Tuesday, 22 January 2019

ORANG BESAR


TEMPAT ORANG BESAR DALAM MASYARAKAT HAGEN TRADISIONAL DI DATARAN TINGGI TENGAH NUGINI.
(sebuah resume dan refleksi)

Tulisan tentang Orang Besar (Big Man) ini adalah sebuah tulisan yang menggambarkan sebuah kepemimpinan yang terjadi tanpa  otoritas atau kewenangan yang penuh. Kepemimpinan Big Man ini harus disertai dengan kemampuan memenuhi kebutuhan sosial, pandai menguasai tanah atau berproduksi dari tanah itu. Kemudian pandai dan dermawan dalam membagi-bagi bahan dan barang, serta menguasai keterampilan retorikal.  Orang Besar” menduduki posisi kepemimpinan yang timbul dari konteks etnografik yang istimewa. Kedudukan itu mencerminkan aspek-aspek umum kepemimpinan di dalam suatu kekerabatan, sebuah kerangka nonhierarkis. Pemimpin tersebut tidak dapat memerintahkan atau menjalankan kekuasaan yang tidak semestinya terhadap pengikut-pengikutnya, dan pertalian yang mengikat pemimpin itu dengan pengikutnya terutama berdasarkan kekerabatan.
Seorang Big Man harus mampu menghimpun kekuasaan,yang di dalam masyarakat kekerabatan berarti ikatan matrimonial, tanggungan dan ketersediaan sumberdaya sosial dan material untuk menunjang mereka. Statusnya terjamin oleh kemampuannya memobilisasi pengikut yang terdiri dari kenalan dan kerabat. Pada tingkat lokal, ia harus menyatakan solidaritas dari kelompok teritorial yang bersangkutan dan harus pula memperluas aliansi supralokal, artinya disini juga harus mampu membina kerjasaman dengan penguasa atasan atau kekuasaan di tingkat yang lebih tinggi.
Tulisan tentang Big Man ini dibatasi pada Dataran Tinggi Tengah Nugini, yang secara ringkas dapat dapat saya ceritakan sebagai berikut :
            Bahwa salah satu pembahasannya adalah tentang Big Man (orang besar) dari perspektif mengenai pertukaran dan ekonomi. Hubungan yang erat dengan posisi ekonomi si orang besar dalam masyarakatnya menjadi peranan politikalnya. Beberapa penulis menggambarkan si orang besar sebagai despot (orang yang memerintah secara sewenang-wenang), bahkan sebelum datangnya orang-orang Australia dengan kebijaksanaan mereka tentang hubungan bertahap dan pasifikasi . beberapa penulis yang lain menunjukkan bahwa raja-raja lalim itu timbul di Dataran Tinggi Tengah melalui pengaruh Australia atau setidak-tidaknya kehadiran politik tradisional yang dipengaruhi Australia. Seorang Penulis tentang orang besar ini (Salesbury) membuat perbedaan antara pemimpin yang sesungguhnya , yang sudah menjadi despot sebelum orang-orang Australia datang, dan pemmimpin-pemimpin yang tingkatnya lebih rendah, yang lebih bergantung pada pada pendapat khalayak dan mendukung kedudukan mereka. Mereka yang disebut terakhir ini harus menanggapi resiko karena menjadi despot walaupun dapat memanfaatkan kehadiran orang-orang Australia untuk menjadi lalim. Tetapi Salesburi dalam sebuah bagian justru membantah pendapatnya sendiri:
                        Kejadian ini menunjukkan bahwa, walaupun pendapat khalayak tidak memperlembut despotism pribumi, cukup terdapat peluang bagi para pemimpin menjadi sangat sewenang-wenang dan berkuasa dalam hubungannya dengan para pendukung nominal. Kesewenang-wenangan itu tidak hanya diterima secara pasif tetapi juga disetujui juga oleh para pendukung, asal saja hal itu berarti keuntungan materill dan pencurian agresi lain terhadap kelompok anggota maupun pihak luar. Jarang orang merasa hendak mencoba menentang seorang despot; bila niat hendak menentang itu timbul pada sebahagian besar masyarakat Nugini dan sekiranya memungkinkan untuk dilakukan, rakyat justru memilih bergabung dengan seorang despot.

