Tuesday, 22 January 2019

Potensi Pariwisata dan Sex


Potensi Pariwisata ditinjau dari perspektif sex


Pendahuluan
            Undang-undang No 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan. (Salah satu tujuan penyelenggaraan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, juga memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta mendorong pembangunan daerah). Untuk itu sudah selayaknya pariwisata dapat dijadikan alternative penggerak perekonomian hingga sedemikian rupa menjadi sumber pendapatan bagi setiap daerah yang memiliki potensi untuk menyelenggarakannya, dalam upaya memperoleh atau meningkatkan pendapatan daerah.
            Proses pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan peningkatan “sadar wisata” masyarakat. Tugas aparat pemerintah adalah untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terciptanya peran serta masyarakat dengan cara-cara yang mudah difahami dan dilaksanakan oleh masyarakat. Sadar wisata dikalangan masyarakat tidak tumbuh dengan sendirinya, masyarakat lebih mudah memahami apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Pembangunan pariwisata yang manfaatnya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat akan menciptakan iklim yang lebih baik bagi tumbuh dan berkembangnya sadar wisata di kalangan masyarakat.
Wacana tentang pariwisata seringkali menjadi perbincangan yang tak habis-habisnya di Negara tercinta Indonesia ini. Potensi pariwisata itu dilihat tentunya pertama sekali dari potensi sumber daya alamnya. Dalam arti kata alam yang ada dianggap memberikan daya tarik tersendiri bagi pemandangan mata. Memang ada beberapa criteria agar sebuah daerah pariwisata itu dapat maju dengan baik. Di antaranya adalah, ada matahari (sun), ada pasir (sand), dan seks (sex), di samping air dan alam. Walaupun begitu, tidak selamanya potensi alam yang baik itu menjamin sebuah kepariwisataan yang baik pula. Hal lain lagi yang sangat dibutuhkan adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui system pengetahuan yang ada pada manusia maka manusia akan dapat merubah apa saja sesuai dengan kemauannya. Singkat kata, budaya manusialah yang menentukan bagaimana alam akan tercipta. Dalam artian bahwa manusia dapat juga melakukan rekayasa terhadap alam, dan tidak selamanya alamlah yang menentukan kebudayaan manusia.
Di daerah Sumatera Utara, ada berbagai tempat yang menjadi daerah pariwisata yang tersebar di beberapa kabupaten. Di antaranya adalah, Danau Toba di Kabupaten Simalungun, Bukit Lawang di Kabupaten Langkat, Sipiso-piso di Kabupaten Karo, dan beberapa tempat wisata lain yang lebih kecil di beberapa daerah perkotaan. Daerah- daerah pariwisata ini dalam pandangan pemerintah merupakan sebuah potensi untuk menambah devisa Negara. Untuk itulah pemerintah seharusnya juga memberikan perhatian yang serius terhadap daerah-daerah pariwisata ini, tidak hanya sekedar konsen pada urusan pemasukan atau retribusi yang dapat dihasilkan dari daerah tersebut. Melalui Dinas Pariwisata sebagai perwakilan pemerintah yang paling berkompeten mengurusi permasalahan ini, tentu harus memiliki berbagai program kerja yang dapat meningkatkan lagi potensi-potensi pariwisata yang ada di seluruh Indonesia ini. Salah satu yang paling dekat adalah Bukit Lawang yang terletak di Kabupaten Langkat.

