleh para wisatawan untuk mandi-mandi atau menikmati air bersama dengan keluarganya, baik itu anak-anak atau para perempuan tanpa khawatir akan hanyut terbawa air sungai.

b.      Meninjau  Ekonomi Rakyat.






Mata pencaharian masyarakat di Bukit Lawang umumnya adalah petani dan Pedagang. Selain itu banyak lagi usaha-usaha yang mereka ciptakan sendiri seperti pemandu wisata lokal untuk pengunjung yang membutuhkan pemandu selama melakukan petualangan di Taman Nasional Gunung Leuser. Selain itu ada juga pondok-pondok penginapan di bukit lawang yang menyediakan pilihan paket-paket wisata yang menarik dengan harga terjangkau.
Sejauh mata memandang, seluruh daerah pariwisata bukit lawang itu tidak lepas dari obyek-obyek yang dimanfaatkan rakyat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi (economic benefit). Dimulai dari kedatangan ke bukit lawang, di sana akan ditemukan kutipan (retribusi) bagi para pengunjung yang masuk ke wilayah pariwisata. Hal itu dapat penulis maklumi sebagai bagian dari pendapatan daerah setempat. Masalah berikutnya adalah kutipan yang dilakukan warga setempat berupa kutipan parkir Rp 10.000 bagi sepeda motor, dan Rp 20.000 bagi mobll. Jumlah kutipan itu sebenarnya telah dikeluhkan oleh para pengunjung dan juga oleh para pedagang setempat. Keberatan para pedagang dengan kutipan itu disebabkan karena jumlah pengunjung dirasakan mereka semakin jauh menurun dibandingkan dengan pengunjung pada saat belum ada kutipan parker itu.
Di sepanjang perjalanan menuju pantai terlihat para pedagang dengan masing-masing jenis dagangannya. Mulai dari dagangan pakaian, makanan, sampai para pencari rezeki berupa permainan judi bola kecil yang digelar di beberapa tempat. Tidak berhenti di situ, warga setempat juga membuat ruang-ruang ganti pakaian dan pengguna harus membayarnya. Begitu juga di pinggiran pantai para penduduk mendirikan gubuk-gubuk kecil tempat para pengunjung berteduh sambil menikmati air sungai. Selain itu tikar juga mereka sediakan dengan membayar sejumlah rupiah bagi para pengunjung yang tidak membawa tikar sendiri. Bahkan untuk jembatan penyeberangan dari sisi pantai yang satu ke sisi pantai yang lain juga dibuat warga setempat, dimana bagi para pengunjung yang akan menyeberang melalui jembatan itu juga harus membayar.
            Kesempatan-kesempatan untuk menggali pendapatan ekonomi yang dibuat masyarakat seolah membutakan mata mereka akan keindahan dan nilai-nilai budaya yang sebenarnya merupakan factor yang cukup penting dalam merekrut para tourist untuk datang ke daerah tersebut. Dari sisi keindahan sebuah daerah wisata tentu pemandangan yang dibuat oleh warga dengan segala bentuk mata pencariannya sangatlah tidak enak dipandang mata. Misalnya para pemain judi bola kecil yang membuka tempat di jalanan dimana para pengunjung lewat. Selain hal ini mengganggu kelancaran jalan, juga menjadi kesan bahwa masyarakat tidak memilki sense of belonging terhadap kenyamanan daerah wisata setempat.

c.       Meninjau Sosial Budaya Masyarakat.
Bukit lawang yang terletak di Kabupaten Langkat. Budaya di daerah Bukit Lawang heterogen, tidak ada yang dominan antara suku Melayu, Karo, Jawa dan Batak. Dalam kajian Kebudayaan Parwisata, diulas tiga hal, yaitu: pertama, wisata budaya sebagai suatu jenis wisata, kedua, pengaruh wisata terhadapa kebudayaan. Hal pertama, wisata budaya diartikan sebagai jenis kegiatan pariwisata yang objeknya adalah kebudayaan. Ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualang. Namun demikan tidak berarti bahwa seorang wisatawan tidak bisa memiliki lebih dari satu program pariwisata. Obyek daya tarik wisata budaya itu dapat berkisar pada, kesenian (seni rupa dan segala bentuk pertunjukan), upacara adat, demonstrasi lain yang bersifat kesenian. Hal inilah salah satunya yang tidak ditemui di bukit lawang.
Mengenai pengaruh wisata atau dampak pariwisata di suatu daerah terhadap sosial budaya sangat terasa, apalagi daerah tersebut menerima pengaruh dengan cepat tanpa ada penyaringan yang ketat terhadap kedatangan wisatawan. Salah satu hal adalah dimana daerah yang dituju merupakan daerah yang lemah dalam bidang ekonomi, dengan sendirinya akan mengikuti perkembangan dan merubah tatanan perekonomian sendiri. Salah satu contoh mengubah mata pencaharian semula yang mereka lakukan secara tradisional menjadi lebih modern.
Masalah tentang dampak pariwisata terhadap sosial budaya selama ini cenderung mangasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial budaya akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi umum, yaitu:
a.      Perubahan dibawa sebagai akibat adanya pengaruh dari luar, umumnya dari sistem sosial budaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;
b.      Perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;
c.       Perubahan tersebut akan membawa pada hegemonisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industry dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.
Menurut pendapat di atas menyiratkan bahwa di dalam melihat dampak pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat setempat, pariwisata semata-mata dipandang sebagai faktor luar yang akan merubah secara pasti terhadap sosial budaya pada masyarakat lokal.

