Saturday, 27 April 2019

Selamat Jalan Kawan...

 Hasil gambar untuk Assyafiiyah Medan
Tulisan ini tergerak dari sesuatu yang melintas dilamunanku. Eh, lamunanku kok terbawa pada kawan-kawan di sekolah, ditambah lagi dengan pertanyaan Pembina yayasan.. Nulis deh...

Tahun 2010, saat sebuah sekolah yang bernama Assyafiiah Internasional tegak berdiri di Jalan Karya Wisata II, aku memandangnya dengan sedikit decak kagum. Warna yang mentereng, bak villa gading, cukuplah untuk membuat silau mata orang yang melihatnya. Sejenak kuberfikir, wah..pasti enak sekali mengajar di tempat ini. Seorang teman mengajakku untuk ikut menjalani aktifitas di gedung sekolah itu. Dengan tidak ragu aku mengiyakannya. Suasana sekolah dan gedung yang keren tentu akan menambah gairah mengajar, fikirku saat itu. Tapi semua harus dimulai dari awal, konsep sekolah, penerimaan tenaga pengajar, promosi dan hal-hal lain yang terkait dengan hidupnya sebuah sekolah. Bersama 4 teman lainnya, kami melakukan itu semua. Tidak ada yang hebat di sana, semua orang juga bisa melakukannya.

Satu demi satu guru mulai berdatangan untuk testing menjadi guru di sekolah itu dan akhirnya terpenuhilah semua guru dengan mata pelajaran yang ada di kurikulum, walaupun beberapa guru harus mengajar di dua unit, dan itu dilakukan agar pendapatan guru itu tidak terlalu kecil. jumlah guru yang dalam kategori sedikit membuat semua saling mengenal dengan baik, dan pola interaksi yang dibangun adalah pola perkawanan, bukan pola interaksi atasan dan bawahan. buatku itu lebih baik karena hormat dan segan tidak tercipta dari sebuah pola hubungan yang organis tetapi yang mekanis. Kedekeatan tercipta dari hal-hal yang remeh temeh, yang kecil dan ringan, bukan dari hal-hal yang besar dan formal. Kurasa sih gitu...

Waktu yang tak mungkin dihentikan terus bergulir, dan seiring dengan itu juga beberapa guru mulai menampakkan jati diri, karakter yang sebenarnya. Proses memang sangat penting untuk memberikan sebuah kenyataan. Nafsu dan ambisi memang selalu hidup dalam kepala manusia. Kondisi dan situasi terkadang memang harus memaksa manusia untuk menafikan nilai-nilai yang sejati. Tapi itulah hidup, dan hidup memang sebuah pilihan. Beberapa guru harus berhenti dengan segala macam alasan yang paling rasional buat mereka. Itu juga pilihan terbaik buat mereka. Patah tumbuh hilang berganti. bergantilah beberapa guru dengan guru lainnya dan tentu wajah-wajah yang baru dan karakter yang baru pula. Bagaimanapun dan siapapun mereka, mereka adalah teman seprofesiku. Kucoba menyapa dengan gaya pertemanan yang sangat cair, sampai orang-orang baru di sekolah itu merasa sangat nyaman di sekolah itu, paling tidak pada saat berteman atau bersosialisasi dengan guru-guru lainnya, karena buat beberapa orang, beradaptasi di tempat yang baru adalah sesuatu yang sangat tidak mengenakkan,tapi itu harus tetap dijalani. Di situlah peran orang lain untuk bisa membantu bagaimana agar proses adaptasi itu bisa segera selesai dan membaur.

Hari demi hari, bulan dan tahun berjalan....wajah-wajah baru terus mengisi sekolah itu, seiring dengan keluarnya wajah-wajah lama dan agak lama, dan itu hal yang lumrah dalam dunia kerja, artinya aku kembali mengenal wajah-wajah baru dan tentunya teman-teman baru. Setiap kali itu terjadi, aku akan berusaha untuk segera membaurkan semuanya agar tak ada yang merasa asing di tempatnya yang baru dan bisa bekerja dengan hati yang nyaman...kira-kira gitulah...hehe

