Friday, 15 March 2019

USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional)

Ketika aku masih sekolah SMA sebelum ujian EBTANAS kami ujian EBTA dahulu. Perbedaan keduanya adalah, yang pertama adalah ujian yang soal-soalnya dibuat oleh nasional (pemerintah), sedangkan yang kedua adalah ujian yang dilakukan oleh sekolah dan soal yang dibuat oleh sekolah, itu salah satu perbedaannya. Nah, ketika kurikulum berganti menjadi kurikulum KBK (kurikulum berbasis kompetensi) maka ujian-ujian tersebut diganti namanya menjadi UAN (Ujian Akhir Nasional) dan UAS (Ujian Akhir Sekolah) sekitar tahun 2003. Selanjutnya sekitar tahun 2007, kurikulum nasional berganti lagi menjadi kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)  dan ujian akhirnya dinamakan dengan UN (Ujian Nasional) dan US (Ujian sekolah). Waktu terus berputar dan pada tahun 2013 kurikulum berganti lagi menjadi Kurikulum 2013, yang akrab disebut dengan K13. Ujian akhir di kelas XII pun digantikan lagi namanya menjadi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) Dan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) yang sampai hari ini masih diberlakukan.

UNBK ini cukup menarik untuk diulas sedikit. Pada awalnya UNBK ini hanya diterapkan kepada sekolah-sekolah tertentu saja, paling hanya 2 atau tiga sekolah saja di setiap Kabupaten / Kota, dengan pertimbangan kemampuan sekolah dan siswanya untuk menyediakan komputer dan kemampuan menggunakan komputer / laptop. Bermunculan lah opini-opini masyarakat yang mengesankan bahwa pemerintah ini terlalu memaksakan UNBK di sekolah Indonesia. Tetapi lama-kelamaan setelah 2 tahun berjalan maka pemerintah menyampaikan kepada seluruh sekolah untuk menggunakan UNBK dimanapun ia berada. Mau tidak mau semua sekolah dengan daya upayanya harus menyediakan fasilitas UNBK di sekolahnya masing-masing, dan hasilnya Samapi hari ini rata-rata berhasil menyelenggarakannya, walaupun dan dengan cara apapun .
Satu hal yang unik dalam kurikulum 2013 ini adalah bahwa UNBK yang dilaksanakan hanya 4 mata pelajaran yang terdiri dari Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan satu lagi diberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih satu mata pelajaran ini di jurusannya
 Sebagai contoh seorang siswa Jurusan IPA akan UNBK dengan pelajaran, MM, B Ingin, B. Indonesia dan sebuah pelajaran pilihannya di jurusan IPA, misalnya Biologi. Tidak semua pelajaran inti di IPA diujikan di UNBK, hanya satu berdasarkan pilihannya. Begitu juga dengan jurusan IPS, yang diujikan adalah MM, B.Indonesia, B. Inggris dan sebuah mata pelajaran inti IPS, misalnya Sosiologi, atau ekonomi.
Satu lagi yang menarik dalam K13 ini adalah, bahwa ada yang namanya lintas minat. Apa itu? Adalah mata pelajaran yang bersilangan, maksud nya adalah siswa yang berada di jurusan IPA harus mengambil 2 mata pelajaran yang bukan pelajaran IPA, misalnya pelajaran dari IPS atau Bahasa. Begitu juga sebaliknya dengan yang berada di jurusan IPS, harus mengambil 2 mata pelajaran IPA untuk mereka pelajari. Tetapi itu berlaku hanya di kelas X saja. Ketika mereka naik ke kelas XI dan XII, mata pelajaran lintas minta itu tinggal satu saja yang mereka pelajari.
Nah....sebagai seorang guru, sampai hari ini aku belum dapat menemukan alasan yang rasional menurutku, aku masih melihat itu sebagai sesuatu yang kurang bermanfaat dan membuang-buang waktu saja. Siswa yang sudah menghunjamkan dirinya di jurusan IPS atau IPA untuk apa harus dipaksa belajar Fisika atau Kimia lagi? Nah, ketika dalam proses belajarnya si Siswa tidak nangkap dan terkesan main-main, eh...gurunya marah juga. Ini sebuah dilema menurutku. Buatku justru bagaimana memperdalam ilmu IPA nya atau Ilmu IPS nya, bukan membebaninya lagi dengan materi-materi lain yang sudah jelas tidak mereka minati. Tapi ya sudahlah, aku bukan pembuat kebijakan atas kurikulum yang dilaksanakan di negara ini. 