Pernyataan di atas menurut saya terkesan seperti ada sebuah ketakutan yang berlbihan pada despot, dan ternyata memang ketakutan tersebut selain hanya karena adanya dukungan dari pihak Australia, juga dikarenakan ada semacam kekuatan supranatural yang dimiliki oleh despot dalam menjalankan kekuasaannya.
            Kelompok-kelompok di dataran tinggi juga berbeda-beda dalam hal besarnya otoritas yang mereka berikan kepada orang besar mereka dan tingkat kesewenang-wenangan yang dapat diterima, dengan kata lain, tingkat otonomi yang mereka berikan. Dalam tulisan ini cenderung mengenai ciri-ciri orang besar, dan kekuasaan yang harus dilakukan oleh pengikut di depan pemimpinnya. Karena pertukaran kerang tetap merupakan cara yang terpenting untuk menjadi orang besar dalam pengertian tradisional.

Identifikasi orang besar
Peranan orang besar sangat meresap dalam masyarakat, namun sukar untuk disebut dalam istilah yang jelas dan tidak samar-samar. Dalam beberapa kasus, para pemberi keterangan yang menentukan “ si anu itu orang besar.” Kali yang lain merekapun ragu-ragu, atau mereka menyebutkan kedudukan seseorang lain. Ada pro dan kontra dalam penentuan orang besar. Jika seseorang mengatakan seseorang sebagai orang besar yang berasal dari keturunan yang sama, bisa saja orang dari keturunan yang lain mengatakan bahwa seseorang yang dikatakan sebagai orang besar itu disebutkan mereka sebagai “pembual”.
            Ungkapan “orang besar” telah diterjemahkan dengan berbagai cara. Yang paling umum ialah wua nuim, yang berarti orang yang kaya dan penting sekali. Padananya adalah wua ou yang secara harfiah berarti “orang besar”. Kebalikan wua nuim ialah wua korupa atau orang urakan. Untuk mempertegas istilah ini, orang menyebutnya wua korupa kop. Kata kop berarti kering. Tetapi seluruh ungkapan itu juga diterjemahkan oleh seseorang pemberi keterangan sebagai “orang yang menunduk sambil memandang”, yaitu orang yang selalu meminta barang-barang. Bagaimanapun juga, ia orang yang banyak terlibat dalam banyak pertukaran, atau apapun yang dilakukannya terutama yang berkaitan dengan  keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia tidak dermawan atau murah hati, juga tidak memberi hadiah balasan bilamana diperlukan. Anak perempuannya akan kawin dini karena si orang besar itu tidak dapat menunggu lama-lama untuk memperoleh mas kawin yang berupa kerang dan babi.