Meninjau daerah Bukit Lawang
a.      Kondisi alam



Wisata bukit Lawang menjadi tujuan wisata andalan di Leuser dikarenakan memiliki daya tarik swasta langka Orang Utan Sumatera semi liar dan panorama hutan hujan tropis. Bukit Lawang atau lebih dikenal sebagai pusat pengamatan Orangutan Sumatera memiliki luas 200ha, berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Dulunya Bukit Lawang merupakan pusat rehabilitasi Orangutan di Bukit Lawang berawal dari program yang dijalankan oleh WWF dan Frankfurd Zoological Society pada tahun 1973.
Saat itu sebagai perintis yaitu Regina Frey dan Monica Borner melihat bahwa kondisi dan situasi Bukit Lawang sesuai untuk dijadikan pusat rehabilitasi orangutan. Pada awalnya pusat rehabilitasi ini hanya dikunjungi oleh para peneliti maupun para konservasionis. Pada perkembangannya kemudian, daerah ini berkembang menjadi Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera dan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Sumatera Utara yang ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara. Tercatat sejak tahun 1972 hingga 2001, bukit lawang merupakan tempat rehabilitasi Orangutan. Dalam kurun waktu ini, 229 orangutan bekas peliharaan yang disita dari perdagangan swasta sudah direhabilitasi di lokasi ini. Bukit Lawang hingga kini diakui sebagai pintu gerbang terbaik untuk menikmati keindahan Taman Nasional Gunung Leuser yang mempesona. Walaupun bukan lagi sebagai tempat rehabilitasi dan pelpasliaran Orangutan, hutan di sekitar kawasan Bukit Lawang masih menyisakan peluang untuk dilakukannya aktivitas wisata dan pengamatan Orangutan Sumatera dan juga spesies tumbuhan dan satwa lainnya.
Pondok-pondok wisata bernuansa alami dengan tarif bervariasi ntara Rp. 100.000 s/d Rp. 500.000 per malam. Fasilitas wisata lainnya yang tersedia berupa restoran / rumah makan, areal camping ground, viewing centre, information corner, visitor centre, terminal, pintu gerbang kawasan, jalan setapak/trail, papan informasi, feeding site dan sampan penyeberangan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan ini telah menjadi daerah tujuan wisata hutan hujan tropis yang cukup dikenal di mancanegara.
Suhu Udara rata-rata 21,1°C – 27,5°C. Kelembaban nisbi 80 - 100%. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Topografi kawasan, landai dan perbukitan dengan kemiringan bervariasi (45 - 90%). Memiliki tipe ekosistem dataran rendah dan bergelombang¹.
Daerah Bukit Lawang terdapat sebuah sungai yang memanjang dari hulu sungai yang diapit oleh hutan-hutan di kiri dan kanannya. Suasana hutan dengan pepohonan yang rindang itu menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi bukit lawang sebagai sebuah tawaran bagi para turis-turis baik local maupun manca Negara untuk dating ke sana. Di samping itu, dalam rimbunnya pepohonan hutan itu terdapat juga hewan-hewan monyet atau orang hutan yang dilindungi oleh beberapa lembaga yang konsen dengan urusan orang hutan. Hal itu menjadi tambahan terhadap daya tarik wisatawan untuk dating ke bukit lawang. Pada dasarnya memang yang menjadi modal utama kepariwisataan bukit lawang adalah sungai ada di sana. Dengan batu-batuan yang ada di sepanjang sungai itu maka dijadikanlah menjadi sebuah tempat selain untuk mandi-mandi para wisatawan dengan keluarganya, juga dimanfaatkan oleh orang-orang setempat untuk membuat perahu-perahu karet sebagai sampan yang dapat digunakan wisatawan mengarungi sungai yang terkesan menantang itu. Kalau saya boleh mengistilahkannya, maka ia dinamakan dengan ‘arung jeram mini’.
      Menurut beberapa informan yang saya wawancarai, sungai yang digunakan oleh para wisatawan itu dahulunya (pra banjir bandang) yang terjadi beberapa tahun yang lalu memiliki lebar yang kurang dari sekarang. Artinya sungai yang ada saat ini lebih lebar dari yang sebelumnya. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk rekayasa manusia terhadap alam. Pelebaran itu dilakukan dengan tujuan agar sungai yang ada itu dapat diatur sesuai dengan kepentingannya. Pada bagian-bagian tertentu, terlihat air sungai itu mengalir lebih deras dibandingkan dengan bagian sungai yang lain. Ini dimaksudkan pada bagian sungai yang deras itu dapat digunakan oleh para pengarung jeram mini untuk menikmati arung jeramnya. Sedangkan pada bagian sungai yang tidak begitu deras, dapat digunakan oleh para wisatawan untuk mandi-mandi atau menikmati air bersama dengan keluarganya, baik itu anak-anak atau para perempuan tanpa khawatir akan hanyut terbawa air sungai.

b.      Meninjau  Ekonomi Rakyat.