Hari ini, Sabtu 16 Mei 2019, USBN SMA masih berlangsung sampai hari Senin 18 Maret 2018. Pelaksanaan ujian ini juga dilaksanakan serentak di seluruh SMA di Indonesia. Semua mata pelajaran di ujikan di sana, sebagai salah satu ajang untuk melihat kemampuan siswa selama belajar mulai dari kelas X sampai kelas XII dengan soal yang dibuat oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) kabupaten / kota setempat, kecuali pelajaran Olahraga, kesenian dan agama. Karena mengacu dari kurikulum yang dibuat pemerintah maka ujian ini juga masih bergelar nasional dan pemeriksa soal uraiannya juga dilakukan oleh sekolah masing-masing. Bagaimana dengan nilainya? Kalian sudah bisala untuk menganalisanya sendiri.  

USBN dilangsungkan bersamaan di seluruh sekolah di Indonesia, dengan cara pengawasan silang, artinya guru di sekolah tertentu akan mengawas di sekolah yang lain, begitu juga sebaliknya. Hal itu salah satunya ditujukan agar peserta ujian merasa segan dengan guru lain yang sedang mengawasi ruangannya ujian mereka. tetapi beberapa kenyataan mengatakan bahwa justru dengan guru yang lain siswa malah tidak segan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan. Tetapi ya sudahlah, peraturan tetap peraturan semua harus dijalankan sesuai dengan apa yang sudah diperintahkan.

ujian berstandar Nasional ini juga merupakan pemanasan untuk selanjutnya melakukan Ujian Nasional berbasis Komputer. Apapun alasannya apakah ujian nasional itu diberikan soal yang sama atau tidak di setiap sekolah di Indonesia ini yang terpenting adalah bagaimana ujian itu dilakukan dengan benar, dalam arti tidak hanya merupakan seremonial saja, tapi benar-benar menjadi alat ukur bagi pemerintah untuk selanjutnya dapat mengembangkan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan daerah dan faktor-faktor lain yang mengiringinya. 