Hak atas tanah dan orang besar.
            Dalam lingkungan domestic orang besar pertama-tama sekali harus menjamin istri dan anak-anak. Seperti juga setiap lelaki dewasa, ia mempunyai tanah pribadi yang memungkinkannya member jaminan itu. Luasnya tanah seseorang tergantung pada jumlah istri dan anak anaknya. Kebun dan bidang tanah dibagikan kepada istri dan anak-anak perempuannya. Anak dari istri yang istimewa mewarisi kebun milik ibunya maupun saudara-saudara perempuannya. Kebun-kebun itu diurus oleh istri-istri. Jika diperlukan ada pembagian lagi, yang kelihatannya jarang terjadi, atau kebun-kebun baru dibuat, kepala keluarga individual melakukan pembagian secara adil.
            Jika sebuah kelompok seketurunan ingin menjual sebagian tanah, misalnya kepada pihak misi untuk pembangunan sekolah atau gereja, semua kelompok itu harus member izinnya, meskipun tanah itu “termasuk” miliki seseorang yang istimewa kedudukannya. Hak menggunakan milik orang lain kemudian berubah agak bebas di dalam kelompok seketurunan yang disebabkan oleh pertumbuhan keluarga yang berbeda-beda.orang besar dapat mengambil pimpinan dalam pembagian baru ini, walaupun semua dimusayawarahkan.
Proses penggunaan dan pembagian tanah dijelaskan sebagai berikut:
Seorang ayah membagi habis tanahnya, dibaginya kepada anaknya. Jika dalam masa hidupnya ia tidak memberikan kepada semua anaknya karena anak tersebut masih terlalu muda atau alasan lain, maka kewajiban ini jatuh kepada anak lelaki yang sulung yang akan memberikan kepada adiknya jika dianggap sudah layak untuk memiliki tanah. Dalam hal ini sebuah kelompok seketurunan lain, yang mempunyai banyak tanah, ia bisa memberikan sedikit kepada kelompok yang miliknya amat sedikit. Hal ini dapat dilakukan setelah diadakan banyak pembicaraan dan pembahasan, yang sebenarnya sangat jarang terjadi. Bagaimanapun juga orang –orang ini harus menyediakan tanah bagi anak-anaknya sendiri.
Pembagian tanah dan kebun secara pantas sungguh amat penting. Orang besar sangat terlibat dalam proses. Hal ini mempengaruhi soal warisan kemudian. Jika seorang perempuan diabaikan dalam hal ini, akan terluka hatinya, marah dan dendam. Orang besar tidak menjadi sasaran kemarahan itu seandainya tidak kehilangan dukungan dari keluarga terdekat, dan bila terjadi ia bisa kehilangan kedudukannya.

Pembagian dan orang besar.
Fungsi yang sangat penting  pada orang besar adalah menjalankan pembagian pangan secara adil dan menukarkan barang kelompok seketurunan yang diwakilinya. Orang besar mempunyai tanggungjawab agar setiap orang yang menjadi tanggungannya mendapat bagiannya dalam setiap ada pembagian, walaupun sedikit-sedikit. Orang besar juga bertanggungjawab dalam hal pembagian kerang, daging babi dan uang yang deiperoleh kelompok sebagai hasil dari pertukaran. Dalam hal ini orang besar harus aspiratif, memperhatikan keluhan dan keinginan kelompoknya. Jika orang besar itu tidak melakukan hal yang seharusnya, maka ia akan kehilangan posisinya yang efektif.
Saya kira saya tidak perlu menceritakan kasus yang terjadi seperti yang ditulis di dalam buku, yang penting intinya adalah bahwa pembagian tetap harus dilaksanakan seadil mungkin. Tetapi jika kelompok itu sudah terlalu besar, maka mereka akan memecah sendiri menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil dan sebahagian mengikuti orang besar tadi, dan sebahagian lagi memilih sendiri orang-orang besarnya yang akan memimpin mereka. Hal ini dilakukan dengan kesadaran bahwa orang besar yang ada tidak akan mampu berlaku dengan adil lagi jika jumlah anggotanya sudah terlalu besar.

Orang-orang besar sebagai politisi dan pengatur.
Pada hakikatnya  orang Mbowamp menerapkan demokrasi berdasarkan consensus bagi masalah-masalah organisasional. Jika sebuah kejadian atau keputusan dibicarakan, siapa saja yang berkepentingan dalam hal itu berhak untuk berdiri dan berbicara. Sifat istimewa orang besar adalah kemampuannya berbicara lancer dan berwibawa juga meyakinkan. Hal ini tidak dimiliki oleh sembarang orang. Keputusan yang diambil oleh orang besar niscaya mencerminkan sifat dan watak anggota kelompok yang hadir. Ia lebih menyimpulkan sebuah kesepakatan bersama daripada mengumumkan keputusan yang dibuatnya sendiri.

