Thursday, 7 March 2019

Testimoni mantan pengguna narkoba

Kamis 7 Maret 2019 aku berangkat bersama para siswa ke salah satu panti rehabilitasi narkoba Al Kamal di Sibolangit. Kami berangkat menggunakan bus pariwisata dan perjalanan ditempuh dalam waktu berkisar 2 jam. hal tersebut disebabkan karena jalanan menuju berastagi relatif padat dan membuat kemacetan di beberapa titik. Akhirnya pada pukul 10.15wib kami sampai di tempat itu.
Berbekal surat yang kami bawa dari Pimansu yang berada di dalam kantor Dinas sosial politik di jalan Gatot Subroto, kami memasuki kantor rehabilitasi. Perlu kita ketahui bersama bahwa ketika kita akan berkunjung ke panti tersebut terutama dari instansi tertentu, maka kita harus membawa surat terlebih dahulu dari kantor Pimansu di jalan Gatot Subroto Medan, dengan membayar uang administrasi sebesar Rp 250.000. Dengan membawa surat tersebut maka kita akan diterima secara resmi di panti rehabilitasi narkoba tersebut dan dibimbing untuk segala hal yang berkaitan dengan penerimaan mereka terhadap tamu. setelah pembayaran administrasi itu, maka tidak ada kutipan lain di tempat rehabilitasi tersebut.
Sampai di panti aku masuk ke kantor panti dan memberikan surat yang kami bawa dari pimansu, setelah melihatnya pengurus panti itu mengatakan bahwa mereka akan mempersiapkan tempat dan menyuruh kami untuk menunggu beberapa menit di luar. sambil menunggu kami sempatkanlah untuk memperhatikan lokasi panti rehabilitasi itu. Tempat yang cukup nyaman dan asri buat kami yang baru sekali masuk ke area itu. Beberapa siswa menyempatkan diri untuk berfoto-foto di tempat tersebut. setelah beberapa menit menunggu akhirnya kami dipersilahkan untuk memasuki ruang aula yang sudah mereka persiapkan untuk menyambut kami. Karena kami terdiri dari wanita dan laki-laki, maka dipersilahkan duduk terpisah, artinya laki-laki duduk di sebelah kanan dan perempuan duduk di sebelah kiri, dan semua tertuju pada tiga orang yang berada di depan kami, yang terdiri dari satu orang pengurus panti dan 2 orang orang mantan pengguna narkoba yang sudah dalam kategori sembuh.

Setelah pengurus panti itu membuka pembicaraan dengan menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan dampak narkoba secara umum dan khusus, barulah ia mempersilahkan 2 orang mantan pengguna narkoba itu untuk berbicara. Mantan pengguna narkoba yang ada di depan kami itu juga memiliki tingkat kesembuhan yang berbeda, artinya yang satu sudah dikatakan sembuh total dan yang satu lagi bisa dikatakan sudah mencapai kesembuhan 75 persen, tetapi secara umum kami melihat ia sudah dapat berbicara sama dengan orang pada umumnya dan sudah mampu menganalisis beberapa pembicaraan yang sedang berlangsung. Bahkan sekarang ia telah melanjutkan kuliah S2 di bidang hukum dengan harapan ia ingin membantu orang-orang yang secara ekonomi lemah dan memerlukan bantuan hukum.


Gambar ini kami ambil  untuk kenang-kenangan dan bukti bahwa orang yang sudah kecanduan narkoba juga mampu kembali normal dan beraktifitas sebagaimana orang pada umumnya, bahka ia mengatakan bisa lebih cerdas daripada orang-orang yang tak pernah kecanduan narkoba. Kenapa demikian? Tanyaku kepadanya, karena ia lebih mengerti bagaimana agar tidak tertangkap polisi, dan bagaimana merayu orang agar bersimpati padanya, artinya kemampuan negosiasinya cukup baik.