SEKIAN 

Tuesday, 12 March 2019

Penyesalan itu memang terlambat



"Pak, ayok foto" kata para siswa itu kepadaku. Kebetulan aku merupakan wali kelas mereka. 8 bulan kami udah bersama baru kali itu kami berfoto bersama. Cuaca cukup panas sebenarnya, tapi ya sudahlah aku turuti saja kemauan mereka kali ini, kebetulan kami memang blm pernah berfoto bersama. Setelah berfoto aku sempat menyimpan foto itu di handphone ku. 
Di rumah aku sempatkan melihat lihat kembali beberapa foto yang aku simpan, dan aku tertarik dengan foto yang aku tayangkan di atas. Aku pandangi wajah-wajah itu satu persatu, wajah-wajah anak sekolah yang sedang bergaya untuk berfoto. Generasi milenial saat ini memang doyan untuk berfoto-foto, tak seperti generasi "dulu" yang agak susah menemukan fotonya di album-album foto yang sudah di simpan dan penuh debu. Perkembangan teknologi memang menjadi faktor mudahnya anak sekarang mengabadikan dirinya pada setiap moment yang mereka lalui. 
Sembari memandangi foto itu satu persatu, aku juga terbayang tingkah polah mereka baik saat belajar atau sedang bermain. Beberapa siswa yang menonjol dalam hal negatif selalu saja menjadi urusan yang membutuhkan waktu khusus untuk menanganinya. Ruang Bimbingan Konseling (BK) menjadi sangat akrab bagi mereka, termasuklah aku sebagai wali kelasnya yang dianggap punya tanggung jawab khusus kepada mereka. Belum lagi persoalan nilai yang mereka torehkan banyak yang di bawah nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Sementara peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan dan kurikulum 2013 menetapkan bahwa siswa yang memiliki nilai di bawah KKM sebanyak 3 mata pelajaran, maka dinyatakan tinggal kelas. 
Aku terbayang kalau-kalau beberapa siswaku itu harus tinggal kelas. Buatku pribadi tinggal kelas merupakan hal yang sangat menakutkan, dan karena aku memang tak pernah tinggal kelas selama sekolah. Tapi aku tidak tahu benar apakah perasaan yang sama juga dirasakan oleh para siswa tersebut?
Seringkali nasehat demi nasehat kusampaikan kepada mereka, terutama bagi siswa-siswa yang terindikasi akan tinggal kelas. Bahkan terkadang hampir 1 jam pelajaran aku habiskan untuk menasehati mereka, setelah itu baru masuk pada materi pelajaran. Begitulah kalau statusnya sebagai wali kelas. 
Di dalam penilaian raport, ada 3 aspek yang menjadi penilaian seorang guru:
1. Aspek kognitif (Pengetahuan)
    Pada aspek ini guru akan menilai siswa berdasarkan pengetahuan mereka, misalnya hafalan, menganalisis, mendeskripsikan, menghitung, membandingkan dan sejenisnya.

2. Aspek psikomotorik (keterampilan)
    Pada aspek ini siswa akan dinilai dari keterampilannya mempraktekkan pengetahuan yang ada padanya. Kemampuan praktik ini berbeda-beda pada setiap siswa dan berdasarkan itulah guru memberikan nilainya kepada siswa. 

3. Aspek afektif (perilaku/sikap)
    Pada aspek ini guru akan menilai bagaimana siswa berperilaku sehari-hari, baik ketika sedang mengikuti proses belajar, maupun sedang bermain di lingkungan sekolah. Aspek ini sebenarnya merupakan hal yang cukup penting bagi guru untuk melihat perkembangan siswanya. Fenomena yang terjadi seringkali kognitif yang baik berbanding lurus dengan afektifnya.

Obyektivitas penilaian sebenarnya harus mempertimbangkan ketiga aspek tersebut. Aspek afektif juga memegang peranan yang tidak kalah penting karena terkait dengan adab. Seorang bijak pernah berkata, adab dahulu baru ilmu. Perkataan itu bermakna bahwa aspek yang paling utama untuk menjadi penilaian adalah afektif, baru kemudian kognitif dan psikomotorik.
Ruang Bimbingan Konseling di setiap sekolah cenderung dikunjungi oleh oleh siswa-siswa bermasalah dari sisi afektifnya, walaupun ada juga persoalan-persoalan lain seperti kognisi yang menjadi persoalan untuk dipecahkan. Inilah salah satu yang membedakan antara sekolah formal dan bimbingan-bimbingan belajar di luar sana. Menurut analisaku, bimbingan-bimbingan belajar tidak terlalu fokus pada persoalan perbaikan perilaku anak didiknya, mereka lebih fokus pada bagaimana memperkuat sisi kognitifnya.