Mata pencaharian masyarakat di Bukit Lawang umumnya adalah petani dan Pedagang. Selain itu banyak lagi usaha-usaha yang mereka ciptakan sendiri seperti pemandu wisata lokal untuk pengunjung yang membutuhkan pemandu selama melakukan petualangan di Taman Nasional Gunung Leuser. Selain itu ada juga pondok-pondok penginapan di bukit lawang yang menyediakan pilihan paket-paket wisata yang menarik dengan harga terjangkau.
Sejauh mata memandang, seluruh daerah pariwisata bukit lawang itu tidak lepas dari obyek-obyek yang dimanfaatkan rakyat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi (economic benefit). Dimulai dari kedatangan ke bukit lawang, di sana akan ditemukan kutipan (retribusi) bagi para pengunjung yang masuk ke wilayah pariwisata. Hal itu dapat penulis maklumi sebagai bagian dari pendapatan daerah setempat. Masalah berikutnya adalah kutipan yang dilakukan warga setempat berupa kutipan parkir Rp 10.000 bagi sepeda motor, dan Rp 20.000 bagi mobll. Jumlah kutipan itu sebenarnya telah dikeluhkan oleh para pengunjung dan juga oleh para pedagang setempat. Keberatan para pedagang dengan kutipan itu disebabkan karena jumlah pengunjung dirasakan mereka semakin jauh menurun dibandingkan dengan pengunjung pada saat belum ada kutipan parker itu.
Di sepanjang perjalanan menuju pantai terlihat para pedagang dengan masing-masing jenis dagangannya. Mulai dari dagangan pakaian, makanan, sampai para pencari rezeki berupa permainan judi bola kecil yang digelar di beberapa tempat. Tidak berhenti di situ, warga setempat juga membuat ruang-ruang ganti pakaian dan pengguna harus membayarnya. Begitu juga di pinggiran pantai para penduduk mendirikan gubuk-gubuk kecil tempat para pengunjung berteduh sambil menikmati air sungai. Selain itu tikar juga mereka sediakan dengan membayar sejumlah rupiah bagi para pengunjung yang tidak membawa tikar sendiri. Bahkan untuk jembatan penyeberangan dari sisi pantai yang satu ke sisi pantai yang lain juga dibuat warga setempat, dimana bagi para pengunjung yang akan menyeberang melalui jembatan itu juga harus membayar.
            Kesempatan-kesempatan untuk menggali pendapatan ekonomi yang dibuat masyarakat seolah membutakan mata mereka akan keindahan dan nilai-nilai budaya yang sebenarnya merupakan factor yang cukup penting dalam merekrut para tourist untuk datang ke daerah tersebut. Dari sisi keindahan sebuah daerah wisata tentu pemandangan yang dibuat oleh warga dengan segala bentuk mata pencariannya sangatlah tidak enak dipandang mata. Misalnya para pemain judi bola kecil yang membuka tempat di jalanan dimana para pengunjung lewat. Selain hal ini mengganggu kelancaran jalan, juga menjadi kesan bahwa masyarakat tidak memilki sense of belonging terhadap kenyamanan daerah wisata setempat.