Legitimasi Orang Besar
Adapun yang melegitimasikan kedudukan dan wewenang orang besar bukanlah kelahirannya dan sifat-sifatnya yang asli. Yang terutama menentukan adalah kemampuan pribadinya sendiri yang dapat  melegitimasikan kedudukannya, dan yang kedua adalah sukses yang membuat dirinya diterima sebagai pemimpin. Variabel lain lebih mengutamakan kekuatan (rondukl). Bahwa seseorang mempunyai hubungan dengan pengaruh kekuatan jelas karena suksesnya, dan hal itu terutama memberinya legitimasi.
Orang Mbowamp tidak menggunakan setiap cara dan teknik guna mendapatkan kedudukan itu dan yang tidak membuatnya hina. Dengan kata lain, mereka menerima saja ketidaksamaan kedudukan dalam system sosial, semata-mata karena mereka kekurangan kekuatan yang dipersyaratkan.
Sekali seorang menjadi orang besar, ia  menjaga dan memelihara kedudukannya secara tidak terbatas. Namun ia harus terus menerus menghasilkan prestasi guna membuktikan bahwa dirinya tetap mempunyai hubungan dengan  kekuatan ghaib. Bila ia bertambah tua,jumlah pertukaran yagn dilakukan akan berkurang, iapun kurang sering berbicara dengan khalayak, dan orang-orangpun datang mewakili kelompoknya untuk berbincang secara terbuka. Pengurangan atau penyusutan kedudukan sering terjadi bila penggantinya adalah saudara lelakinya atau anak lelakinya yang memang sedang meningkat namanya, ada kemungkinan kelompoknya terpecah menjadi dua, terutama jika persyaratan utama mengenai jumlah anggota kelompok dan sumberdaya cukup untuk menjamin integritas structural kelompok yang baru tumbuh itu.

A.   Refleksi

a.       Terutama dalam wacana tentang para politisi di partai-partai politik. Ada semacam kesan bahwa partai politik tidak lagi menjadi salah satu agen pembelajaran politik kepada rakyat, tetapi cenderung murni menjadi media untuk mencapai kekuasaan dengan segala macam caranya. Para politisi yang berada di dalamanya juga hanya melihat pada peluang-peluang kekuasaan di dalam tubuh partai, artinya jika ia melihat bahwa peluang untuk menjadi “sesuatu” di partai tersebut tidak ada, maka ia akan berpindah partai yang menjanjikan sebuah kedudukan kepadanya. Hal ini bisa dilakukan karena secara ekonomi, politisi tersebut telah mapan. Kemapanan itulah yang dijadikan alat untuk dapat mengembara ke sana kemari mencari peluang-peluang kedudukan. Hal tersebut dapat dilakukan karena partai juga dapat memanfaatkan kemapanan ekonomi politisinya untuk ikut membesarkan partai tersebut. Kemungkinan paling pahit adalah politisi tersebut tidak bisa mendapatkan kedudukan apa-apa pada semua partai yang ia masuki, dan itu tidak mengancam kondisi kehidupannya dari segi ekonomi. Ini adalah salah satu hal yang dapat dipetik dari cerita orang besar (big man) di Dataran Tinggi Nugini.


b.      Dalam urusan persaingan, hal itu digambarkan dalam kasus Big Man dengan persaingan antara satu orang dengan orang lain dengan memamerkan kekayaan yang ia miliki. Dalam kasus tersebut ditandai dengan pertukaran yang dilakukan seseorang dengan orang lain. Pertukaran yang paling baik dalam kasus itu adalah pertukaran babi atau kerang dengan seorang perempuan yang bisa dijadikan istri. Pertukaran yang dilakukan itu dirasa perlu untuk diumumkan atau diketahui oleh orang lain dengan maksud agar ia dianggap sebagai orang yang lebih mapan secara ekonomi. Hal itu juga dimaksudkan agar masyarakat mengakuinya sebagai orang yang memiliki status sosial yang berbeda dengan orang lain.
Saat ini contoh kasus di atas dapat disamakan dengan kondisi dimana orang-orang yang saat ini ingin menjadi pemimpin di tingkat manapun, cenderung merasa perlu untuk menunjukkan / mempublikasikan kekayaannya kepada public. Kasus di Kota Tebing Tinggi, waktu itu seorang calon walikota menumpuk sembako di halaman ruko dengan jumlah yang sangat banyak untuk dibagi-bagikan kepada rakyat Tebing Tinggi. Sebuah publikasi kekayaan yang vulgar sekali, tapi cukup efektif untuk menghantarkan beliau (Syafri Cap) ke Singgasana Walikota Tebing Tinggi, walaupun akhirnya harus turun kembali karena persyaratan calon yang tidak sah, oleh karena isunya ketua KPU juga telah kena “siram” dengan sejumlah materi, plus memiliki ikatan kekerabatan, maka calon tersebut diluluskan menjadi calon walikota. Terlihat sekali efektifitas materi untuk membeli suara dalam sebuah kompetisi politik. Saya kira tidak perlu digali apakah cara itu sebuah pelanggaran atau tidak, yang jelas realitas politik / perilaku politik sebahagian besar rakyat kita masih memberhalakan materi dalam segala urusannya. Idealisme hanya sebuah angan-angan indah yang Cuma bisa dihidupkan di dalam kepala orang, dan harus mati ketika harus berhadapan dengan yang namanya materi.