Asumsi di atas tidak terlihat dalam kasus bukit lawang. Bukit lawang sebagai salah satu tempat wisata tidak menunjukkan satu warna budaya tersendiri yang menjadi penarik bagi kedatangan para turis ke sana. walaupun dalam keterangan di atas disebutkan bahwa daerah bukit lawang tidak didominasi oleh salah satu etnis tertentu, tetap saja tidak terlihat salah satu cultural permormance yang ditampilkan dalam arena wisata tersebut. Keseluruhannya berbaur dalam sebuah “budaya umum” yang biasa ada dalam arena wisata.
Dengan demikian jika kita berbicara tentang sebuah perubahan yang diakibatkan oleh wisatawan, maka bukit lawang dalam hal ini masih sangat kecil kemungkinannya mengalami perubahan. Wisatawan mancanegara yang berada di bukit lawang juga dalam observasi penulis tidak begitu besar jumlahnya dibandingkan dengan daerah wisata yang lain seperti Danau Toba. Dengan jumlah yang tidak banyak itu, maka dapat diasumsikan bahwa dampak yang ditimbulkan juga tidak begitu besar bahkan tidak terlihat sama sekali. Yang terlihat dilapangan hanyalah para wisatawan yang mencoba melebur dengan kebiasaan dan budaya yang ada di daerah tersebut.
Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan pariwisata dimanapun tempatnya akan menimbulkan sebuah proses akulturasi dengan dampak terjadinya perubahan nilai-nilai budaya dan akan berpengaruh pula pada perilaku-perilaku individu dalam masyarakat sekitar. Terutama bagi masyarakat sekitar yang yang sering dan mengalami kontak langsung dengan para wisatawan.
Pariwisata yang menekankan pendekatan ekonomi cenderung memberikan peranan utama pada pemerintah atau pemilik modal, dan tujuannya juga ditentukan dan terutama untuk kepentingan mereka. Peranan masyarakat sangat rendah sehingga mereka cenderung sangat patuh dan tidak punya inisiatif karena lebih ditempatkan sebagai obyek daripada sebagai subyek. Sebagai akibatnya, adat istiadat, nilai-nilai, norma-norma, menjadi semakin terkikis. Ritual-ritual suci semakin dangkal dan pertunjukan-pertunjukan seni menjadi semakin tidak berjiwa. Masyarakat menjadi apatis dan kesejahteraan merekapun tidak begitu meningkat. Pengaruh pariwisata terhadap masyarakat (kebudayaan) setempat, harus disadari bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang secara internal terdiferensiasi, aktif dan selalu berubah. Oleh karena itu pendekatan yang kiranya lebih realistis adalah dengan menganggap bahwa pariwisata adalah ‘pengaruh luar yang kemudian terintegrasi dengan masyarakat’, dimana masyarakat mengalami proses menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebudayaannya, atau apa yang disebut sebagai ‘turistifikasi’ (touristifacation)².
PEMBAHASAN
Meninjau “ Sex “ sebagai potensi Pariwisata.
            Dengan Ramainya para wisatawan baik mancanegara ataupun wisatawan lokal yang datang dengan motivasi sendiri-sendiri tentu akan menjadikan masyarakat bukit lawang terus mencari celah dalam rangka mendapatkan keuntungan ekonomi. Selain dari para pedagang kuliner, pakaian dan lain-lain, turut juga hal-hal yang berbau sex menjadi salah satu potensi perekrutan ekonomi tersebut.
            Sepanjang observasi yang penulis lakukan di lapangan terlihat bahwa norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku cenderung hanya berorientasi pada keamanan para pengunjung. Hal-hal lain seperti perilaku pacaran dan seks tidak menjadi sesuatu yang sangat diatur di daerah wisata tersebut. Ini menjadi salah satu peluang bagi masyarakat untuk memberikan pelayanan yang baik kepada para wisatawan yang membutuhkan kepuasan seks. Selain tempat-tempat bagi para pasangan yang ingin melampiaskan kebutuhan biologisnya, juga disediakan pelayanan seks bagi orang-orang yang butuh dan tidak membawa pasangannya.
            Kebebasan berperilaku dalam hal-hal tertentu itu nampak adanya sikap tak perduli terhadap kepentingan masyarakat yang lain. Seperti adanya hotel-hotel atau tempat-tempat menginap dengan segala fasilitasnya dan munculnya para pramunikmat yang siap melayani para tamu yang menginap. Sikap yang tidak perduli itu tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat kawasan wisata bukit lawang. Sehingga seakan-akan dari sikap tak perduli itu menumbuhkan sikap individu-individu yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi. Hal ini penulis lihat dari para warga setempat yang hampir seluruhnya mengerahkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu yang orientasinya adalah ekonomi. Termasuklah dalam hal ini menjadi pelayan bagi kepuasan seks para wisatawan. Masyarakat sekitar cukup mengetahui siapa-siapa dari anggota masyarakatnya yang berprofesi sebagai pramunikmat, dan dengan pengetahuan itu mereka hanya dapat memaklumi saja profesi tersebut sebagai dampak dari lingkungan pariwisata. Terlebih-lebih menggunjingnya, itu jarang sekali bahkan tidak akan mereka lakukan, dengan fikiran bahwa setiap orang memiliki haknya sendiri untuk memilih jalan mana yang akan ia tempuh dalam mencari keuntungan ekonomi. Hanya saja dampak positif yang dapat penulis sampaikan di sini adalah bahwa dengan lingkungan wisata yang mereka hadapi setiap harinya itu justru kan mendorong mereka untuk bekerja lebih keras dalam memperbaiki standar hidupnya. Sedangkan dampak negatifnya selain perubahan perilaku ke arah yang negatif juga akan memunculkan kecemburuan sosial yang dinyatakan dengan tingkat kemewahan para wisatawan di tengah-tengah kemiskinan penduduk lokal, dan tentu kondisi ini dapat merangsang timbulnya tindak kejahatan.
            Di beberapa tempat daerah pariwisata bukit lawang tersebut terdapat banyak penginapan-penginapan dengan harga yang beragam. Letaknya juga berpengaruh terhadap harganya. Seorang kasir sebuah penginapan yang menjadi salah satu informan penulis mengatakan bahwa, di penginapannya itu tidak dilarang membawa pasangan (baca:pacar) untuk menginap di sana. Walaupun di penginapan tersebut tidak menyediakan para wanita yang siap melayani pengunjung yang akan menginap di tempat itu. Walaupun demikian jika pengunjung memang berniat untuk mencari pasangan yang akan menemaninya di penginapan, pemilik penginapan mampu mencarikan wanita yang siap untuk itu. Di tempat penginapan yang penulis observasi, terdapat tempat bersantai orang-orang yang penulis lihat saling berpasangan. Penulis berasumsi bahwa mereka adalah para pemesan kamar yang sedang bersantai di luar penginapan. Berdasarkan letak penginapan tersebut, yang terletak agak menjorok ke dalam dari jalan tempat orang-orang lewat, penulis menyimpulkan bahwa memang para pengunjung yang datang ke penginapan itu adalah pengunjung yang memang mencari tempat untuk dapat melampiaskan “kepuasan”.
            Selain itu untuk para wisatawan mancanegara, mereka memiliki tempat penginapan tersendiri yang terletak di sebelah utara dari sungai. Di sana para turis mancanegara banyak yang menginap dengan penginapan yang terlihat agak sedikit lebih berkelas dari tampilannya. Di areal penginapan mereka juga terlihat para warga pribumi yang tinggal bersama-sama dengan mereka. Apakah itu guide mereka atau pacar mereka, yang jelas pembauran terjadi antara pribumi dan para wisatawan mancanegara. Suasana akrab mereka tampilkan dalam pergaulan mereka, terlihat dari saling tertawa yang mereka tampilkan dan terkadang bersentuhan tangan, membuat semua orang yang melihatnya akan menafsirkan perilaku itu sebagai sesuatu yang sudah sangat intim.
            Sebuah tulisan tentang Konfrensi Asia Tenggara menentang Pariwisata Seks Anak menuliskan bahwa di seluruh dunia menurut catatan dari World Tourism Organization (WTO) lebih dari satu juta anak dilibatkan dalam kegiatan prostitusi dalam lingkup industri pariwisata. Bahkan menurut badan ini bahwa saat ini kondisi anak-anak yang dilibatkan dalam industri turisme sudah sangat dramatis dan ironis, karena dari tahun ke tahun pemanfaatan prostitusi anak dalam industry pariwisata ini mengalami peningkatan. Namun sayang masalah ini belum menjadi perhatian para penyelenggara bisnis pariwisata baik itu sektor pemerintah maupun swasta karena khawatir akan berdampak pada berkurangnya kunjungan wisatawan³.
            Di lokasi bukit lawang para pelayan seks tidak hanya terdiri dari wanita tetapi ada juga para pria yang siap menjadi pelayan seks bagi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Hal itu terungkap dari salah seorang informan yang tidak mau menyebutkan ciri-ciri pria yang siap menjadi pelayan sex para wisatawan. Dengan lain kata lokasi pariwisata adalah lokasi dimana para wisatawan bebas mengekspresikan kesenangannya selama itu tidak menyalahi norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku khusus pada lokasi wisata itu. Terkait dengan seks, Bukit Lawang tidak memberikan aturan-aturan khusus perihal seks, artinya tidak ada aturan-aturan tertulis yang mengatur tentang seks di bukit lawang itu. Semua wisatawan yang ada di sana seperti telah mengetahui bahwa jika ingin menyalurkan hasrat seksnya bisa saja membawa pasangannya ke beberapa penginapan yang ada di lokasi, atau mencari pasangan dari para pramunikmat yang ada di lokasi. Seorang informan sebut saja namanya Tono, seorang pedagang rokok yang ada di bukit lawang. Sambil penulis membeli sebungkus rokok kepadanya, penulis sempat menanyakan tentang wanita-wanita pelayan seks (pramunikmat). Tono mengatakan bahwa dari penampilannya memang agak sulit untuk mengidentifikasi yang mana yang mana wanita-wanita itu. Mereka lebih bisa diketahui karena hubungan-hubungan yang mereka bina dengan para warga setempat dan beberapa pedagang yang ada di lokasi tersebut. Identitas para pramunikmat itu tidak terlalu perlu ditunjukkan pada para pengunjung lokasi wisata. Jenkins (2004) mengatakan bahwa identitas itu merupakan soal mengetahui seseorang itu sebagai siapa (yang mana tanpa demikian kita tidak akan dapat mengetahui sesuatu itu sebagai siapa dan apa). Tetapi dalam hal ini, identitas sebagai pramunikmat tetap saja masih memiliki kesan yang negative pada masyarakat setempat walaupun masing-masing anggota masyarakat tidak menjadikan itu sebagai masalah dan menghargai keputusan masing-masing individu atas pilihannya. Untuk itulah pernyataan Jenkins di atas memang sangat penting bagi para pengunjung agar mereka dapat mengetahui siapa sebagai apa di arena sosial tersebut. Hanya saja seperti dikatakan di atas, identitas itu tidak hanya dapat diketahui dengan symbol-simbol yang tampak, tetapi juga dapat diketahui melalui sebuah dari hubungan-hubungan sosial yang ada. Selanjutnya Tono mengatakan bahwa menurutnya kebebasan adalah hal terpenting bagi sebuah daerah wisata seperti bukit lawang, karena tanpa itu para pengunjung justru tidak akan merasa leluasa di tempat rekreasi itu.
            Beberapa  pertanyaan dapat diajukan di sini. Apakah kebebasan itu dan kenapa ia harus dihargai? Apakah kebebasan itu merupakan sesuatu yang telah lama tertanam dalam watak manusia, atau apakah ia merupakan hasil dari suatu situasi khusus? Apakah ia diinginkan sebagai tujuan akhir atau sebagai alat untuk mencapai hal-hal lain? Apakah kalau orang memilikinya ia harus mempertanggungjawabkannya, dana apakah pertanggungjawaban ini demikian memberatkan, sehingga sebagian besar orang siap untuk melepaskannya agar mendapatkan keringanan yang lebih besar? Apakah perjuangan untuk kebebasan itu demikian beratnya sehingga kebanyakan orang gampang sekali berpaling dari upaya untuk mencapaii dan mempertahankannya? Apakah kebabasan itu sendiri dan hal-hal ditimbulkanya sama pentingnya dengan keselamatan hidup, seperti makan, tempat berteduh, pakaian atau bersenang-senang? Apakah manusia memberikan perhatian kepada kebebasan ini sama banyaknya dengan perhatian yang diajarkan kepada kita di negeri ini? (Dewey, 1988).
            Sebentuk pertanyaan di atas mengatakan bahwa kebebasan dalam arti yang sesungguhnya tidaklah menjadikan segala sesuatu dibenarkan (permissif), tetapi bagaimana menjadikan atau mengelola sebuah kebebasan itu menjadi satu aturan tidak tertulis yang dapat diinternalisasikan pada seluruh pengunjung yang ada di lokasi pariwisata. Dengan demikian segala bentuk kebebasan yang ada dinamakan dengan kebebasan yang terkendali. Terutama dalam hal ini adalah seks sebagai sesuatu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung lokasi wisata.
Terakhir yang perlu djelaskan disini adalah bahwa aktivitas seks yang terjadi di bukit lawang cenderung dikemas oleh berbagai bentuk kemasan, seperti rumah inap dan ada juga pijat tradisional, yang menurut beberapa informan juga menjadi salah satu tempat prostitusi bagi para wisatawan. Kemasan-kemasan itu lebih pada menjaga pada tidak terlalu fulgarnya praktek prostitusi itu pada lokasi wisata tersebut. Dalam observasi penulis, bahwa stimulus terhadap bangkitnya gairah seksual itu juga dapat terjadi dari beberapa pemandangan yang ditampilkan oleh para pengunjung yang dating ke sana. Sebagai contoh, para pengunjung yang berbusana semi terbuka di beberapa pinggiran sungai, para wisatawan mancanegara dengan pakaiannya yang relative terbuka, sehingga beberapa mata menjadi tertarik untuk melihatnya. Hal tersebut sedikit banyak menjadi salah satu factor penyebab beberapa orang terangsang (terstimulasi) gairahnya untuk mengarah kepada hal-hal yang berbau seksual.