c.       Meninjau Sosial Budaya Masyarakat.
Bukit lawang yang terletak di Kabupaten Langkat. Budaya di daerah Bukit Lawang heterogen, tidak ada yang dominan antara suku Melayu, Karo, Jawa dan Batak. Dalam kajian Kebudayaan Parwisata, diulas tiga hal, yaitu: pertama, wisata budaya sebagai suatu jenis wisata, kedua, pengaruh wisata terhadapa kebudayaan. Hal pertama, wisata budaya diartikan sebagai jenis kegiatan pariwisata yang objeknya adalah kebudayaan. Ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualang. Namun demikan tidak berarti bahwa seorang wisatawan tidak bisa memiliki lebih dari satu program pariwisata. Obyek daya tarik wisata budaya itu dapat berkisar pada, kesenian (seni rupa dan segala bentuk pertunjukan), upacara adat, demonstrasi lain yang bersifat kesenian. Hal inilah salah satunya yang tidak ditemui di bukit lawang.
Mengenai pengaruh wisata atau dampak pariwisata di suatu daerah terhadap sosial budaya sangat terasa, apalagi daerah tersebut menerima pengaruh dengan cepat tanpa ada penyaringan yang ketat terhadap kedatangan wisatawan. Salah satu hal adalah dimana daerah yang dituju merupakan daerah yang lemah dalam bidang ekonomi, dengan sendirinya akan mengikuti perkembangan dan merubah tatanan perekonomian sendiri. Salah satu contoh mengubah mata pencaharian semula yang mereka lakukan secara tradisional menjadi lebih modern.
Masalah tentang dampak pariwisata terhadap sosial budaya selama ini cenderung mangasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial budaya akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi umum, yaitu:
a.      Perubahan dibawa sebagai akibat adanya pengaruh dari luar, umumnya dari sistem sosial budaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;
b.      Perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;
c.       Perubahan tersebut akan membawa pada hegemonisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industry dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.
Menurut pendapat di atas menyiratkan bahwa di dalam melihat dampak pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat setempat, pariwisata semata-mata dipandang sebagai faktor luar yang akan merubah secara pasti terhadap sosial budaya pada masyarakat lokal.