Aku berfikir dan membayangkan siswaku yang sedang berfoto bersamaku, kulihat beberapa siswa yang menurutku sedang tersangkut persoalan nilai-nilai dan perilakunya, artinya jika nilai dan perilaku mereka tidak juga ada perubahan, maka kemungkinan besar mereka akan tinggal kelas dan harus mengulang kembali di kelas yang sama tahun depan. Jika saja itu terjadi maka ada banyak kerugian sebenarnya yang didapat siswa tersebut, diantaranya adalah rugi usia, ekonomi dan kesempatan bekerja di bidang-bidang yang memperhitungkan usia tadi.
Aku sebagai wali kelasnya terus mengingatkan bahwa perbaikan nilai dan afektif hanya bisa dilakukan oleh siswa sendiri, bukan oleh wali kelasnya, karena yang memberikan nilai kepada para peserta didik adalah guru bidang studi masing-masing dan wali kelas tidak punya hak sedikitpun untuk merubahnya. Wali kelas adalah rekan guru bidang studi untuk berdiskusi tentang perkembangan peserta didik pada bidang studi masing-masing, juga sebagai orang yang mengerjakan persoalan-persoalan administrasi siswa dan menampung keluhan-keluhan siswa di kelas tersebut untuK didiskusikan bersama dalam rangka mencari solusi. Begitupun tetap saja siswa yang terindikasi tinggal kelas ini tak menunjukkan perubahan yang signifikan. Melihat kondisi itu aku berfikir bahwa karakter mereka telah terbentuk oleh proses sosialisasi yang selama ini mereka jalani, baik itu sosialisasi primernya maupun sosialisasi sekunder nya.

Apa itu sosialisasi primer? Adalah sosialisasi yang pertama sekali didapatkan seorang anak dalam kehidupannnya, yaitu di keluarga (di rumah). Sosialisasi inilah yang dianggap peletak dasar kepribadian seorang anak sebagai modal untuk melanjutkan ke sosialisasi sekunder. Sedangkan sosialisasi sekunder adalah sosialisasi setelah sosialisasi primer, yaitu di luar rumah, seperti di lingkungan tempat tinggalnya, di sekolah atau dimanapun ia bergaul dengan orang lain di luar rumah. Hasil dari kedua sosialisasi itulah yang membentuk kepribadian seseorang.

 Untuk itulah, bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan untuk bisa merubah karakter seseorang dan aku juga bukan Tuhan yang dapat membolak-balik balikkan hati manusia. Sebagai seorang guru dan wali kelas aku cuma dapat memberikan pandangan, nasehat dan arti masa depan bagi kelangsungan hidup manusia. Memang....tidak semua masa depan yang baik itu hanya bisa didapatkan dari pendidikan formal, hanya saja saat ini zaman sangat menuntut bukti-bukti pendidikan formal seseorang ketika akan memasuki bidang pekerjaan tertentu. Okelah, kalau saja kita mau mengatakan akan menjadi pengusaha, tetap saja harus memiliki ilmu dan yang paling efektif buat anak anak sekarang untuk mendapatkan ilmu ya dengan sekolah. Bahayanya, sekolah malas, membaca malas, belajar dari lingkungan dan orang-orang sukses juga malas, skill tidak punya, maka kemungkinan akan sangat sulit untuk mendapatkan keindahan masa depan itu. Tak perlu dibantah, realita zaman ini memang sudah berkata demikian.
Siswa yang terlalu lama memahami hal hal demikian akan diprediksi bakal tergilas oleh zaman, tergilas yang aku maksudkan adalah orang-orang yang hanya akan menjadi penonton atas kemajuan zaman dan segala kemudahan kemudahan masyarakat dalam mengakses semua sumber daya negara ini. Aku sangat tidak ingin pada suatu hari nanti ada di antara mereka yang mengatakan "aduh, nyesal sekali aku waktu itu gak sekolah bagus-bagus". Kalimat seperti itu pernah beberapa kali kudengar dari tukang becak yang aku naik, supir bus yang kebetulan aku duduk di dekatnya. Waktu itu mereka juga membanggakan teman-teman mereka yang sudah "sukses" dengan mengatakan "si Fulan itu dulu kawan SMA ku nya itu, cuma dia begini dan aku begitu". Hehe...."dr Zul itu kawan SD ku nya dulu itu, seringpun kutokok kepalanya aritu, mungkin karena kutokok itu jadi encer otaknya ya..", dan sebagainya.
Sudahlah, berhentilah selalu menatap kejayaan masa lalu, nanti kita jadi susah membangun kejayaan masa depan. Penyesalan itu memang belakangan datangnya.

Terima kasih, semoga ada manfaatnya.