Kesimpulan.
1.      Untuk memberantas masalah pariwisata seks anak ini tidak cukup bila hanya dilakukan oleh satu Negara saja, karena child sex tourism ternyata melibatkan banyak Negara. Di samping kompleksitas masalah ini juga melibatkan sektor pariwisata yang di dalamnya ada para pelaku pariwisata yang umumnya adalah berasal dari kalangan privat atau bisnis. Di samping itu kerjasama regional dan internasional perlu dikembangkan untuk memberantas masalah pariwisata seks anak di kawasan asia tenggara. Kerjasama ini bukan saja dilakukan oleh organisasi pemerintah saja, tetapi juga organisasi non pemerintah, organisasi  internasional dan sektor swasta.

2.      Memperhatikan kondisi bukit lawang maka beberapa pertanyaan di atas dapat menjadi salah satu pemikiran tersendiri bagi para Stakeholders dalam menata kebebasan di lokasi wisata itu dengan tujuan menjadikan daerah itu sebagai sebuah devisa daerah yang tetap terjada dan tidak melupakan adat istiadat dan menjadikan budaya setempat sebagai sebuah komoditi positif yang menjadi nilai jual tersendiri bagi para wisatawan yang berkinjung ke daerah itu. Artinya ada warna tersendiri yang dijual oleh bukit lawang sebagai katalisator penunjang bangkitnya produk wisata yang ada di bukit lawang. Sebagai contoh seni pertunjukan yang mengikutsertakan para wisatawan berpartisipasi di dalamnya adalah sebuah daya tarik tersendiri yang cukup efektif untuk membuat para wisatawan sangat menikmati liburannya di lokasi itu. Apalagi daerah bukit lawang yang terdiri dari beberapa etnis yang berdomisili di sana.
Hendaknya masing-masing kelompok etnis yang ada di daerah itu dapat memberikan kontribusi tersendiri bagi majunya perpariwisataan di bukit lawang. Sebagai contoh kelompok etnis Jawa dapat memberikan penampilan-penampilan yang bernuansa Jawa seperti seni-seninya yang dipertontokan di tempat umum, dan seperti yang dijelaskan di atas, para wisatawan jika bisa turut juga ikut berpartisipasi di dalamnya. Begitu juga dengan etnis yang lain, Karo, Simalungun atau yang lainnya juga dapat melakukan hal yang sama, sehingga bukit lawang menjadi sangat berwarna dan menarik dengan ciri-ciri heterogenitasnya.
Walaupun demikian, semua hal yang dilakukan di atas tanpa menafikan seks sebagai salah satu daya tarik tersendiri bagi bukit lawang. Yang terpenting adalah bagaimana mengemas “seputar seks” itu sebagai sesuatu yang tidak vulgar tetapi hidup di dalamnya. Dengan demikian, hidupnya aktifitas seksual di daerah itu tidak menghancurkan nilai-nilai ketimuran dan tetap menjadi alternatif saja bagi para wisatawan yang tertarik dengan komoditi itu.

3.      Dalam pergumulan warga mencari perekonomian di lokasi wisata tersebut terdapat aturan-aturan yang berlaku bagi seluruh pengunjung di bukit lawang. Aturan-aturan tersebut merupakan aturan tidak tertulis, seperti tidak mengganggu dan menjelekkan para pencari ekonomi yang lain. Adalah sebuah hak personal bagi warga untuk melakukan apa saja yang dianggap bisa menghasilkan ekonomi/pendapatan baginya, termasuk menjadi pramunikmat (pelayan hasrat seks para pengunjung), dan perilaku itu tidak boleh menjadi cemoohan bagi warga yang lain. Hal ini telah diungkapkan oleh Toni sebagai informan penulis, bahwa seseorang yang mengambil langkah itu tetap diterima sebagai bagian dari masyarakat/anggota sosial yang tidak kurang satu apapun dalam rangka bergaul dengan anggota masyarakat yang lain.



DAFTAR PUSTAKA
Dewey,Jhon, Budaya dan Kebebasan: Ketegangan antara kebebasan Individu dan Aksi Kolektif, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1998.
Jenkins, Ricard, Identitas Sosial, Medan, Bina Media Perintis, 2008.

Internet
¹ www.gununglesuser.or.id/bukit-lawang-92/
² Disparpora-serangkab.com/artikel.Php?wst=5
³ www.pkpa-indonesia.org