Asumsi di atas tidak terlihat dalam kasus bukit lawang. Bukit lawang sebagai salah satu tempat wisata tidak menunjukkan satu warna budaya tersendiri yang menjadi penarik bagi kedatangan para turis ke sana. walaupun dalam keterangan di atas disebutkan bahwa daerah bukit lawang tidak didominasi oleh salah satu etnis tertentu, tetap saja tidak terlihat salah satu cultural permormance yang ditampilkan dalam arena wisata tersebut. Keseluruhannya berbaur dalam sebuah “budaya umum” yang biasa ada dalam arena wisata.
Dengan demikian jika kita berbicara tentang sebuah perubahan yang diakibatkan oleh wisatawan, maka bukit lawang dalam hal ini masih sangat kecil kemungkinannya mengalami perubahan. Wisatawan mancanegara yang berada di bukit lawang juga dalam observasi penulis tidak begitu besar jumlahnya dibandingkan dengan daerah wisata yang lain seperti Danau Toba. Dengan jumlah yang tidak banyak itu, maka dapat diasumsikan bahwa dampak yang ditimbulkan juga tidak begitu besar bahkan tidak terlihat sama sekali. Yang terlihat dilapangan hanyalah para wisatawan yang mencoba melebur dengan kebiasaan dan budaya yang ada di daerah tersebut.
Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan pariwisata dimanapun tempatnya akan menimbulkan sebuah proses akulturasi dengan dampak terjadinya perubahan nilai-nilai budaya dan akan berpengaruh pula pada perilaku-perilaku individu dalam masyarakat sekitar. Terutama bagi masyarakat sekitar yang yang sering dan mengalami kontak langsung dengan para wisatawan.
Pariwisata yang menekankan pendekatan ekonomi cenderung memberikan peranan utama pada pemerintah atau pemilik modal, dan tujuannya juga ditentukan dan terutama untuk kepentingan mereka. Peranan masyarakat sangat rendah sehingga mereka cenderung sangat patuh dan tidak punya inisiatif karena lebih ditempatkan sebagai obyek daripada sebagai subyek. Sebagai akibatnya, adat istiadat, nilai-nilai, norma-norma, menjadi semakin terkikis. Ritual-ritual suci semakin dangkal dan pertunjukan-pertunjukan seni menjadi semakin tidak berjiwa. Masyarakat menjadi apatis dan kesejahteraan merekapun tidak begitu meningkat. Pengaruh pariwisata terhadap masyarakat (kebudayaan) setempat, harus disadari bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang secara internal terdiferensiasi, aktif dan selalu berubah. Oleh karena itu pendekatan yang kiranya lebih realistis adalah dengan menganggap bahwa pariwisata adalah ‘pengaruh luar yang kemudian terintegrasi dengan masyarakat’, dimana masyarakat mengalami proses menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebudayaannya, atau apa yang disebut sebagai ‘turistifikasi’ (touristifacation)².
PEMBAHASAN
Meninjau “ Sex “ sebagai potensi Pariwisata.
            Dengan Ramainya para wisatawan baik mancanegara ataupun wisatawan lokal yang datang dengan motivasi sendiri-sendiri tentu akan menjadikan masyarakat bukit lawang terus mencari celah dalam rangka mendapatkan keuntungan ekonomi. Selain dari para pedagang kuliner, pakaian dan lain-lain, turut juga hal-hal yang berbau sex menjadi salah satu potensi perekrutan ekonomi tersebut.
            Sepanjang observasi yang penulis lakukan di lapangan terlihat bahwa norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku cenderung hanya berorientasi pada keamanan para pengunjung. Hal-hal lain seperti perilaku pacaran dan seks tidak menjadi sesuatu yang sangat diatur di daerah wisata tersebut. Ini menjadi salah satu peluang bagi masyarakat untuk memberikan pelayanan yang baik kepada para wisatawan yang membutuhkan kepuasan seks. Selain tempat-tempat bagi para pasangan yang ingin melampiaskan kebutuhan biologisnya, juga disediakan pelayanan seks bagi orang-orang yang butuh dan tidak membawa pasangannya.
            Kebebasan berperilaku dalam hal-hal tertentu itu nampak adanya sikap tak perduli terhadap kepentingan masyarakat yang lain. Seperti adanya hotel-hotel atau tempat-tempat menginap dengan segala fasilitasnya dan munculnya para pramunikmat yang siap melayani para tamu yang menginap. Sikap yang tidak perduli itu tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat kawasan wisata bukit lawang. Sehingga seakan-akan dari sikap tak perduli itu menumbuhkan sikap individu-individu yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi. Hal ini penulis lihat dari para warga setempat yang hampir seluruhnya mengerahkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu yang orientasinya adalah ekonomi. Termasuklah dalam hal ini menjadi pelayan bagi kepuasan seks para wisatawan. Masyarakat sekitar cukup mengetahui siapa-siapa dari anggota masyarakatnya yang berprofesi sebagai pramunikmat, dan dengan pengetahuan itu mereka hanya dapat memaklumi saja profesi tersebut sebagai dampak dari lingkungan pariwisata. Terlebih-lebih menggunjingnya, itu jarang sekali bahkan tidak akan mereka lakukan, dengan fikiran bahwa setiap orang memiliki haknya sendiri untuk memilih jalan mana yang akan ia tempuh dalam mencari keuntungan ekonomi. Hanya saja dampak positif yang dapat penulis sampaikan di sini adalah bahwa dengan lingkungan wisata yang mereka hadapi setiap harinya itu justru kan mendorong mereka untuk bekerja lebih keras dalam memperbaiki standar hidupnya. Sedangkan dampak negatifnya selain perubahan perilaku ke arah yang negatif juga akan memunculkan kecemburuan sosial yang dinyatakan dengan tingkat kemewahan para wisatawan di tengah-tengah kemiskinan penduduk lokal, dan tentu kondisi ini dapat merangsang timbulnya tindak kejahatan.
            Di beberapa tempat daerah pariwisata bukit lawang tersebut terdapat banyak penginapan-penginapan dengan harga yang beragam. Letaknya juga berpengaruh terhadap harganya. Seorang kasir sebuah penginapan yang menjadi salah satu informan penulis mengatakan bahwa, di penginapannya itu tidak dilarang membawa pasangan (baca:pacar) untuk menginap di sana. Walaupun di penginapan tersebut tidak menyediakan para wanita yang siap melayani pengunjung yang akan menginap di tempat itu. Walaupun demikian jika pengunjung memang berniat untuk mencari pasangan yang akan menemaninya di penginapan, pemilik penginapan mampu mencarikan wanita yang siap untuk itu. Di tempat penginapan yang penulis observasi, terdapat tempat bersantai orang-orang yang penulis lihat saling berpasangan. Penulis berasumsi bahwa mereka adalah para pemesan kamar yang sedang bersantai di luar penginapan. Berdasarkan letak penginapan tersebut, yang terletak agak menjorok ke dalam dari jalan tempat orang-orang lewat, penulis menyimpulkan bahwa memang para pengunjung yang datang ke penginapan itu adalah pengunjung yang memang mencari tempat untuk dapat melampiaskan “kepuasan”.