Tapi saat semua sudah berjalan dengan akrab dan penuh senda gurau, aku, dan mungkin kita, harus kehilangan lagi orang-orang yang sudah membuat kita nyaman dengan perkawanan yang sudah terbangun...
Imam Buana(Alm), harus berhenti karena sesuatu hal dan sekarang telah dipanggil Allah Swt dan sedang berproses di Alam yang abadi, semoga Allah swt menempatkanmu di tempat yang baik kawan..
Iwan Candra (Alm), (Mr Cen), yang menyebut dirinya sebagai si lucu 2, juga harus berhenti karena menjalankan tugas di tempat yang jauh, dan akhirnya juga harus meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Tawa, bual, canda dan bahasa bodohnya terkadang masih mengisi ruang interaksi kita di sekolah...Selamat jalan Cen, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang sudah tentu agak banyak...hmm.
Safarudin (Si lucu 1), yang tak ada kontroversi tentang kelucuannya, harus memilih untuk bertugas di tempat lain dan meninggalkan kita..
Agus, si batak dari sipiongot yang sempat jadi pandai bermain tenis meja dan bermain Bass di sekolah kita ini, bahkan mendapat istri di sekolah ini, juga harus memilih untuk bertugas di tempat yang lain.
Tedi (Sensei), yang kalem dan sok mempesona, tapi asik dan sangat pengertian itu juga harus pergi bertugas ke tempat yang lain. Kembali aku harus kehilangan dia..
Sensei Juli, yang punya suara indah, Dian cipta, anak kebon yang cerdas...hehe, Cut,Ryad,Bobi,dll, dengan gayanya masing-masing. 
Juga beberapa teman lainnya yang tak mengingatkan dan menggerakkan jariku untuk menulisnya,semoga kalian selalu sukses dimanapun berada.

Kini, aku juga masih berada di antara kawan-kawan yang baik-baik dan menyenangkan, yang tak pulang kalau masih ditatap matahari, yang tak senang kalau tak mengejek, yang tertawa sampai lupa bahwa itu kantor, yang hampir bengkak jarinya tegesek layar smartphone, yang kadang selalu mengajak aku untuk ngajar di lantai 5, yang teros marah kalau mulai disentuh namanya, apalagi terkait dengan wanita, yang slow tros padahal soal belom siap, yang sangat akomodatif terhadap lagu, yang gak pernah kuat suaranya, yang cerewet tapi kutau dia baik, yang sok tak perduli padahal panikan, yang suka merajuk tapi juga selalu ceria, yang sok intelek walaupun memang iya, yang sok merasa sering dibicarain, dan yang sering bilang bukan ma*r***m...jadi takut awak...hehe. Semuanya itulah yang mengisi sebagian hari-hari kita, dan memahamkan kita bahwa yang heterogen itu bukan cuma etnis, agama, ras, tapi juga karakter...
Karakterlah yang membedakan kita semua dalam memandang dan menyikapi semua hal yang kita hadapi. Ruang mungkin sama, tapi kadang berbeda dalam berbagai hal, yang jelas kita tentu tak ingin menggunting dalam lipatan, menjadi duri dalam daging dan yang senada dengan itu.
Ketika semua sudah melebur, akrab, dan penuh canda tawa, kini ku akan kehilangan kembali atau harus kehilangan kembali kawan-kawan baikku. Dengan berbagai alasan yang paling rasional menurut mereka, perpisahan kembali harus terjadi. Kebersamaan yang sudah tertoreh dalam catatan sejarah kita, harus berhenti karena bukunya sudah habis dan kita akana menggantinya dengan catatan-catatan yang baru, yang mudah-mudah dengan catatan-catatan yang lebih Indah lagi.
Terkhusus buat kawanku yang tidak lagi akan bertugas di Kantor kita ini, kalau tidak salah (Fajar,Pida, Cindy, Rasyid, Agung, Serik), Yunan..eh, enggak ya..Doaku buat kalian semua, semoga kebaikan dan kesejahteraan akan selalu mengiringi kalian.. AMIIN.
Jangan bilang aku gak sedih, aku sedih woy,aku akan merasa kehilangan dan akan merasa seperti ditinggalkan.  Tapi sekali lagi semuanya adalah pilihan dan aku, kita, harus menghormati apa yang sudah menjadi pilihan setiap orang. 

Selamat Jalan Kawan-kawan...yang semangat ya, pandai-pandailah menikmati pekerjaan. Semoga Allah Swt memberikan yang lebih baik buat kalian.

Aku & kawan-kawan SMA.


No comments:

Post a Comment

Cerpen "Kita akan tetap bersama" (bagian I)

Poooom....poooom...suara kapal feri yang akan menuju Tomok terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin kuat terdengar mendekati daratan ...