Otoetnografi


RESUME
OTOETNOGRAFI

            Otoetnografi bekerja dan berfungsi untuk mempersatukan diri (self) dan kebudayaan, meskipun tidak dalam kondisi seimbang atau statis. Otoetnografi menulis sebuah dunia dalam kondisi mengalir deras dan bergerak – antara kisah dan konteks, penulis dengan pembaca, krisis dengan pemecahan masalah. Otoetnografi menciptakan momen-momen kejelasan, hubungan dan perubahan yang penuh emosi.
Menulis etnografi juga merupakan aksi penyeimbang. Dalam sebuah bab handbook yang dimaksudkan agar bisa menggerakkan teori dan metode menuju aksi. Di sini akan diawali dengan jenis aksi penyeimbang yang lain, dengan memilah-milah buku dan essai, mencari kata-kata yang telah digunakan oleh para penulis lain untuk melukiskan pelaksanaan penulisan otoetnografi.
Otoetnografi adalah, ‘penelitian, penulisan dan metode yang menghubungkan sisi autobiografis dan pribadi dengan aspek kultural dan sosial. Bentuk ini lazimnya menyoroti aksi konkrit, emosi, perwujudan, kesadaran diri, dan intropeksi dan mengklaim konvensi penulisan literer.
‘sebuah narasi-diri yang mengkritik keterposisian diri (self) dan other di dalam konteks sosial’.
‘teks-teks yang mendemokratisasikan ruang representasional kebudayaan dengan menempatkan pengalaman parikuler individu ke dalam posisi tarik ulur dengan ekspresi-ekspresi dominan kekuatan diskursif’.
Namun, karena otoetnografi adalah sesuatu yang disebut genre yang kabur oleh Geertz (1983), maka otoetnografipun tumpang tindih dengan, dan berutang budi pada, penelitian dan praktek penulisan dalam antropologi, sosiologi, psikologi, kritik sastra, jurnalisme dan komunikasi.
            Otoetnografi adalah, sebuah perjumpaan dahsyat, sebuah momen kerentanan dan ambiguitas yang bersifat sensual, mewujud dan berjalin berkelindan di dalam struktur sosial dan ideologis kehidupan nyata mereka.
‘jenis seni yang membawa anda menyelami diri anda lebih dalam dan pada akhirnya keluar lagi’.
            Otoetnografi adalah, menetapkan konteks, menuturkan kisah, menjalin hubungan yang rumit antara kehidupan dengan seni, pengalaman dengan teori, penciptaan dan penjelasan…dan kemudian melepaskannya, berharap pada para pembaca yang akan mencurahkan perhatian cermat yang sama pada kata-kata anda di dalam konteks kehidupan mereka sendiri.
Menghadirkan sebuah teks. Menuntut perhatian dan partisipasi. Melibatkan semua pihak yang berkepentingan. Menolak pembungkaman atau kategorisasi.
Menyaksikan pengalaman dan mengakui kekuasaan tanpa merenggut – kesenangan, perbedaan, kemanjuran.
Percaya bahwa kata-kata itu bernilai sekaligus menulis (demi) menyambut momen tatkala titik penciptaan teks-teks otoetnografisnya adalah demi mengubah dunia.
            Otoetnografi adalah, sebuah teks pertunjukan…mengolok dalam diri sambil menunggu untuk dipentaskan.
KRISIS
 Inilah krisis tiga lapis, ancaman tiga lapis, mahkota duri tiga lapis: representasi, legitimasi dan praksis. Ketiga krisis ini, yang menandai dan berdampingan dengan prealihan menuju penelitian interpretative, kualitatif, naratif, dan kritis di dalam disiplin humaniora, diseur dengan kalimat yang sering dikutip dalam sandiwara yang sudah akrab: seberapa besarkah pengetahuan seorang pakar, bagaimana ia mengetahuinya, dan apa saja yang bisa dilakukannya dengan pengetahuan tersebut di dunia.
            Krisis semata-mata merupakan akibat dari konflik kekuasaan, watak dramatis aksi manusia, dan pilihan-pilihan (sadar tak sadar) yang kita ambil di dalam dunia yang penuh dengan kemungkinan. Drama representasi, legitimasi dan praksis merupakan bagian dari dialog berkesinambungan antara diri dengan dunia yang menyangkut masalah-masalah ontology, epistemology, metode dan praksis:  apakah hakikat mengetahui itu, apakah makna hubungan antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui, bagaimanakah kita berbagi sesuatu yang kita ketahui dan dengan makna/dampak apa? Factor yang menjadikan krisis tida lapis ini terasa mendesak adalah cara-cara yuang ditempuh oleh dialog di atas dalam mempertanyakan stabilitas dan koherensi kehidupan kita sewaktu kita menjalani dan menuturkannya.
            Krisis adalah sebuah titik balik, sebuah momen ketika konflikl harus dihadapi meskipun tidak bisa memecahkannya. Konflik adalah sebuah ketegangan yang membuka ruang ketakpastian, mengancam menggoyahkan struktur sosial, dan memunculkan katakpastian kreatif. Penelitian kualitatid, naratif dan krisis telah mengalami  banyak momen kritis seperti itu, yang kesemuanya menjurus pada pergeseran genre dan metode. Kita telah berpindah dari…
Kemustahilan katalogisasi yang cermat, setia dan otoritatif terhadap other yang eksotik…
Menuju paparan naratif yang parsial, refleksif, dan naratif lokal…
Menuju teks-teks yang bekerja  untuk menciptakan ruang bagi sebuah etika dialog.
Pada saat ini…
Kita menghadapi kemustahilan menyajikan pengalaman nyata dengan memutuskan hubungan antara kehidupan dengan teks…
Kiita menyusun (dan mempertanyakan pengembangan) criteria untuk memahami dan mengevaluasi kerja ilmiah yang kita lakukan untuk menuturkan kondisi-kondisi kehidupan kita…
Kita memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang memberikan sumbangsih besar dengan menuiis pencitraan sosial secara merangsang dan revolusioner.
Kita bangkit menyambut tantangan gerakan…

