Tuesday, 22 January 2019

Otoetnografi


RESUME
OTOETNOGRAFI

            Otoetnografi bekerja dan berfungsi untuk mempersatukan diri (self) dan kebudayaan, meskipun tidak dalam kondisi seimbang atau statis. Otoetnografi menulis sebuah dunia dalam kondisi mengalir deras dan bergerak – antara kisah dan konteks, penulis dengan pembaca, krisis dengan pemecahan masalah. Otoetnografi menciptakan momen-momen kejelasan, hubungan dan perubahan yang penuh emosi.
Menulis etnografi juga merupakan aksi penyeimbang. Dalam sebuah bab handbook yang dimaksudkan agar bisa menggerakkan teori dan metode menuju aksi. Di sini akan diawali dengan jenis aksi penyeimbang yang lain, dengan memilah-milah buku dan essai, mencari kata-kata yang telah digunakan oleh para penulis lain untuk melukiskan pelaksanaan penulisan otoetnografi.
Otoetnografi adalah, ‘penelitian, penulisan dan metode yang menghubungkan sisi autobiografis dan pribadi dengan aspek kultural dan sosial. Bentuk ini lazimnya menyoroti aksi konkrit, emosi, perwujudan, kesadaran diri, dan intropeksi dan mengklaim konvensi penulisan literer.
‘sebuah narasi-diri yang mengkritik keterposisian diri (self) dan other di dalam konteks sosial’.
‘teks-teks yang mendemokratisasikan ruang representasional kebudayaan dengan menempatkan pengalaman parikuler individu ke dalam posisi tarik ulur dengan ekspresi-ekspresi dominan kekuatan diskursif’.
Namun, karena otoetnografi adalah sesuatu yang disebut genre yang kabur oleh Geertz (1983), maka otoetnografipun tumpang tindih dengan, dan berutang budi pada, penelitian dan praktek penulisan dalam antropologi, sosiologi, psikologi, kritik sastra, jurnalisme dan komunikasi.
            Otoetnografi adalah, sebuah perjumpaan dahsyat, sebuah momen kerentanan dan ambiguitas yang bersifat sensual, mewujud dan berjalin berkelindan di dalam struktur sosial dan ideologis kehidupan nyata mereka.
‘jenis seni yang membawa anda menyelami diri anda lebih dalam dan pada akhirnya keluar lagi’.
            Otoetnografi adalah, menetapkan konteks, menuturkan kisah, menjalin hubungan yang rumit antara kehidupan dengan seni, pengalaman dengan teori, penciptaan dan penjelasan…dan kemudian melepaskannya, berharap pada para pembaca yang akan mencurahkan perhatian cermat yang sama pada kata-kata anda di dalam konteks kehidupan mereka sendiri.
Menghadirkan sebuah teks. Menuntut perhatian dan partisipasi. Melibatkan semua pihak yang berkepentingan. Menolak pembungkaman atau kategorisasi.
Menyaksikan pengalaman dan mengakui kekuasaan tanpa merenggut – kesenangan, perbedaan, kemanjuran.
Percaya bahwa kata-kata itu bernilai sekaligus menulis (demi) menyambut momen tatkala titik penciptaan teks-teks otoetnografisnya adalah demi mengubah dunia.
            Otoetnografi adalah, sebuah teks pertunjukan…mengolok dalam diri sambil menunggu untuk dipentaskan.
KRISIS
 Inilah krisis tiga lapis, ancaman tiga lapis, mahkota duri tiga lapis: representasi, legitimasi dan praksis. Ketiga krisis ini, yang menandai dan berdampingan dengan prealihan menuju penelitian interpretative, kualitatif, naratif, dan kritis di dalam disiplin humaniora, diseur dengan kalimat yang sering dikutip dalam sandiwara yang sudah akrab: seberapa besarkah pengetahuan seorang pakar, bagaimana ia mengetahuinya, dan apa saja yang bisa dilakukannya dengan pengetahuan tersebut di dunia.
            Krisis semata-mata merupakan akibat dari konflik kekuasaan, watak dramatis aksi manusia, dan pilihan-pilihan (sadar tak sadar) yang kita ambil di dalam dunia yang penuh dengan kemungkinan. Drama representasi, legitimasi dan praksis merupakan bagian dari dialog berkesinambungan antara diri dengan dunia yang menyangkut masalah-masalah ontology, epistemology, metode dan praksis:  apakah hakikat mengetahui itu, apakah makna hubungan antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui, bagaimanakah kita berbagi sesuatu yang kita ketahui dan dengan makna/dampak apa? Factor yang menjadikan krisis tida lapis ini terasa mendesak adalah cara-cara yuang ditempuh oleh dialog di atas dalam mempertanyakan stabilitas dan koherensi kehidupan kita sewaktu kita menjalani dan menuturkannya.
            Krisis adalah sebuah titik balik, sebuah momen ketika konflikl harus dihadapi meskipun tidak bisa memecahkannya. Konflik adalah sebuah ketegangan yang membuka ruang ketakpastian, mengancam menggoyahkan struktur sosial, dan memunculkan katakpastian kreatif. Penelitian kualitatid, naratif dan krisis telah mengalami  banyak momen kritis seperti itu, yang kesemuanya menjurus pada pergeseran genre dan metode. Kita telah berpindah dari…
Kemustahilan katalogisasi yang cermat, setia dan otoritatif terhadap other yang eksotik…
Menuju paparan naratif yang parsial, refleksif, dan naratif lokal…
Menuju teks-teks yang bekerja  untuk menciptakan ruang bagi sebuah etika dialog.
Pada saat ini…
Kita menghadapi kemustahilan menyajikan pengalaman nyata dengan memutuskan hubungan antara kehidupan dengan teks…
Kiita menyusun (dan mempertanyakan pengembangan) criteria untuk memahami dan mengevaluasi kerja ilmiah yang kita lakukan untuk menuturkan kondisi-kondisi kehidupan kita…
Kita memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang memberikan sumbangsih besar dengan menuiis pencitraan sosial secara merangsang dan revolusioner.
Kita bangkit menyambut tantangan gerakan…