Thursday, 7 March 2019

Testimoni mantan pengguna narkoba

Kamis 7 Maret 2019 aku berangkat bersama para siswa ke salah satu panti rehabilitasi narkoba Al Kamal di Sibolangit. Kami berangkat menggunakan bus pariwisata dan perjalanan ditempuh dalam waktu berkisar 2 jam. hal tersebut disebabkan karena jalanan menuju berastagi relatif padat dan membuat kemacetan di beberapa titik. Akhirnya pada pukul 10.15wib kami sampai di tempat itu.
Berbekal surat yang kami bawa dari Pimansu yang berada di dalam kantor Dinas sosial politik di jalan Gatot Subroto, kami memasuki kantor rehabilitasi. Perlu kita ketahui bersama bahwa ketika kita akan berkunjung ke panti tersebut terutama dari instansi tertentu, maka kita harus membawa surat terlebih dahulu dari kantor Pimansu di jalan Gatot Subroto Medan, dengan membayar uang administrasi sebesar Rp 250.000. Dengan membawa surat tersebut maka kita akan diterima secara resmi di panti rehabilitasi narkoba tersebut dan dibimbing untuk segala hal yang berkaitan dengan penerimaan mereka terhadap tamu. setelah pembayaran administrasi itu, maka tidak ada kutipan lain di tempat rehabilitasi tersebut.
Sampai di panti aku masuk ke kantor panti dan memberikan surat yang kami bawa dari pimansu, setelah melihatnya pengurus panti itu mengatakan bahwa mereka akan mempersiapkan tempat dan menyuruh kami untuk menunggu beberapa menit di luar. sambil menunggu kami sempatkanlah untuk memperhatikan lokasi panti rehabilitasi itu. Tempat yang cukup nyaman dan asri buat kami yang baru sekali masuk ke area itu. Beberapa siswa menyempatkan diri untuk berfoto-foto di tempat tersebut. setelah beberapa menit menunggu akhirnya kami dipersilahkan untuk memasuki ruang aula yang sudah mereka persiapkan untuk menyambut kami. Karena kami terdiri dari wanita dan laki-laki, maka dipersilahkan duduk terpisah, artinya laki-laki duduk di sebelah kanan dan perempuan duduk di sebelah kiri, dan semua tertuju pada tiga orang yang berada di depan kami, yang terdiri dari satu orang pengurus panti dan 2 orang orang mantan pengguna narkoba yang sudah dalam kategori sembuh.

Setelah pengurus panti itu membuka pembicaraan dengan menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan dampak narkoba secara umum dan khusus, barulah ia mempersilahkan 2 orang mantan pengguna narkoba itu untuk berbicara. Mantan pengguna narkoba yang ada di depan kami itu juga memiliki tingkat kesembuhan yang berbeda, artinya yang satu sudah dikatakan sembuh total dan yang satu lagi bisa dikatakan sudah mencapai kesembuhan 75 persen, tetapi secara umum kami melihat ia sudah dapat berbicara sama dengan orang pada umumnya dan sudah mampu menganalisis beberapa pembicaraan yang sedang berlangsung. Bahkan sekarang ia telah melanjutkan kuliah S2 di bidang hukum dengan harapan ia ingin membantu orang-orang yang secara ekonomi lemah dan memerlukan bantuan hukum.


Gambar ini kami ambil  untuk kenang-kenangan dan bukti bahwa orang yang sudah kecanduan narkoba juga mampu kembali normal dan beraktifitas sebagaimana orang pada umumnya, bahka ia mengatakan bisa lebih cerdas daripada orang-orang yang tak pernah kecanduan narkoba. Kenapa demikian? Tanyaku kepadanya, karena ia lebih mengerti bagaimana agar tidak tertangkap polisi, dan bagaimana merayu orang agar bersimpati padanya, artinya kemampuan negosiasinya cukup baik.

Ketika seseorang menggunakan narkoba beberapa aspek yang dirusaknya adalah :
A. Aspek biologis, seorang pecandu secara biologis/fisik termasuk orang yang lemah, staminanya tidak kuat apalagi jika berolah raga. Selanjutnya bagi sebagian pecandu badannya akan kelihatan kurus karena malas makan dan yang ia butuhkan cuma narkoba, setelah ia mengalami sakau, maka mata akan kelihatan sayu tak bisa tenang diam di tempat. Kalau sedang dudukpun ia akan terus bergerak-gerak walau tak ada nyamuk yang sedang menggigitnya.