GERAKAN
 Meskipun penulis tulisan ini bisa menempatkan ‘bermacam-macam refleksi’ ke dalam konteks peralihan dan gerakan yang lebih besar dalam penelitian interpretative, kualitatif, naratif, dan krisis, penulis tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap kemarahannya yang ia rasakan pada saat penulis membaca essai Ronai (1995).
            Kepada kita semua -  adalah untuk bergerak dari amarah menuju aksi politis yang progresif, menuju teori dan metode yang menghubunhgkan politik, pedagogi, dan etika menuju aksi dunia.
Inilah sebuah tantangan yang sudah digarap dan dicoba dijawab oleh para pakar otoetnografi secara pelan-pelan dan bertahap. Inilah tantangan menciptakan teks-teks yang tersingkap di dalam ruang  intersubjektif individu dan komunitas serta yang merangkul taktik untuk mengetahui sekaligus memperhatikan .
Upaya untuk menjawab tantangan ini berarti mengajukan pertanyaan tentang hal-hal berikut:
-          Bagaimana ilmu pengetahuan, pengalaman, makna dan perlawanan terekspresikan melalui cara-cara yang terwujud, tersirat, intonasional, isyarat tubuh, improvisasional, koeksperiensial, dan tersembunyi. (Conguergood,2002). Teks-teks autoetnografis memusatkan perhatian kepada bagaimana orang-orang yang menggunakan bentuk-bentuk komunikasi yang halus dan samar secara sadar -  yaitu bentuk komunikasi yang bukan tekstual atau pun visual – untuk mengungkapkan fikiran , fikiran dan hasrat mereka dengan menuangkan praktik komunikasi tersebut ke dalam tulisan dan mementaskannya di atas panggung.
-          Bagaimana emosi itu penting untuk memahami dan merumuskan teori tentang hubungan antara diri, kekuasaan dan kebudayaan. Teks-teks autoetnografi memusatkan perhatian pada penciptaan pengalaman emosional yang kasat mata, karena pengalaman seperti ini berhubungan, sekaligus terpisah, dengan cara-cara yang lain dalam mengetahui, mewujud dan bertindak  terhadap dunia.
-          Bagaimana tubuh dan suara tidak bisa dipisahkan dari akal dan pemikiran sekaligus bagaimana tubuh dan suara bergerak serta diistimewakan  (sekaligus dibatasi dan ditandai) dengan cara-cara yang sangat khusus dan politis. Teks-teks autoetnografi berupaya menciptakan watak pengalaman yang kasat mata, sensual dan politis, bukannya mengubah teks ke dalam perwujudan atau politik ke dalam permainan bahasa.
-          Bagaimana diri dikonstruksi, disingkap dan dianyam ke dalam peraturan narasi tersebut bergerak di dalam sekaligus mengubah konteks yang menjadi penuturannya.
-          Bagaimana kisah-kisah membantu kita menciptakan, menginterpretasikan, mengubah kehidupan sosial, cultural, politis dan pribadi kita. Teks-teks autoetnografi tidak hanya menunjuk pada keharusan narasi dunia kita, namun juga menunjuk pada kekuatan narasi dalam menyingkap dan memperbaiki dunia tersebut.
BERALIH KE PERTUNJUKAN:
SURAT TENTANG/DEMI/MENGENAI PERUBAHAN.
Bangkitnya pertunjukan
Conguergood (1991) melacak kebangkitan pertunjukan dalam penelitian etnografis dan penulisan etnografis dalam tulisannya,’mengkaji ulang etnografi. Ia melacak peralihan ke pertunjukan ke karakterisasi umat manusia sebagai homo performansnya Victor Turner – umat manusia sebagai pementas sebuah makhluk pencipta kebudayaan, pementas sosial, pencipta diri. Upaya Turner untuk menghubungkan etnografi dengan pertunjukan sebagai sebuah praktek yang hidup dan dihayati; ternyata mencapai empat tujuan:
Pertama, upata tersebut mengalihkan perhatian kita bagaimana tubuh dan suara terposisikan di dalam konteks – di dalam dan tentang’waktu’, tempat dan sejarah.
Kedua, gerakan performatif mendorong para peneliti dan subyek yang diteliti menuju sebuah hubungan nyata ‘keterlibatan akrab dan penggiatan “aktivitas bersama” atau pertunjukan bersama dengan “individu-individu unik” yang terposisikan dan memiliki nama secara historis.
Ketiga, etnografi berpusat- pertunjukan menunjuk pada bias visual, linguistic dan tekstual peradaban barat dan mengarahkan ulang perhatian kita pada ekspresi kebudayaan dan dunia nyata, tugas lapangan dan penelitian yang berciri auditorius, badaniah dan postmodern.
Keempat, dalam menegaskan watak kehidupan sosial dan pertunjukan cultural yang ‘polisemik’ dan konstitutif, paradigma pertunjukan menuntut kita untuk memusatkan perhatian pada bagaiman teks bisa diciptakan, dikomunikasikan dan paling lazimnya dikritik di berbagai tingkat.
Kritik Ekfrastik
Ekfrastik? Apakah artinya? Kerja ekfrastik adalah perenungan atas tindakan kreatif orang lain. ‘Teks-teks ekfrastik berupaya membangkitkan ‘kemampuan mencipta gambar kata-kata di dalam puisi’. Ekfrasis melukiskan upaya-upaya kita dalam menerjemahkan dan mengubah pengalaman menjadi teks dan teks menjadi pengalaman. Ekfrasis menghembuskan kata-kata ke dalam gambar bisu; ekfrasis menciptakan gambar dari kata-kata menggantung dari teks ekfrasis itu sendiri. Ekfrasis bertutur tentang urgensi sama besarnya dengan tentang istirahat, sama besarnya tentang istirahat, sama besarnya tentang perjalanan dengan Jeda.
Menggarap Tubuh Mengolah Kebudayaan
Jones (2002) menulis bahwa etnografi pertunjukan ‘paling mudahnya, adalah cara mengolah kebudayaan di dalam tubuh’. Namun proses penciptaan dan pementasan etnografi pertunjukan bukanlah semata-mata penempatan, dan kemudian permainan, tubuh di dalam kebudayaan. Justru sebaliknya, etnografi pertunjukan berupaya mengajak peneliti dan audiens dengan menciptakan sebuah pengalaman yang menghadirkan bersama-sama teori dan praksis dengan cara-cara yang kompleks, kontradiktif dan bermakna.
Menggarap tubuh mengolah kebudayaan bisa berupa sebuah etnografi pertunjukan yang memusatkan perhatian pada empat prinsip:
a.      Menciptakan sebuah konteks khusus bagi pertunjukan
b.      Bekerja secara kolaboratif dan bertanggung jawab atas komunitas tugas lapangan.
c.       Menekankan peran pementas yang ‘terposisikan dan berkepentingan’ dalam menginterpretasikan kebudayaan.
d.      Menawarkan berbagai perspektif yang harus secara aktif yang dipadukan oleh para audiens.
Mencipta ulang diri
Miller (1998) menegaskan bahwa upaya menghimpun minat pada pertunjukan autobiografis sesungguhnya lebih banyak berkaitan dengan pergeseran studi pertunjukan dari pertunjukan estetik ke paradigma yang lebih integral untuk menjelaskan, mengkritik dan mengalami bagaimana kehidupan kontemporer dijalani.
Perbedaan antara pengalaman dengan kisah, antara perbuatan dengan hasil perbuatan sesungguhnya tergantung pada pandangan tentang performativitas yang menyatakan bahwa sebuah kisah hidup – identitas – bukanlah sesuatu yang dipilih untuk dilakukan oleh penulis/pementas namun (justru) berciri performatif dalam pengertian bahwa kisah hidup tersebut merupakan dampak dan sesuatu yang tampaknya diekspresikan itu sendiri.
Performativitas menunjuk pada kemustahilan memisahkan kisah-kisah hidup kita dari konteks sosial, cultural dan politis tempatnya tercipta dan dari cara-cara yang pertunjukan sebagai satu tempat dialog dan negosiasi itu sendiri merupakan sebuah ruang yang diperebutkan.
Tulisan performatif menghadirkan dinamika performativitas pertunjukan ke dalam momen penulisan teks yang menjadi tempat untuk mengkonstruksi, menginterpretasi, dan mengubah identitas dan pengalaman. Tulisan performatif muncul ketika kita menjumpai buku/artikel dengan maksud hendak memasuki satu diskusi yang ditandai oleh perdebatan dan negosiasi, pengetahuan berwujud dan pertukaran pikiran dan penuh permusuhan, dan tuduhan emosional dan intelektual. Tulisan performatif muncul ketika ktia mengajak audiens untuk ikut berdialog ketika kita menulis, berbicara, dan mementaskan kata-kata di buku, melalui mulut kita, pada tubuh kita, dan dunia. Karena dinamika performativitas pertunjukan menyatakan bahwa pertunjukan itu tidak bisa dipisahkan dengan politik, maka pertunjukan autobiografis, narasi pribadi, dan otoetnografi performatif mencampuradukkan dengan hal-hal peribadi ke dalam ranah politik dan ranah politik ke dalam hal-hal peribadi dengan cara-cara yang bisa, memang dan harus diperhitungkan.
Mementaskan Kemungkinan
Pertunjukan kemungkinan tercipta di dalam momentum gerakan dari kebisuan ke suara dan dari pinggir ke pusat. Pertunjukan kemungkinan menyediakan suatu tempat berkumpul bagi narasi-narasi yang memperjuangkan perubahan dalam sistem dan proses yang membatasi kemungkinan.
Ruang dan gerakan pertunjukan kemungkinan dijiwai oleh tanggung jawabuntuk melibatkan diri dan other secara etis dengan menempuh cara-cara yang tidak menutup atau mencegah dialog. Pertunjukan kemungkinan memberikan saran sekaligus metode bagi etnografi yang bersifat  mengubah dan bisa menjadi alternative. Pertunjukan kemungkinan memberikan, meminjam deskripsi, berciri sebagai penghubung; pertunjukan kemungkinan mempersatukan yang mungkin mempersatukan yang mungkin dan yang ada, memberikan wahana untuk memunculkan perbedaan sekaligus meredamnya; pertunjukan kemungkinan bersatu padu melalui gerakan.
Mementaskan perlawanan sosial
Sewaktu gerakan-gerakan nasional yang menjadi mitra aliansi pertunjukan di atas mulai terpecah-pecah dan berubah arah, pertunjukan yang memiliki semangat perlawanan sosial juga mulai berubah. Para pementas mengarahkan perhatian mereka pada aneka persoalan di dalam komunitas mereka sendiri dan mulai menjajaki kebutuhan untuk tidak hanya mengekspresikan solidaritas dan kesatuan umum juga rumitnya hubungan antara identitas, perbedaan dan identifikasi.
Para partisipan memang belajar untuk menjadi partisipaan yang aktif di panggung dan di dunia. Mereka memetik manfaat dari pertunjukan dengan cara-cara yang bisa didefinisikan dan bersifat material. Berbagai tantangan yang menyelimuti kebutuhan yang menyeimbangkan antara perhatian estetik dengan berbagai pengalaman, dampak terpecah-pecah dari dialog berbasis identitas, dan kebutuhan untuk menghubungkan aksi lokal dengan konteks yang lebih besar sesungguhnya memicu pergeseran dari pertunjukan berbasis komunitas ke teater dan dialog sipil.
PRAKSIS PERFORMATIF: OTOETNOGRAFI SEBAGAI SEBUAH POLITIK YANG (SARAT) KEMUNGKINAN
Penulis  tulisan (Jones) ini ingin mengakhiri tulisannya dengan meminta pembaca untuk menjaga agar percakapan percakapan ini berlangsung di dalam teks, konteks dan praksis kita sendiri. Jones juga menghendaki agar pembaca membawa percakapan ini ke dalam peralihan, krisis dan momen dalam otoetnografi berikutnya sekaligus agar menggerakkan karya kita, tanpa ragu-ragu atau beban dari aspek politis.
Kita bisa menciptakan perbedaan di dalam dan di luar proses individual untuk mengetahui dan mulai mengetahui – dan kemudian menuliskan dan berbagi proses-proses tersebut. Jones meyakini masa depan otoetnografi. Dengan semangat bergerak menuju masa depan, Jones ingin menantang pembaca untuk melakukan hal-hal berikut:
-          Kenali kekuatan antara/penengah. Kenali kekuatan menempuh dua cara, kekuatan dari penekan interaksi antara pesan dan estetika, proses dengan perilaku, individu dengan sosial. Ingatlah bagaimana krisis, peralihan dan gerakan di dalam dan menuju narasi, pertunjukan dan teater protes sosial tercipta di dalam probabilitas radikal yang hadir di ruang-ruang antara ini.
-          Pentaskan perjumpaan yang mustahil. Ciptakan teks-teks yang mementaskan apa yang disebut ‘perjumpaan yang mustahil’ oleh Cohen Cruz (2001) dalam ‘kemampuan teks-teks tersebut mendekatkan atau mengakrabkan manusia dengan gagasan, situasi atau faktor-faktor lain yang tampak benar-benar berbeda’.
-          Kontekstualisasikan pemberian testimony dan kesaksian. Pentaskan testimoni dan kesaksian akan kisah-kisah pribadi di dalam, melalui dan dengan konteks sosial yang lebih besar.
misalkan saja kita menghadirkan teks-teks kita ke dalam konteks, kita bisa menciptakan karya yang menjadi langkah pertama menuju perubahan sosial.
-          Ciptakan Kekacauan. Hargailah teks-teks yang ditujukan untuk memprovokasi, mengajukan pertanyaan dan mengajak penulis dan audiens, yaitu teks-teks yang menciptakan kekacauan. Manfaatkan persekongkolan aspek / biner yang terkandung dalam penulisan dan pembacaan teks-teks autoetnografis – di dalam cara dan kapan kita menempatkan hidup dan sekaligus tubuh kita ke dalam teks-teks yang kita ciptakan, geluti dan pentaskan, maka hidup dan tubuh kita tersebut tidak lagi menjadi milik kita sendiri; entah baik atau buruk, hidup dan tubuh tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman komunitas.
-          Ciptakan teks yang berwatak tersurat. Responlah kebutuhan untuk tampil tersurat dalam menggerakkan para pembaca dan audiens anda secara intelektual, emosional dan menuju aksi sosial, cultural dan politis bersama.