            Selain itu untuk para wisatawan mancanegara, mereka memiliki tempat penginapan tersendiri yang terletak di sebelah utara dari sungai. Di sana para turis mancanegara banyak yang menginap dengan penginapan yang terlihat agak sedikit lebih berkelas dari tampilannya. Di areal penginapan mereka juga terlihat para warga pribumi yang tinggal bersama-sama dengan mereka. Apakah itu guide mereka atau pacar mereka, yang jelas pembauran terjadi antara pribumi dan para wisatawan mancanegara. Suasana akrab mereka tampilkan dalam pergaulan mereka, terlihat dari saling tertawa yang mereka tampilkan dan terkadang bersentuhan tangan, membuat semua orang yang melihatnya akan menafsirkan perilaku itu sebagai sesuatu yang sudah sangat intim.
            Sebuah tulisan tentang Konfrensi Asia Tenggara menentang Pariwisata Seks Anak menuliskan bahwa di seluruh dunia menurut catatan dari World Tourism Organization (WTO) lebih dari satu juta anak dilibatkan dalam kegiatan prostitusi dalam lingkup industri pariwisata. Bahkan menurut badan ini bahwa saat ini kondisi anak-anak yang dilibatkan dalam industri turisme sudah sangat dramatis dan ironis, karena dari tahun ke tahun pemanfaatan prostitusi anak dalam industry pariwisata ini mengalami peningkatan. Namun sayang masalah ini belum menjadi perhatian para penyelenggara bisnis pariwisata baik itu sektor pemerintah maupun swasta karena khawatir akan berdampak pada berkurangnya kunjungan wisatawan³.
            Di lokasi bukit lawang para pelayan seks tidak hanya terdiri dari wanita tetapi ada juga para pria yang siap menjadi pelayan seks bagi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Hal itu terungkap dari salah seorang informan yang tidak mau menyebutkan ciri-ciri pria yang siap menjadi pelayan sex para wisatawan. Dengan lain kata lokasi pariwisata adalah lokasi dimana para wisatawan bebas mengekspresikan kesenangannya selama itu tidak menyalahi norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku khusus pada lokasi wisata itu. Terkait dengan seks, Bukit Lawang tidak memberikan aturan-aturan khusus perihal seks, artinya tidak ada aturan-aturan tertulis yang mengatur tentang seks di bukit lawang itu. Semua wisatawan yang ada di sana seperti telah mengetahui bahwa jika ingin menyalurkan hasrat seksnya bisa saja membawa pasangannya ke beberapa penginapan yang ada di lokasi, atau mencari pasangan dari para pramunikmat yang ada di lokasi. Seorang informan sebut saja namanya Tono, seorang pedagang rokok yang ada di bukit lawang. Sambil penulis membeli sebungkus rokok kepadanya, penulis sempat menanyakan tentang wanita-wanita pelayan seks (pramunikmat). Tono mengatakan bahwa dari penampilannya memang agak sulit untuk mengidentifikasi yang mana yang mana wanita-wanita itu. Mereka lebih bisa diketahui karena hubungan-hubungan yang mereka bina dengan para warga setempat dan beberapa pedagang yang ada di lokasi tersebut. Identitas para pramunikmat itu tidak terlalu perlu ditunjukkan pada para pengunjung lokasi wisata. Jenkins (2004) mengatakan bahwa identitas itu merupakan soal mengetahui seseorang itu sebagai siapa (yang mana tanpa demikian kita tidak akan dapat mengetahui sesuatu itu sebagai siapa dan apa). Tetapi dalam hal ini, identitas sebagai pramunikmat tetap saja masih memiliki kesan yang negative pada masyarakat setempat walaupun masing-masing anggota masyarakat tidak menjadikan itu sebagai masalah dan menghargai keputusan masing-masing individu atas pilihannya. Untuk itulah pernyataan Jenkins di atas memang sangat penting bagi para pengunjung agar mereka dapat mengetahui siapa sebagai apa di arena sosial tersebut. Hanya saja seperti dikatakan di atas, identitas itu tidak hanya dapat diketahui dengan symbol-simbol yang tampak, tetapi juga dapat diketahui melalui sebuah dari hubungan-hubungan sosial yang ada. Selanjutnya Tono mengatakan bahwa menurutnya kebebasan adalah hal terpenting bagi sebuah daerah wisata seperti bukit lawang, karena tanpa itu para pengunjung justru tidak akan merasa leluasa di tempat rekreasi itu.
            Beberapa  pertanyaan dapat diajukan di sini. Apakah kebebasan itu dan kenapa ia harus dihargai? Apakah kebebasan itu merupakan sesuatu yang telah lama tertanam dalam watak manusia, atau apakah ia merupakan hasil dari suatu situasi khusus? Apakah ia diinginkan sebagai tujuan akhir atau sebagai alat untuk mencapai hal-hal lain? Apakah kalau orang memilikinya ia harus mempertanggungjawabkannya, dana apakah pertanggungjawaban ini demikian memberatkan, sehingga sebagian besar orang siap untuk melepaskannya agar mendapatkan keringanan yang lebih besar? Apakah perjuangan untuk kebebasan itu demikian beratnya sehingga kebanyakan orang gampang sekali berpaling dari upaya untuk mencapaii dan mempertahankannya? Apakah kebabasan itu sendiri dan hal-hal ditimbulkanya sama pentingnya dengan keselamatan hidup, seperti makan, tempat berteduh, pakaian atau bersenang-senang? Apakah manusia memberikan perhatian kepada kebebasan ini sama banyaknya dengan perhatian yang diajarkan kepada kita di negeri ini? (Dewey, 1988).
            Sebentuk pertanyaan di atas mengatakan bahwa kebebasan dalam arti yang sesungguhnya tidaklah menjadikan segala sesuatu dibenarkan (permissif), tetapi bagaimana menjadikan atau mengelola sebuah kebebasan itu menjadi satu aturan tidak tertulis yang dapat diinternalisasikan pada seluruh pengunjung yang ada di lokasi pariwisata. Dengan demikian segala bentuk kebebasan yang ada dinamakan dengan kebebasan yang terkendali. Terutama dalam hal ini adalah seks sebagai sesuatu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung lokasi wisata.
Terakhir yang perlu djelaskan disini adalah bahwa aktivitas seks yang terjadi di bukit lawang cenderung dikemas oleh berbagai bentuk kemasan, seperti rumah inap dan ada juga pijat tradisional, yang menurut beberapa informan juga menjadi salah satu tempat prostitusi bagi para wisatawan. Kemasan-kemasan itu lebih pada menjaga pada tidak terlalu fulgarnya praktek prostitusi itu pada lokasi wisata tersebut. Dalam observasi penulis, bahwa stimulus terhadap bangkitnya gairah seksual itu juga dapat terjadi dari beberapa pemandangan yang ditampilkan oleh para pengunjung yang dating ke sana. Sebagai contoh, para pengunjung yang berbusana semi terbuka di beberapa pinggiran sungai, para wisatawan mancanegara dengan pakaiannya yang relative terbuka, sehingga beberapa mata menjadi tertarik untuk melihatnya. Hal tersebut sedikit banyak menjadi salah satu factor penyebab beberapa orang terangsang (terstimulasi) gairahnya untuk mengarah kepada hal-hal yang berbau seksual.