B. Aspek psikologis, pecandu cenderung cepat marah apabila konsumsi narkoba kurang dalam tubuhnya. Mudah terpengaruh dengan rayuan orang terutama apabila terkait dengan mendapatkan narkoba. Pertimbangan akalnya juga tidak baik, karena membelakangkan resiko atas apa yang akan ia lakukan demi mendapatkan narkoba.

C. Aspek sosiologis, seorang pecandu narkoba akan cenderung apatis, dan tak perduli dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Kecenderungan bertemannya lebih pada orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengannya, dan boleh juga dikatakan sebagai anti sosial. Hal yang menarik menurut seorang pengurus panti adalah, ketika tubuh pecandu narkoba itu sedang membutuhkan narkoba, maka ia sangat susah berkonsentrasi dan berperilaku tidak wajar sebagaimana orang biasa pada umumnya, tetapi ketika ia sudah mengkonsumsi narkoba, maka ia bisa tampil hebat, menjaga penampilan dan bisa sangat berwibawa di depan orang banyak. Sampai seperti itulah ketergantungan orang pada narkoba, sampai2 untuk berperilaku pun ia harus berada di bawah pengaruh narkoba. Jiwanya juga bisa tenang ketika suplai narkoba ke tubuhnya cukup terpenuhi.

Menurut pengurus panti bernama Bang Yayan, dalam kehidupan sehari-hari orang yang  terkena narkoba salah satunya bisa dilihat dari kelakuannya memukul-mukul tangannya. Hal itu dilakukannya disebabkan kebiasaannya memukul tangannya saat akan menyuntikkan narkoba, dan untuk menyuntikkannya ia memukul-mukul tangannya agar urat dari tangannya kelihatan sehingga jarum suntik itu bisa ditusukkan ke dalam urat tersebut. Bagi para pengguna narkoba jenis ini, mereka biasa menyuntikkannya melalui urat yang muncul ditangannya, sampai pada satu waktu nanti urat di tangan yang satu tidak kelihatan, maka ia akan pindah ke tangan yang satu lagi. Begitu juga, ketika tangan yang satu itupun tidak lagi kelihatan uratnya, maka ia akan menyuntikkannya lewat urat yang ada di kakinya, kaki sebelahnya, sampai pada akhirnya ketika urat-urat itu tidak atau susah untuk kelihatan lagi, maka ia akan menyuntikkannya lewat urat kemaluannya (penisnya).