ORANG BESAR


TEMPAT ORANG BESAR DALAM MASYARAKAT HAGEN TRADISIONAL DI DATARAN TINGGI TENGAH NUGINI.
(sebuah resume dan refleksi)

Tulisan tentang Orang Besar (Big Man) ini adalah sebuah tulisan yang menggambarkan sebuah kepemimpinan yang terjadi tanpa  otoritas atau kewenangan yang penuh. Kepemimpinan Big Man ini harus disertai dengan kemampuan memenuhi kebutuhan sosial, pandai menguasai tanah atau berproduksi dari tanah itu. Kemudian pandai dan dermawan dalam membagi-bagi bahan dan barang, serta menguasai keterampilan retorikal.  Orang Besar” menduduki posisi kepemimpinan yang timbul dari konteks etnografik yang istimewa. Kedudukan itu mencerminkan aspek-aspek umum kepemimpinan di dalam suatu kekerabatan, sebuah kerangka nonhierarkis. Pemimpin tersebut tidak dapat memerintahkan atau menjalankan kekuasaan yang tidak semestinya terhadap pengikut-pengikutnya, dan pertalian yang mengikat pemimpin itu dengan pengikutnya terutama berdasarkan kekerabatan.
Seorang Big Man harus mampu menghimpun kekuasaan,yang di dalam masyarakat kekerabatan berarti ikatan matrimonial, tanggungan dan ketersediaan sumberdaya sosial dan material untuk menunjang mereka. Statusnya terjamin oleh kemampuannya memobilisasi pengikut yang terdiri dari kenalan dan kerabat. Pada tingkat lokal, ia harus menyatakan solidaritas dari kelompok teritorial yang bersangkutan dan harus pula memperluas aliansi supralokal, artinya disini juga harus mampu membina kerjasaman dengan penguasa atasan atau kekuasaan di tingkat yang lebih tinggi.
Tulisan tentang Big Man ini dibatasi pada Dataran Tinggi Tengah Nugini, yang secara ringkas dapat dapat saya ceritakan sebagai berikut :
            Bahwa salah satu pembahasannya adalah tentang Big Man (orang besar) dari perspektif mengenai pertukaran dan ekonomi. Hubungan yang erat dengan posisi ekonomi si orang besar dalam masyarakatnya menjadi peranan politikalnya. Beberapa penulis menggambarkan si orang besar sebagai despot (orang yang memerintah secara sewenang-wenang), bahkan sebelum datangnya orang-orang Australia dengan kebijaksanaan mereka tentang hubungan bertahap dan pasifikasi . beberapa penulis yang lain menunjukkan bahwa raja-raja lalim itu timbul di Dataran Tinggi Tengah melalui pengaruh Australia atau setidak-tidaknya kehadiran politik tradisional yang dipengaruhi Australia. Seorang Penulis tentang orang besar ini (Salesbury) membuat perbedaan antara pemimpin yang sesungguhnya , yang sudah menjadi despot sebelum orang-orang Australia datang, dan pemmimpin-pemimpin yang tingkatnya lebih rendah, yang lebih bergantung pada pada pendapat khalayak dan mendukung kedudukan mereka. Mereka yang disebut terakhir ini harus menanggapi resiko karena menjadi despot walaupun dapat memanfaatkan kehadiran orang-orang Australia untuk menjadi lalim. Tetapi Salesburi dalam sebuah bagian justru membantah pendapatnya sendiri:
                        Kejadian ini menunjukkan bahwa, walaupun pendapat khalayak tidak memperlembut despotism pribumi, cukup terdapat peluang bagi para pemimpin menjadi sangat sewenang-wenang dan berkuasa dalam hubungannya dengan para pendukung nominal. Kesewenang-wenangan itu tidak hanya diterima secara pasif tetapi juga disetujui juga oleh para pendukung, asal saja hal itu berarti keuntungan materill dan pencurian agresi lain terhadap kelompok anggota maupun pihak luar. Jarang orang merasa hendak mencoba menentang seorang despot; bila niat hendak menentang itu timbul pada sebahagian besar masyarakat Nugini dan sekiranya memungkinkan untuk dilakukan, rakyat justru memilih bergabung dengan seorang despot.

Pernyataan di atas menurut saya terkesan seperti ada sebuah ketakutan yang berlbihan pada despot, dan ternyata memang ketakutan tersebut selain hanya karena adanya dukungan dari pihak Australia, juga dikarenakan ada semacam kekuatan supranatural yang dimiliki oleh despot dalam menjalankan kekuasaannya.
            Kelompok-kelompok di dataran tinggi juga berbeda-beda dalam hal besarnya otoritas yang mereka berikan kepada orang besar mereka dan tingkat kesewenang-wenangan yang dapat diterima, dengan kata lain, tingkat otonomi yang mereka berikan. Dalam tulisan ini cenderung mengenai ciri-ciri orang besar, dan kekuasaan yang harus dilakukan oleh pengikut di depan pemimpinnya. Karena pertukaran kerang tetap merupakan cara yang terpenting untuk menjadi orang besar dalam pengertian tradisional.

Identifikasi orang besar
Peranan orang besar sangat meresap dalam masyarakat, namun sukar untuk disebut dalam istilah yang jelas dan tidak samar-samar. Dalam beberapa kasus, para pemberi keterangan yang menentukan “ si anu itu orang besar.” Kali yang lain merekapun ragu-ragu, atau mereka menyebutkan kedudukan seseorang lain. Ada pro dan kontra dalam penentuan orang besar. Jika seseorang mengatakan seseorang sebagai orang besar yang berasal dari keturunan yang sama, bisa saja orang dari keturunan yang lain mengatakan bahwa seseorang yang dikatakan sebagai orang besar itu disebutkan mereka sebagai “pembual”.
            Ungkapan “orang besar” telah diterjemahkan dengan berbagai cara. Yang paling umum ialah wua nuim, yang berarti orang yang kaya dan penting sekali. Padananya adalah wua ou yang secara harfiah berarti “orang besar”. Kebalikan wua nuim ialah wua korupa atau orang urakan. Untuk mempertegas istilah ini, orang menyebutnya wua korupa kop. Kata kop berarti kering. Tetapi seluruh ungkapan itu juga diterjemahkan oleh seseorang pemberi keterangan sebagai “orang yang menunduk sambil memandang”, yaitu orang yang selalu meminta barang-barang. Bagaimanapun juga, ia orang yang banyak terlibat dalam banyak pertukaran, atau apapun yang dilakukannya terutama yang berkaitan dengan  keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia tidak dermawan atau murah hati, juga tidak memberi hadiah balasan bilamana diperlukan. Anak perempuannya akan kawin dini karena si orang besar itu tidak dapat menunggu lama-lama untuk memperoleh mas kawin yang berupa kerang dan babi.