Kesimpulan.
1.      Untuk memberantas masalah pariwisata seks anak ini tidak cukup bila hanya dilakukan oleh satu Negara saja, karena child sex tourism ternyata melibatkan banyak Negara. Di samping kompleksitas masalah ini juga melibatkan sektor pariwisata yang di dalamnya ada para pelaku pariwisata yang umumnya adalah berasal dari kalangan privat atau bisnis. Di samping itu kerjasama regional dan internasional perlu dikembangkan untuk memberantas masalah pariwisata seks anak di kawasan asia tenggara. Kerjasama ini bukan saja dilakukan oleh organisasi pemerintah saja, tetapi juga organisasi non pemerintah, organisasi  internasional dan sektor swasta.

2.      Memperhatikan kondisi bukit lawang maka beberapa pertanyaan di atas dapat menjadi salah satu pemikiran tersendiri bagi para Stakeholders dalam menata kebebasan di lokasi wisata itu dengan tujuan menjadikan daerah itu sebagai sebuah devisa daerah yang tetap terjada dan tidak melupakan adat istiadat dan menjadikan budaya setempat sebagai sebuah komoditi positif yang menjadi nilai jual tersendiri bagi para wisatawan yang berkinjung ke daerah itu. Artinya ada warna tersendiri yang dijual oleh bukit lawang sebagai katalisator penunjang bangkitnya produk wisata yang ada di bukit lawang. Sebagai contoh seni pertunjukan yang mengikutsertakan para wisatawan berpartisipasi di dalamnya adalah sebuah daya tarik tersendiri yang cukup efektif untuk membuat para wisatawan sangat menikmati liburannya di lokasi itu. Apalagi daerah bukit lawang yang terdiri dari beberapa etnis yang berdomisili di sana.
Hendaknya masing-masing kelompok etnis yang ada di daerah itu dapat memberikan kontribusi tersendiri bagi majunya perpariwisataan di bukit lawang. Sebagai contoh kelompok etnis Jawa dapat memberikan penampilan-penampilan yang bernuansa Jawa seperti seni-seninya yang dipertontokan di tempat umum, dan seperti yang dijelaskan di atas, para wisatawan jika bisa turut juga ikut berpartisipasi di dalamnya. Begitu juga dengan etnis yang lain, Karo, Simalungun atau yang lainnya juga dapat melakukan hal yang sama, sehingga bukit lawang menjadi sangat berwarna dan menarik dengan ciri-ciri heterogenitasnya.
Walaupun demikian, semua hal yang dilakukan di atas tanpa menafikan seks sebagai salah satu daya tarik tersendiri bagi bukit lawang. Yang terpenting adalah bagaimana mengemas “seputar seks” itu sebagai sesuatu yang tidak vulgar tetapi hidup di dalamnya. Dengan demikian, hidupnya aktifitas seksual di daerah itu tidak menghancurkan nilai-nilai ketimuran dan tetap menjadi alternatif saja bagi para wisatawan yang tertarik dengan komoditi itu.