GERAKAN
 Meskipun penulis tulisan ini bisa menempatkan ‘bermacam-macam refleksi’ ke dalam konteks peralihan dan gerakan yang lebih besar dalam penelitian interpretative, kualitatif, naratif, dan krisis, penulis tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap kemarahannya yang ia rasakan pada saat penulis membaca essai Ronai (1995).
            Kepada kita semua -  adalah untuk bergerak dari amarah menuju aksi politis yang progresif, menuju teori dan metode yang menghubunhgkan politik, pedagogi, dan etika menuju aksi dunia.
Inilah sebuah tantangan yang sudah digarap dan dicoba dijawab oleh para pakar otoetnografi secara pelan-pelan dan bertahap. Inilah tantangan menciptakan teks-teks yang tersingkap di dalam ruang  intersubjektif individu dan komunitas serta yang merangkul taktik untuk mengetahui sekaligus memperhatikan .
Upaya untuk menjawab tantangan ini berarti mengajukan pertanyaan tentang hal-hal berikut:
-          Bagaimana ilmu pengetahuan, pengalaman, makna dan perlawanan terekspresikan melalui cara-cara yang terwujud, tersirat, intonasional, isyarat tubuh, improvisasional, koeksperiensial, dan tersembunyi. (Conguergood,2002). Teks-teks autoetnografis memusatkan perhatian kepada bagaimana orang-orang yang menggunakan bentuk-bentuk komunikasi yang halus dan samar secara sadar -  yaitu bentuk komunikasi yang bukan tekstual atau pun visual – untuk mengungkapkan fikiran , fikiran dan hasrat mereka dengan menuangkan praktik komunikasi tersebut ke dalam tulisan dan mementaskannya di atas panggung.
-          Bagaimana emosi itu penting untuk memahami dan merumuskan teori tentang hubungan antara diri, kekuasaan dan kebudayaan. Teks-teks autoetnografi memusatkan perhatian pada penciptaan pengalaman emosional yang kasat mata, karena pengalaman seperti ini berhubungan, sekaligus terpisah, dengan cara-cara yang lain dalam mengetahui, mewujud dan bertindak  terhadap dunia.
-          Bagaimana tubuh dan suara tidak bisa dipisahkan dari akal dan pemikiran sekaligus bagaimana tubuh dan suara bergerak serta diistimewakan  (sekaligus dibatasi dan ditandai) dengan cara-cara yang sangat khusus dan politis. Teks-teks autoetnografi berupaya menciptakan watak pengalaman yang kasat mata, sensual dan politis, bukannya mengubah teks ke dalam perwujudan atau politik ke dalam permainan bahasa.
-          Bagaimana diri dikonstruksi, disingkap dan dianyam ke dalam peraturan narasi tersebut bergerak di dalam sekaligus mengubah konteks yang menjadi penuturannya.
-          Bagaimana kisah-kisah membantu kita menciptakan, menginterpretasikan, mengubah kehidupan sosial, cultural, politis dan pribadi kita. Teks-teks autoetnografi tidak hanya menunjuk pada keharusan narasi dunia kita, namun juga menunjuk pada kekuatan narasi dalam menyingkap dan memperbaiki dunia tersebut.
BERALIH KE PERTUNJUKAN:
SURAT TENTANG/DEMI/MENGENAI PERUBAHAN.
Bangkitnya pertunjukan
Conguergood (1991) melacak kebangkitan pertunjukan dalam penelitian etnografis dan penulisan etnografis dalam tulisannya,’mengkaji ulang etnografi. Ia melacak peralihan ke pertunjukan ke karakterisasi umat manusia sebagai homo performansnya Victor Turner – umat manusia sebagai pementas sebuah makhluk pencipta kebudayaan, pementas sosial, pencipta diri. Upaya Turner untuk menghubungkan etnografi dengan pertunjukan sebagai sebuah praktek yang hidup dan dihayati; ternyata mencapai empat tujuan:
Pertama, upata tersebut mengalihkan perhatian kita bagaimana tubuh dan suara terposisikan di dalam konteks – di dalam dan tentang’waktu’, tempat dan sejarah.
Kedua, gerakan performatif mendorong para peneliti dan subyek yang diteliti menuju sebuah hubungan nyata ‘keterlibatan akrab dan penggiatan “aktivitas bersama” atau pertunjukan bersama dengan “individu-individu unik” yang terposisikan dan memiliki nama secara historis.
Ketiga, etnografi berpusat- pertunjukan menunjuk pada bias visual, linguistic dan tekstual peradaban barat dan mengarahkan ulang perhatian kita pada ekspresi kebudayaan dan dunia nyata, tugas lapangan dan penelitian yang berciri auditorius, badaniah dan postmodern.
Keempat, dalam menegaskan watak kehidupan sosial dan pertunjukan cultural yang ‘polisemik’ dan konstitutif, paradigma pertunjukan menuntut kita untuk memusatkan perhatian pada bagaiman teks bisa diciptakan, dikomunikasikan dan paling lazimnya dikritik di berbagai tingkat.
Kritik Ekfrastik
Ekfrastik? Apakah artinya? Kerja ekfrastik adalah perenungan atas tindakan kreatif orang lain. ‘Teks-teks ekfrastik berupaya membangkitkan ‘kemampuan mencipta gambar kata-kata di dalam puisi’. Ekfrasis melukiskan upaya-upaya kita dalam menerjemahkan dan mengubah pengalaman menjadi teks dan teks menjadi pengalaman. Ekfrasis menghembuskan kata-kata ke dalam gambar bisu; ekfrasis menciptakan gambar dari kata-kata menggantung dari teks ekfrasis itu sendiri. Ekfrasis bertutur tentang urgensi sama besarnya dengan tentang istirahat, sama besarnya tentang istirahat, sama besarnya tentang perjalanan dengan Jeda.
Menggarap Tubuh Mengolah Kebudayaan
Jones (2002) menulis bahwa etnografi pertunjukan ‘paling mudahnya, adalah cara mengolah kebudayaan di dalam tubuh’. Namun proses penciptaan dan pementasan etnografi pertunjukan bukanlah semata-mata penempatan, dan kemudian permainan, tubuh di dalam kebudayaan. Justru sebaliknya, etnografi pertunjukan berupaya mengajak peneliti dan audiens dengan menciptakan sebuah pengalaman yang menghadirkan bersama-sama teori dan praksis dengan cara-cara yang kompleks, kontradiktif dan bermakna.
Menggarap tubuh mengolah kebudayaan bisa berupa sebuah etnografi pertunjukan yang memusatkan perhatian pada empat prinsip:
a.      Menciptakan sebuah konteks khusus bagi pertunjukan
b.      Bekerja secara kolaboratif dan bertanggung jawab atas komunitas tugas lapangan.
c.       Menekankan peran pementas yang ‘terposisikan dan berkepentingan’ dalam menginterpretasikan kebudayaan.
d.      Menawarkan berbagai perspektif yang harus secara aktif yang dipadukan oleh para audiens.
Mencipta ulang diri
Miller (1998) menegaskan bahwa upaya menghimpun minat pada pertunjukan autobiografis sesungguhnya lebih banyak berkaitan dengan pergeseran studi pertunjukan dari pertunjukan estetik ke paradigma yang lebih integral untuk menjelaskan, mengkritik dan mengalami bagaimana kehidupan kontemporer dijalani.