Hak atas tanah dan orang besar.
            Dalam lingkungan domestic orang besar pertama-tama sekali harus menjamin istri dan anak-anak. Seperti juga setiap lelaki dewasa, ia mempunyai tanah pribadi yang memungkinkannya member jaminan itu. Luasnya tanah seseorang tergantung pada jumlah istri dan anak anaknya. Kebun dan bidang tanah dibagikan kepada istri dan anak-anak perempuannya. Anak dari istri yang istimewa mewarisi kebun milik ibunya maupun saudara-saudara perempuannya. Kebun-kebun itu diurus oleh istri-istri. Jika diperlukan ada pembagian lagi, yang kelihatannya jarang terjadi, atau kebun-kebun baru dibuat, kepala keluarga individual melakukan pembagian secara adil.
            Jika sebuah kelompok seketurunan ingin menjual sebagian tanah, misalnya kepada pihak misi untuk pembangunan sekolah atau gereja, semua kelompok itu harus member izinnya, meskipun tanah itu “termasuk” miliki seseorang yang istimewa kedudukannya. Hak menggunakan milik orang lain kemudian berubah agak bebas di dalam kelompok seketurunan yang disebabkan oleh pertumbuhan keluarga yang berbeda-beda.orang besar dapat mengambil pimpinan dalam pembagian baru ini, walaupun semua dimusayawarahkan.
Proses penggunaan dan pembagian tanah dijelaskan sebagai berikut:
Seorang ayah membagi habis tanahnya, dibaginya kepada anaknya. Jika dalam masa hidupnya ia tidak memberikan kepada semua anaknya karena anak tersebut masih terlalu muda atau alasan lain, maka kewajiban ini jatuh kepada anak lelaki yang sulung yang akan memberikan kepada adiknya jika dianggap sudah layak untuk memiliki tanah. Dalam hal ini sebuah kelompok seketurunan lain, yang mempunyai banyak tanah, ia bisa memberikan sedikit kepada kelompok yang miliknya amat sedikit. Hal ini dapat dilakukan setelah diadakan banyak pembicaraan dan pembahasan, yang sebenarnya sangat jarang terjadi. Bagaimanapun juga orang –orang ini harus menyediakan tanah bagi anak-anaknya sendiri.
Pembagian tanah dan kebun secara pantas sungguh amat penting. Orang besar sangat terlibat dalam proses. Hal ini mempengaruhi soal warisan kemudian. Jika seorang perempuan diabaikan dalam hal ini, akan terluka hatinya, marah dan dendam. Orang besar tidak menjadi sasaran kemarahan itu seandainya tidak kehilangan dukungan dari keluarga terdekat, dan bila terjadi ia bisa kehilangan kedudukannya.

Pembagian dan orang besar.
Fungsi yang sangat penting  pada orang besar adalah menjalankan pembagian pangan secara adil dan menukarkan barang kelompok seketurunan yang diwakilinya. Orang besar mempunyai tanggungjawab agar setiap orang yang menjadi tanggungannya mendapat bagiannya dalam setiap ada pembagian, walaupun sedikit-sedikit. Orang besar juga bertanggungjawab dalam hal pembagian kerang, daging babi dan uang yang deiperoleh kelompok sebagai hasil dari pertukaran. Dalam hal ini orang besar harus aspiratif, memperhatikan keluhan dan keinginan kelompoknya. Jika orang besar itu tidak melakukan hal yang seharusnya, maka ia akan kehilangan posisinya yang efektif.
Saya kira saya tidak perlu menceritakan kasus yang terjadi seperti yang ditulis di dalam buku, yang penting intinya adalah bahwa pembagian tetap harus dilaksanakan seadil mungkin. Tetapi jika kelompok itu sudah terlalu besar, maka mereka akan memecah sendiri menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil dan sebahagian mengikuti orang besar tadi, dan sebahagian lagi memilih sendiri orang-orang besarnya yang akan memimpin mereka. Hal ini dilakukan dengan kesadaran bahwa orang besar yang ada tidak akan mampu berlaku dengan adil lagi jika jumlah anggotanya sudah terlalu besar.

Orang-orang besar sebagai politisi dan pengatur.
Pada hakikatnya  orang Mbowamp menerapkan demokrasi berdasarkan consensus bagi masalah-masalah organisasional. Jika sebuah kejadian atau keputusan dibicarakan, siapa saja yang berkepentingan dalam hal itu berhak untuk berdiri dan berbicara. Sifat istimewa orang besar adalah kemampuannya berbicara lancer dan berwibawa juga meyakinkan. Hal ini tidak dimiliki oleh sembarang orang. Keputusan yang diambil oleh orang besar niscaya mencerminkan sifat dan watak anggota kelompok yang hadir. Ia lebih menyimpulkan sebuah kesepakatan bersama daripada mengumumkan keputusan yang dibuatnya sendiri.

Legitimasi Orang Besar
Adapun yang melegitimasikan kedudukan dan wewenang orang besar bukanlah kelahirannya dan sifat-sifatnya yang asli. Yang terutama menentukan adalah kemampuan pribadinya sendiri yang dapat  melegitimasikan kedudukannya, dan yang kedua adalah sukses yang membuat dirinya diterima sebagai pemimpin. Variabel lain lebih mengutamakan kekuatan (rondukl). Bahwa seseorang mempunyai hubungan dengan pengaruh kekuatan jelas karena suksesnya, dan hal itu terutama memberinya legitimasi.
Orang Mbowamp tidak menggunakan setiap cara dan teknik guna mendapatkan kedudukan itu dan yang tidak membuatnya hina. Dengan kata lain, mereka menerima saja ketidaksamaan kedudukan dalam system sosial, semata-mata karena mereka kekurangan kekuatan yang dipersyaratkan.
Sekali seorang menjadi orang besar, ia  menjaga dan memelihara kedudukannya secara tidak terbatas. Namun ia harus terus menerus menghasilkan prestasi guna membuktikan bahwa dirinya tetap mempunyai hubungan dengan  kekuatan ghaib. Bila ia bertambah tua,jumlah pertukaran yagn dilakukan akan berkurang, iapun kurang sering berbicara dengan khalayak, dan orang-orangpun datang mewakili kelompoknya untuk berbincang secara terbuka. Pengurangan atau penyusutan kedudukan sering terjadi bila penggantinya adalah saudara lelakinya atau anak lelakinya yang memang sedang meningkat namanya, ada kemungkinan kelompoknya terpecah menjadi dua, terutama jika persyaratan utama mengenai jumlah anggota kelompok dan sumberdaya cukup untuk menjamin integritas structural kelompok yang baru tumbuh itu.

A.   Refleksi

a.       Terutama dalam wacana tentang para politisi di partai-partai politik. Ada semacam kesan bahwa partai politik tidak lagi menjadi salah satu agen pembelajaran politik kepada rakyat, tetapi cenderung murni menjadi media untuk mencapai kekuasaan dengan segala macam caranya. Para politisi yang berada di dalamanya juga hanya melihat pada peluang-peluang kekuasaan di dalam tubuh partai, artinya jika ia melihat bahwa peluang untuk menjadi “sesuatu” di partai tersebut tidak ada, maka ia akan berpindah partai yang menjanjikan sebuah kedudukan kepadanya. Hal ini bisa dilakukan karena secara ekonomi, politisi tersebut telah mapan. Kemapanan itulah yang dijadikan alat untuk dapat mengembara ke sana kemari mencari peluang-peluang kedudukan. Hal tersebut dapat dilakukan karena partai juga dapat memanfaatkan kemapanan ekonomi politisinya untuk ikut membesarkan partai tersebut. Kemungkinan paling pahit adalah politisi tersebut tidak bisa mendapatkan kedudukan apa-apa pada semua partai yang ia masuki, dan itu tidak mengancam kondisi kehidupannya dari segi ekonomi. Ini adalah salah satu hal yang dapat dipetik dari cerita orang besar (big man) di Dataran Tinggi Nugini.