Ketika seseorang menggunakan narkoba beberapa aspek yang dirusaknya adalah :
A. Aspek biologis, seorang pecandu secara biologis/fisik termasuk orang yang lemah, staminanya tidak kuat apalagi jika berolah raga. Selanjutnya bagi sebagian pecandu badannya akan kelihatan kurus karena malas makan dan yang ia butuhkan cuma narkoba, setelah ia mengalami sakau, maka mata akan kelihatan sayu tak bisa tenang diam di tempat. Kalau sedang dudukpun ia akan terus bergerak-gerak walau tak ada nyamuk yang sedang menggigitnya.

B. Aspek psikologis, pecandu cenderung cepat marah apabila konsumsi narkoba kurang dalam tubuhnya. Mudah terpengaruh dengan rayuan orang terutama apabila terkait dengan mendapatkan narkoba. Pertimbangan akalnya juga tidak baik, karena membelakangkan resiko atas apa yang akan ia lakukan demi mendapatkan narkoba.

C. Aspek sosiologis, seorang pecandu narkoba akan cenderung apatis, dan tak perduli dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Kecenderungan bertemannya lebih pada orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengannya, dan boleh juga dikatakan sebagai anti sosial. Hal yang menarik menurut seorang pengurus panti adalah, ketika tubuh pecandu narkoba itu sedang membutuhkan narkoba, maka ia sangat susah berkonsentrasi dan berperilaku tidak wajar sebagaimana orang biasa pada umumnya, tetapi ketika ia sudah mengkonsumsi narkoba, maka ia bisa tampil hebat, menjaga penampilan dan bisa sangat berwibawa di depan orang banyak. Sampai seperti itulah ketergantungan orang pada narkoba, sampai2 untuk berperilaku pun ia harus berada di bawah pengaruh narkoba. Jiwanya juga bisa tenang ketika suplai narkoba ke tubuhnya cukup terpenuhi.

Menurut pengurus panti bernama Bang Yayan, dalam kehidupan sehari-hari orang yang  terkena narkoba salah satunya bisa dilihat dari kelakuannya memukul-mukul tangannya. Hal itu dilakukannya disebabkan kebiasaannya memukul tangannya saat akan menyuntikkan narkoba, dan untuk menyuntikkannya ia memukul-mukul tangannya agar urat dari tangannya kelihatan sehingga jarum suntik itu bisa ditusukkan ke dalam urat tersebut. Bagi para pengguna narkoba jenis ini, mereka biasa menyuntikkannya melalui urat yang muncul ditangannya, sampai pada satu waktu nanti urat di tangan yang satu tidak kelihatan, maka ia akan pindah ke tangan yang satu lagi. Begitu juga, ketika tangan yang satu itupun tidak lagi kelihatan uratnya, maka ia akan menyuntikkannya lewat urat yang ada di kakinya, kaki sebelahnya, sampai pada akhirnya ketika urat-urat itu tidak atau susah untuk kelihatan lagi, maka ia akan menyuntikkannya lewat urat kemaluannya (penisnya).