Perbedaan antara pengalaman dengan kisah, antara perbuatan dengan hasil perbuatan sesungguhnya tergantung pada pandangan tentang performativitas yang menyatakan bahwa sebuah kisah hidup – identitas – bukanlah sesuatu yang dipilih untuk dilakukan oleh penulis/pementas namun (justru) berciri performatif dalam pengertian bahwa kisah hidup tersebut merupakan dampak dan sesuatu yang tampaknya diekspresikan itu sendiri.
Performativitas menunjuk pada kemustahilan memisahkan kisah-kisah hidup kita dari konteks sosial, cultural dan politis tempatnya tercipta dan dari cara-cara yang pertunjukan sebagai satu tempat dialog dan negosiasi itu sendiri merupakan sebuah ruang yang diperebutkan.
Tulisan performatif menghadirkan dinamika performativitas pertunjukan ke dalam momen penulisan teks yang menjadi tempat untuk mengkonstruksi, menginterpretasi, dan mengubah identitas dan pengalaman. Tulisan performatif muncul ketika kita menjumpai buku/artikel dengan maksud hendak memasuki satu diskusi yang ditandai oleh perdebatan dan negosiasi, pengetahuan berwujud dan pertukaran pikiran dan penuh permusuhan, dan tuduhan emosional dan intelektual. Tulisan performatif muncul ketika ktia mengajak audiens untuk ikut berdialog ketika kita menulis, berbicara, dan mementaskan kata-kata di buku, melalui mulut kita, pada tubuh kita, dan dunia. Karena dinamika performativitas pertunjukan menyatakan bahwa pertunjukan itu tidak bisa dipisahkan dengan politik, maka pertunjukan autobiografis, narasi pribadi, dan otoetnografi performatif mencampuradukkan dengan hal-hal peribadi ke dalam ranah politik dan ranah politik ke dalam hal-hal peribadi dengan cara-cara yang bisa, memang dan harus diperhitungkan.
Mementaskan Kemungkinan
Pertunjukan kemungkinan tercipta di dalam momentum gerakan dari kebisuan ke suara dan dari pinggir ke pusat. Pertunjukan kemungkinan menyediakan suatu tempat berkumpul bagi narasi-narasi yang memperjuangkan perubahan dalam sistem dan proses yang membatasi kemungkinan.
Ruang dan gerakan pertunjukan kemungkinan dijiwai oleh tanggung jawabuntuk melibatkan diri dan other secara etis dengan menempuh cara-cara yang tidak menutup atau mencegah dialog. Pertunjukan kemungkinan memberikan saran sekaligus metode bagi etnografi yang bersifat  mengubah dan bisa menjadi alternative. Pertunjukan kemungkinan memberikan, meminjam deskripsi, berciri sebagai penghubung; pertunjukan kemungkinan mempersatukan yang mungkin mempersatukan yang mungkin dan yang ada, memberikan wahana untuk memunculkan perbedaan sekaligus meredamnya; pertunjukan kemungkinan bersatu padu melalui gerakan.
Mementaskan perlawanan sosial
Sewaktu gerakan-gerakan nasional yang menjadi mitra aliansi pertunjukan di atas mulai terpecah-pecah dan berubah arah, pertunjukan yang memiliki semangat perlawanan sosial juga mulai berubah. Para pementas mengarahkan perhatian mereka pada aneka persoalan di dalam komunitas mereka sendiri dan mulai menjajaki kebutuhan untuk tidak hanya mengekspresikan solidaritas dan kesatuan umum juga rumitnya hubungan antara identitas, perbedaan dan identifikasi.
Para partisipan memang belajar untuk menjadi partisipaan yang aktif di panggung dan di dunia. Mereka memetik manfaat dari pertunjukan dengan cara-cara yang bisa didefinisikan dan bersifat material. Berbagai tantangan yang menyelimuti kebutuhan yang menyeimbangkan antara perhatian estetik dengan berbagai pengalaman, dampak terpecah-pecah dari dialog berbasis identitas, dan kebutuhan untuk menghubungkan aksi lokal dengan konteks yang lebih besar sesungguhnya memicu pergeseran dari pertunjukan berbasis komunitas ke teater dan dialog sipil.