Kita bisa bayangkan pada level yang seperti itu, bagaimana susahnya untuk menyembuhkannya. Sementara di panti rehabilitasi narkoba itu tidak boleh, apapun alasannya seorang pasien rehabilitasi untuk menggunakan jenis narkoba apapun dan dalam jumlah apapun. Itulah sebabnya juga, bagi para pengunjung panti rehabilitasi narkoba dilarang memberikan apapun kepada pasien dan kepada pengurus panti, baik itu makanan, benda-benda tertentu ataupun uang. Jika saja pengurus panti ketahuan menerima sesuatu dari para pengunjung, maka resikonya ia akan segera dipecat dari panti itu.
Foto di atas ini adalah foto bersama seorang pasien yang sudah berhasil direhabilitasi dan bersedia untuk berfoto bersama para siswa sman 3 Medan. Sedangkan seorang pasien lagi yang dinyatakan belum sembuh total dilarang pengurus panti untuk berfoto bersama siswa, dengan alasan barangkali keluarganya tidak ingin ada publikasi atasnya. Privasi juga perlu dijaga di dalam panti tersebut kata pengurus panti.
Beberapa pasien di panti rehabilitasi itu diantaranya masih harus dirantai kakinya walaupun ia sedang berjalan kesana kemari, bahkan ketika mereka akan melaksanakan sholat berjamaah. Hal itu terpaksa dilakukan karena dianggapa masih mengkhawatirkan, misalnya pada waktu tertentu ia bisa saja merasa sakau dan melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan orang lain. Pada waktu sebelum zuhur, atau sekitar setengah jam menjelang zuhur, para pasien itu biasanya menggunakan pakain seperti hendak akan sholat (pakai sarung, baju koko dan memakai kupiah atau lobe), layaknya segerombolan anak pesantren dan duduk-duduk di gazebo (semacam sanggar) tempat mereka bersantai sambil memainkan gitar dan bernyanyi-nyanyi bersama. Agak kontras sih kelihatannya, pakaian seperti itu tapi main-main gitar dan bernyanyi lagu-lagu yang bukan lagu religi. Tapi melihat pemandangan itu aku tersadar bahwa mereka bukanlah sekelompok anak pesantren, tapi sekelompok pasien narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi. Momen itu sebenarnya ingin sekali aku foto dan abadikan, tapi aku takut, karena pengurus panti itu telah mengatakan bahwa banyak hal-hal yang privasi atau tidak boleh dipublikasikan, karena khawatir keluarga si pasien akan keberatan jika keluarganya harus dikenali publik sebagaia pasien rehabilitasi narkoba. Hal itu aku alami ketika aku dan para siswaku dipersilahkan untuk berjalan-jalan memasuki tempat penginapan para pasien. Aku sempat merekamnya seperti seorang vloger. Kami berjalan didampingi seorang pasien narkoba yang sudah sembuh dan menjadi salah satu wakil pengurus panti untuk membimbing tamu yang datang. Aku keasikan merekan setiap tempat yang kulewati, kamar-kamar mereka, ruang makan mereka, ruang musik mereka, beberapa tangga penginapan menuju ke lantai 2 dan sampai akhirnya kami tertuju pada satu ruang khusus yang berbeda dengan kamar-kamar yang lain. Ruang ini berbentuk seperti penjara. Sebuah ruang kosong berkisar 3x4 meter dan dibelakangnya sebuah kamar mandi kecil. Ruangan itu disediakan untuk para pasien yang masih parah dan masih sangat sulit untuk dikendalikan ketika dia merasa sakau. Pertama aku melihantnya aku membayangkan kengerian jika berada di dalamnya. Sembari pembimbing kami berjalan tadi menjelaskan tentang ruangan itu, maka aku mengarahkan kameraku ke arahnya, dan begitu ia tersadar sedang kurekam, ia langsung mengatakan kepadaku dengan nada sopan tapi aku tau dia tidak suka dan agak marah "Pak, tolong jangan difoto-foto saya pak...gak perlu kali itu", katanya kepadaku. "Oh iya pak, maaf", jawabku sambil segera menurunkan dan mematikan kamera videoku. Down juga aku waktu itu, karena aku membayangkan hal yang tidak-tidak ketika ia menegurku. Dari situ aku tau bahwa ternyata tidak semua hal yang terkait dokumentasi bisa dilakukan di panti rehabilitasi itu. Jadi teman-teman, kalau berkunjung ke sana jangan sembarangan juga memoto-moto mereka, walau mereka tak mengatakannya tapi dalam hati mereka banyak yang tidak suka. Wajah-wajah mereka juga tidak selalu bersahabat dengan kita ketika kita melihat mereka. Mereka tidak selalu tersenyum ketika bertemu pandang dengan kita, dan hal ini sebenarnya membuat kita agak ngeri juga sih.....
Begitupun, area di luar pagar tempat mereka menginap boleh juga melakukan selfie-selfie bagi para pengunjung yang datang, karena di area luar pagar itu juga memiliki tempat yang asri dan enak juga untuk berselfie bagi orang-orang yang suka, tapi jangan berharap bisa berselfie dengan para pasien rehabilitasi ya...hehehe.

Sekian, semoga bermanfaat.



Amanatku sebagai Pembina Upacara

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua. Anak-anak sekalian... Satu hal y...