3.      Dalam pergumulan warga mencari perekonomian di lokasi wisata tersebut terdapat aturan-aturan yang berlaku bagi seluruh pengunjung di bukit lawang. Aturan-aturan tersebut merupakan aturan tidak tertulis, seperti tidak mengganggu dan menjelekkan para pencari ekonomi yang lain. Adalah sebuah hak personal bagi warga untuk melakukan apa saja yang dianggap bisa menghasilkan ekonomi/pendapatan baginya, termasuk menjadi pramunikmat (pelayan hasrat seks para pengunjung), dan perilaku itu tidak boleh menjadi cemoohan bagi warga yang lain. Hal ini telah diungkapkan oleh Toni sebagai informan penulis, bahwa seseorang yang mengambil langkah itu tetap diterima sebagai bagian dari masyarakat/anggota sosial yang tidak kurang satu apapun dalam rangka bergaul dengan anggota masyarakat yang lain.



DAFTAR PUSTAKA
Dewey,Jhon, Budaya dan Kebebasan: Ketegangan antara kebebasan Individu dan Aksi Kolektif, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1998.
Jenkins, Ricard, Identitas Sosial, Medan, Bina Media Perintis, 2008.

Internet
¹ www.gununglesuser.or.id/bukit-lawang-92/
² Disparpora-serangkab.com/artikel.Php?wst=5
³ www.pkpa-indonesia.org

No comments:

Post a Comment

Cerpen "Kita akan tetap bersama" (bagian I)

Poooom....poooom...suara kapal feri yang akan menuju Tomok terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin kuat terdengar mendekati daratan ...