Beberapa fenomena yang terjadi di beberapa kelompok keluarga saat ini juga menunjukkan hal yang sama. Kepemilikan atas materi yang banyak juga dianggap menjadi simbol atas kekuasaannya memberikan keputusan bagi kelompok keluarga tersebut, apalagi ia memiliki kemampuan retorika yang mumpuni. Materi tadi dianggap menjadi bukti atas apa yang ia utarakan di dalam sebuah musyawarah keluarga. Secara tidak sadar, materi tadi telah membungkam mulut anggota keluarga yang lain untuk berseberangan dengannya. Dalam kasus ini, anggota keluarga yang memiliki banyak materi dan dipergunakan juga untuk memebantu anggota kelompok keluarga yang lain menjadi alasan yang kuat bagi pemilik materi tadi untuk memegang kekuasaan atas kelompok keluarga tersebut. Kalaupun  misalnya seorang anggota keluarga berbeda pendapat dengan anggota keluarga yang memiliki banyak materi tadi, dan ingin membantahnya, maka ia cenderung menyimpannya saja di dalam hati daripada terkesan membantah, yang menurut fikirannya akan berujung pada tidak mendapat bantuan atau suntikan dana seperti yang berjalan sebelumnya.
Beberapa yang diucapkan masyarakat tanpa dasar yang jelas, bahwa jika seorang pemimpin itu adalah seorang yang kaya, maka ia tidak akan berfikir untuk melakukan korupsi. Dalam hal ini kepemilikan atas materi juga dijadikan sebagai sebuah alat kejujuran.

c.       Dari nilai-nilai orang Mbowamp yang diceritakan di atas dapat kita jadikan cermin untuk melihat kondisi bangsa ini sekarang. Diceritakan bahwa salah satu nilai yang dikembangkan oleh orang Mbowap itu dalam menjaga keharmonisan sosial adalah dengan menjaga hubungan baik dengan orang lain, walaupun ada keinginan kuat dari dalam dirinya untuk bersikap individualistic dan bebas. Saat ini kondisi di atas cenderung terbalik. Saat ini keharmonisan sosial seperti sesuatu yang terabaikan dan tidak terlalu diperhitungkan. Keinginan kuat untuk berlaku individualistic dan memperkaya diri sendiri seperti sedang dikompetisikan dan dipentaskan, tanpa memperhitungkan dampak dari prilakunya yang boleh jadi akan mengkonstruksi ketidakpercayaan public pada pemerintah. Nilai-nilai kebersamaan dan pengakuan atas kesamaan hak seolah hanya nilai-nilai yang harus hidup pada orang-orang bawah yang tidak memiliki akses apapun untuk berprilaku yang sama. Di dalam nilai – nilai orang Mbowamp juga diterangkan bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki otoritas terhadap orang lain. Hari ini otoritas atas orang lain terjadi dengan sangat vulgar. Sebagai contoh, di zaman yang untuk sementara ini kita sebut sudah maju, ternyata praktek yang identik / sama dengan perbudakan juga masih terjadi. Penguasaan atas orang lain sampai menyentuh ranah psikologi, sehingga memunculkan ketakutan jika memiliki niat untuk melawan. Moralitas yang saat ini juga sudah semakin memilukan, pengraupan uang rakyat dan negara tanpa merasa berdosa dan memikirkan kesejahteraan rakyat kecil sebagai salah satu bukti konkrit atas demoralisasi itu. Konsep kesetaraan (egaliter) hanya dijadikan sebuah istilah yang dibicara-bicarakan tanpa ada niat untuk mengejawantahkannya. Dengan pongahnya beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berbicara tentang konsep pembangunan rakyat, tetapi tidak pernah turun melihat kondisi daerah dan rakyat yang telah mengangkatnya ke kursi DPR tersebut. Keharmonisan sosial buat saya adalah hal yang terpenting dalam proses sosial. Saya mengistilahkan seorang anggota DPR yang dipilih dari suatu daerah pemilihan tertentu sebagai “orang besar” (Big Man). Keharmonisan sosial dan kesetaraan bagi Big Man itu seharusnya tidak membedakan tutur bahasa dengan masyarakatnya, tidak membuat kesenjangan dengan masyarakatnya dari pakaian yang ia gunakan, tidak selalu berprilaku seolah-olah ia bukan lagi bagian dari masyarakat itu, melainkan sudah berbeda, tidak bersosialisasi dengan bahasa-bahasa yang tidak dimengerti rakyat dengan tujuan hanya mendapatkan pengakuan sebagai orang yang pantas menjadi Big Man atau DPR itu, dan banyak lagi yang lainnya.