Kita bisa bayangkan pada level yang seperti itu, bagaimana susahnya untuk menyembuhkannya. Sementara di panti rehabilitasi narkoba itu tidak boleh, apapun alasannya seorang pasien rehabilitasi untuk menggunakan jenis narkoba apapun dan dalam jumlah apapun. Itulah sebabnya juga, bagi para pengunjung panti rehabilitasi narkoba dilarang memberikan apapun kepada pasien dan kepada pengurus panti, baik itu makanan, benda-benda tertentu ataupun uang. Jika saja pengurus panti ketahuan menerima sesuatu dari para pengunjung, maka resikonya ia akan segera dipecat dari panti itu.
Foto di atas ini adalah foto bersama seorang pasien yang sudah berhasil direhabilitasi dan bersedia untuk berfoto bersama para siswa sman 3 Medan. Sedangkan seorang pasien lagi yang dinyatakan belum sembuh total dilarang pengurus panti untuk berfoto bersama siswa, dengan alasan barangkali keluarganya tidak ingin ada publikasi atasnya. Privasi juga perlu dijaga di dalam panti tersebut kata pengurus panti.
Beberapa pasien di panti rehabilitasi itu diantaranya masih harus dirantai kakinya walaupun ia sedang berjalan kesana kemari, bahkan ketika mereka akan melaksanakan sholat berjamaah. Hal itu terpaksa dilakukan karena dianggapa masih mengkhawatirkan, misalnya pada waktu tertentu ia bisa saja merasa sakau dan melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan orang lain. Pada waktu sebelum zuhur, atau sekitar setengah jam menjelang zuhur, para pasien itu biasanya menggunakan pakain seperti hendak akan sholat (pakai sarung, baju koko dan memakai kupiah atau lobe), layaknya segerombolan anak pesantren dan duduk-duduk di gazebo (semacam sanggar) tempat mereka bersantai sambil memainkan gitar dan bernyanyi-nyanyi bersama. Agak kontras sih kelihatannya, pakaian seperti itu tapi main-main gitar dan bernyanyi lagu-lagu yang bukan lagu religi. Tapi melihat pemandangan itu aku tersadar bahwa mereka bukanlah sekelompok anak pesantren, tapi sekelompok pasien narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi. Momen itu sebenarnya ingin sekali aku foto dan abadikan, tapi aku takut, karena pengurus panti itu telah mengatakan bahwa banyak hal-hal yang privasi atau tidak boleh dipublikasikan, karena khawatir keluarga si pasien akan keberatan jika keluarganya harus dikenali publik sebagaia pasien rehabilitasi narkoba. Hal itu aku alami ketika aku dan para siswaku dipersilahkan untuk berjalan-jalan memasuki tempat penginapan para pasien. Aku sempat merekamnya seperti seorang vloger. Kami berjalan didampingi seorang pasien narkoba yang sudah sembuh dan menjadi salah satu wakil pengurus panti untuk membimbing tamu yang datang. Aku keasikan merekan setiap tempat yang kulewati, kamar-kamar mereka, ruang makan mereka, ruang musik mereka, beberapa tangga penginapan menuju ke lantai 2 dan sampai akhirnya kami tertuju pada satu ruang khusus yang berbeda dengan kamar-kamar yang lain. Ruang ini berbentuk seperti penjara. Sebuah ruang kosong berkisar 3x4 meter dan dibelakangnya sebuah kamar mandi kecil. Ruangan itu disediakan untuk para pasien yang masih parah dan masih sangat sulit untuk dikendalikan ketika dia merasa sakau. Pertama aku melihantnya aku membayangkan kengerian jika berada di dalamnya. Sembari pembimbing kami berjalan tadi menjelaskan tentang ruangan itu, maka aku mengarahkan kameraku ke arahnya, dan begitu ia tersadar sedang kurekam, ia langsung mengatakan kepadaku dengan nada sopan tapi aku tau dia tidak suka dan agak marah "Pak, tolong jangan difoto-foto saya pak...gak perlu kali itu", katanya kepadaku. "Oh iya pak, maaf", jawabku sambil segera menurunkan dan mematikan kamera videoku. Down juga aku waktu itu, karena aku membayangkan hal yang tidak-tidak ketika ia menegurku. Dari situ aku tau bahwa ternyata tidak semua hal yang terkait dokumentasi bisa dilakukan di panti rehabilitasi itu. Jadi teman-teman, kalau berkunjung ke sana jangan sembarangan juga memoto-moto mereka, walau mereka tak mengatakannya tapi dalam hati mereka banyak yang tidak suka. Wajah-wajah mereka juga tidak selalu bersahabat dengan kita ketika kita melihat mereka. Mereka tidak selalu tersenyum ketika bertemu pandang dengan kita, dan hal ini sebenarnya membuat kita agak ngeri juga sih.....
Begitupun, area di luar pagar tempat mereka menginap boleh juga melakukan selfie-selfie bagi para pengunjung yang datang, karena di area luar pagar itu juga memiliki tempat yang asri dan enak juga untuk berselfie bagi orang-orang yang suka, tapi jangan berharap bisa berselfie dengan para pasien rehabilitasi ya...hehehe.

Sekian, semoga bermanfaat.



No comments:

Post a Comment

Mengenal Grandslam

Salah satu cabang olahraga yang memiliki paling banyak turnamen kelas dunia adalah Tenis Lapangan. Beberapa opini masyarakat mengatakan ba...