PRAKSIS PERFORMATIF: OTOETNOGRAFI SEBAGAI SEBUAH POLITIK YANG (SARAT) KEMUNGKINAN
Penulis  tulisan (Jones) ini ingin mengakhiri tulisannya dengan meminta pembaca untuk menjaga agar percakapan percakapan ini berlangsung di dalam teks, konteks dan praksis kita sendiri. Jones juga menghendaki agar pembaca membawa percakapan ini ke dalam peralihan, krisis dan momen dalam otoetnografi berikutnya sekaligus agar menggerakkan karya kita, tanpa ragu-ragu atau beban dari aspek politis.
Kita bisa menciptakan perbedaan di dalam dan di luar proses individual untuk mengetahui dan mulai mengetahui – dan kemudian menuliskan dan berbagi proses-proses tersebut. Jones meyakini masa depan otoetnografi. Dengan semangat bergerak menuju masa depan, Jones ingin menantang pembaca untuk melakukan hal-hal berikut:
-          Kenali kekuatan antara/penengah. Kenali kekuatan menempuh dua cara, kekuatan dari penekan interaksi antara pesan dan estetika, proses dengan perilaku, individu dengan sosial. Ingatlah bagaimana krisis, peralihan dan gerakan di dalam dan menuju narasi, pertunjukan dan teater protes sosial tercipta di dalam probabilitas radikal yang hadir di ruang-ruang antara ini.
-          Pentaskan perjumpaan yang mustahil. Ciptakan teks-teks yang mementaskan apa yang disebut ‘perjumpaan yang mustahil’ oleh Cohen Cruz (2001) dalam ‘kemampuan teks-teks tersebut mendekatkan atau mengakrabkan manusia dengan gagasan, situasi atau faktor-faktor lain yang tampak benar-benar berbeda’.
-          Kontekstualisasikan pemberian testimony dan kesaksian. Pentaskan testimoni dan kesaksian akan kisah-kisah pribadi di dalam, melalui dan dengan konteks sosial yang lebih besar.
misalkan saja kita menghadirkan teks-teks kita ke dalam konteks, kita bisa menciptakan karya yang menjadi langkah pertama menuju perubahan sosial.
-          Ciptakan Kekacauan. Hargailah teks-teks yang ditujukan untuk memprovokasi, mengajukan pertanyaan dan mengajak penulis dan audiens, yaitu teks-teks yang menciptakan kekacauan. Manfaatkan persekongkolan aspek / biner yang terkandung dalam penulisan dan pembacaan teks-teks autoetnografis – di dalam cara dan kapan kita menempatkan hidup dan sekaligus tubuh kita ke dalam teks-teks yang kita ciptakan, geluti dan pentaskan, maka hidup dan tubuh kita tersebut tidak lagi menjadi milik kita sendiri; entah baik atau buruk, hidup dan tubuh tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman komunitas.
-          Ciptakan teks yang berwatak tersurat. Responlah kebutuhan untuk tampil tersurat dalam menggerakkan para pembaca dan audiens anda secara intelektual, emosional dan menuju aksi sosial, cultural dan politis bersama.




1 comment:

  1. -jalan nya diperbaiki supaya menghindari kecelakaan .
    -memperbanyak penghijauan
    -tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk tetap membuang sampah pada tempatnya

    ReplyDelete

Amanatku sebagai Pembina Upacara

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua. Anak-anak sekalian... Satu hal y...