d.      Tentang hak atas tanah, terlihat bahwa ada sebuah tanggungjawab besar dari orang tua untuk memberikan warisan kepada anak-anaknya. Memang hal ini adalah lumrah dan juga terjadi pada saat sekarang ini. Tetapi apa yang ditunjukkan di atas adalah tanggungjawab yang turun temurun, misalnya ketika ayah tidak bisa memberikan tanah kepada salah satu anaknya, maka kewajiban itu jatuh pada anak sulungnya. Beberapa kasus yang terjadi saat ini adalah bagaimana agar tanah yang diwariskan dari orang tuanya bisa jatuh kepadanya dalam porsi atau jumlah yang paling besar. Tidak jarang juga terjadi perselisihan dan konflik, bahkan lebih jauh lagi harus kontak fisik antara sesama anggota keluarga disebabkan permasalahan tanah. Keluarga ayah saya juga mengalamai hal yang sama. Dengan karakternya yang keras, anak sulung dari kakek saya mendapatkan warisan yang jauh lebih luas dibandingkan adik-adiknya tanpa ada protes dari saudara-saudaranya dikarenakan menghindarkan konflik dan kekerasan. Keluarga Pardede di Medan juga mengalami hal yang sama. Dalam hal ini mungkin ada banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi yang tidak sempat terpublikasi.

Pada masyarakat Hagen Tradisional di atas juga diceritakan bagaimana satu kelompok dapat membagikan tanahnya kepada kelompok yang hanya memiliki sedikit tanah. Clifford Geertz sempat menjelaskan tentang konsep shared poverty dalam bukunya yang berjudul Involusi Pertanian. Dijelaskan di dalam buku itu bagaiamana sebuah kemiskinan yang dibagi-bagi pada masyarakat. Kesetaraan yang dibangun pada masyarakat itu tetap dijaga demi harmonisnya kehidupan di desa mereka. Pesta-pesta yang diadakan oleh seseorang di desa itu walaupun orang itu adalah orang yang tidak mampu selalu mendapatkan bantuan dari orang lain, kelak hal yang sama juga akan dialami oleh orang-orang lain yang berada di desa tersebut, sehingga yang terjadi adalah bahwa setiap orang di desa yang diceritakan Geertz itu merasa bahwa kondisi kemiskinan yang dirasakannya juga dialamai oleh orang lain, dan saling bahu membahu mengatasi kemiskinan mereka.





No comments:

Post a Comment

Mengenal Grandslam

Salah satu cabang olahraga yang memiliki paling banyak turnamen kelas dunia adalah Tenis Lapangan. Beberapa opini masyarakat mengatakan ba...