b.      Dalam urusan persaingan, hal itu digambarkan dalam kasus Big Man dengan persaingan antara satu orang dengan orang lain dengan memamerkan kekayaan yang ia miliki. Dalam kasus tersebut ditandai dengan pertukaran yang dilakukan seseorang dengan orang lain. Pertukaran yang paling baik dalam kasus itu adalah pertukaran babi atau kerang dengan seorang perempuan yang bisa dijadikan istri. Pertukaran yang dilakukan itu dirasa perlu untuk diumumkan atau diketahui oleh orang lain dengan maksud agar ia dianggap sebagai orang yang lebih mapan secara ekonomi. Hal itu juga dimaksudkan agar masyarakat mengakuinya sebagai orang yang memiliki status sosial yang berbeda dengan orang lain.
Saat ini contoh kasus di atas dapat disamakan dengan kondisi dimana orang-orang yang saat ini ingin menjadi pemimpin di tingkat manapun, cenderung merasa perlu untuk menunjukkan / mempublikasikan kekayaannya kepada public. Kasus di Kota Tebing Tinggi, waktu itu seorang calon walikota menumpuk sembako di halaman ruko dengan jumlah yang sangat banyak untuk dibagi-bagikan kepada rakyat Tebing Tinggi. Sebuah publikasi kekayaan yang vulgar sekali, tapi cukup efektif untuk menghantarkan beliau (Syafri Cap) ke Singgasana Walikota Tebing Tinggi, walaupun akhirnya harus turun kembali karena persyaratan calon yang tidak sah, oleh karena isunya ketua KPU juga telah kena “siram” dengan sejumlah materi, plus memiliki ikatan kekerabatan, maka calon tersebut diluluskan menjadi calon walikota. Terlihat sekali efektifitas materi untuk membeli suara dalam sebuah kompetisi politik. Saya kira tidak perlu digali apakah cara itu sebuah pelanggaran atau tidak, yang jelas realitas politik / perilaku politik sebahagian besar rakyat kita masih memberhalakan materi dalam segala urusannya. Idealisme hanya sebuah angan-angan indah yang Cuma bisa dihidupkan di dalam kepala orang, dan harus mati ketika harus berhadapan dengan yang namanya materi.

Beberapa fenomena yang terjadi di beberapa kelompok keluarga saat ini juga menunjukkan hal yang sama. Kepemilikan atas materi yang banyak juga dianggap menjadi simbol atas kekuasaannya memberikan keputusan bagi kelompok keluarga tersebut, apalagi ia memiliki kemampuan retorika yang mumpuni. Materi tadi dianggap menjadi bukti atas apa yang ia utarakan di dalam sebuah musyawarah keluarga. Secara tidak sadar, materi tadi telah membungkam mulut anggota keluarga yang lain untuk berseberangan dengannya. Dalam kasus ini, anggota keluarga yang memiliki banyak materi dan dipergunakan juga untuk memebantu anggota kelompok keluarga yang lain menjadi alasan yang kuat bagi pemilik materi tadi untuk memegang kekuasaan atas kelompok keluarga tersebut. Kalaupun  misalnya seorang anggota keluarga berbeda pendapat dengan anggota keluarga yang memiliki banyak materi tadi, dan ingin membantahnya, maka ia cenderung menyimpannya saja di dalam hati daripada terkesan membantah, yang menurut fikirannya akan berujung pada tidak mendapat bantuan atau suntikan dana seperti yang berjalan sebelumnya.
Beberapa yang diucapkan masyarakat tanpa dasar yang jelas, bahwa jika seorang pemimpin itu adalah seorang yang kaya, maka ia tidak akan berfikir untuk melakukan korupsi. Dalam hal ini kepemilikan atas materi juga dijadikan sebagai sebuah alat kejujuran.

c.       Dari nilai-nilai orang Mbowamp yang diceritakan di atas dapat kita jadikan cermin untuk melihat kondisi bangsa ini sekarang. Diceritakan bahwa salah satu nilai yang dikembangkan oleh orang Mbowap itu dalam menjaga keharmonisan sosial adalah dengan menjaga hubungan baik dengan orang lain, walaupun ada keinginan kuat dari dalam dirinya untuk bersikap individualistic dan bebas. Saat ini kondisi di atas cenderung terbalik. Saat ini keharmonisan sosial seperti sesuatu yang terabaikan dan tidak terlalu diperhitungkan. Keinginan kuat untuk berlaku individualistic dan memperkaya diri sendiri seperti sedang dikompetisikan dan dipentaskan, tanpa memperhitungkan dampak dari prilakunya yang boleh jadi akan mengkonstruksi ketidakpercayaan public pada pemerintah. Nilai-nilai kebersamaan dan pengakuan atas kesamaan hak seolah hanya nilai-nilai yang harus hidup pada orang-orang bawah yang tidak memiliki akses apapun untuk berprilaku yang sama. Di dalam nilai – nilai orang Mbowamp juga diterangkan bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki otoritas terhadap orang lain. Hari ini otoritas atas orang lain terjadi dengan sangat vulgar. Sebagai contoh, di zaman yang untuk sementara ini kita sebut sudah maju, ternyata praktek yang identik / sama dengan perbudakan juga masih terjadi. Penguasaan atas orang lain sampai menyentuh ranah psikologi, sehingga memunculkan ketakutan jika memiliki niat untuk melawan. Moralitas yang saat ini juga sudah semakin memilukan, pengraupan uang rakyat dan negara tanpa merasa berdosa dan memikirkan kesejahteraan rakyat kecil sebagai salah satu bukti konkrit atas demoralisasi itu. Konsep kesetaraan (egaliter) hanya dijadikan sebuah istilah yang dibicara-bicarakan tanpa ada niat untuk mengejawantahkannya. Dengan pongahnya beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berbicara tentang konsep pembangunan rakyat, tetapi tidak pernah turun melihat kondisi daerah dan rakyat yang telah mengangkatnya ke kursi DPR tersebut. Keharmonisan sosial buat saya adalah hal yang terpenting dalam proses sosial. Saya mengistilahkan seorang anggota DPR yang dipilih dari suatu daerah pemilihan tertentu sebagai “orang besar” (Big Man). Keharmonisan sosial dan kesetaraan bagi Big Man itu seharusnya tidak membedakan tutur bahasa dengan masyarakatnya, tidak membuat kesenjangan dengan masyarakatnya dari pakaian yang ia gunakan, tidak selalu berprilaku seolah-olah ia bukan lagi bagian dari masyarakat itu, melainkan sudah berbeda, tidak bersosialisasi dengan bahasa-bahasa yang tidak dimengerti rakyat dengan tujuan hanya mendapatkan pengakuan sebagai orang yang pantas menjadi Big Man atau DPR itu, dan banyak lagi yang lainnya.

d.      Tentang hak atas tanah, terlihat bahwa ada sebuah tanggungjawab besar dari orang tua untuk memberikan warisan kepada anak-anaknya. Memang hal ini adalah lumrah dan juga terjadi pada saat sekarang ini. Tetapi apa yang ditunjukkan di atas adalah tanggungjawab yang turun temurun, misalnya ketika ayah tidak bisa memberikan tanah kepada salah satu anaknya, maka kewajiban itu jatuh pada anak sulungnya. Beberapa kasus yang terjadi saat ini adalah bagaimana agar tanah yang diwariskan dari orang tuanya bisa jatuh kepadanya dalam porsi atau jumlah yang paling besar. Tidak jarang juga terjadi perselisihan dan konflik, bahkan lebih jauh lagi harus kontak fisik antara sesama anggota keluarga disebabkan permasalahan tanah. Keluarga ayah saya juga mengalamai hal yang sama. Dengan karakternya yang keras, anak sulung dari kakek saya mendapatkan warisan yang jauh lebih luas dibandingkan adik-adiknya tanpa ada protes dari saudara-saudaranya dikarenakan menghindarkan konflik dan kekerasan. Keluarga Pardede di Medan juga mengalami hal yang sama. Dalam hal ini mungkin ada banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi yang tidak sempat terpublikasi.

Pada masyarakat Hagen Tradisional di atas juga diceritakan bagaimana satu kelompok dapat membagikan tanahnya kepada kelompok yang hanya memiliki sedikit tanah. Clifford Geertz sempat menjelaskan tentang konsep shared poverty dalam bukunya yang berjudul Involusi Pertanian. Dijelaskan di dalam buku itu bagaiamana sebuah kemiskinan yang dibagi-bagi pada masyarakat. Kesetaraan yang dibangun pada masyarakat itu tetap dijaga demi harmonisnya kehidupan di desa mereka. Pesta-pesta yang diadakan oleh seseorang di desa itu walaupun orang itu adalah orang yang tidak mampu selalu mendapatkan bantuan dari orang lain, kelak hal yang sama juga akan dialami oleh orang-orang lain yang berada di desa tersebut, sehingga yang terjadi adalah bahwa setiap orang di desa yang diceritakan Geertz itu merasa bahwa kondisi kemiskinan yang dirasakannya juga dialamai oleh orang lain, dan saling bahu membahu mengatasi kemiskinan mereka.





Amanatku sebagai Pembina Upacara

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua. Anak-anak sekalian... Satu hal y...