Monday, 26 August 2019

Kampung Orang tuaku telah berubah (Perubahan Sosial budaya)

Penulis: Ikhwan Rivai Purba

Dulu aku sering datang ke Kampungku dengan senang dan tak merasa ada hal-hal yang perlu aku takuti dan khawatirkan. Aku masih sering berjalan ke sana kemari dengan jalan kaki dan melintasi berbagai pepohonan nan rindang. Sawah-sawah masih terbentang luas di antara jalanan yang aku lalui. Orang-orang yang memiliki sawah masih terlihat membersihkan sawah-sawah mereka dengan penutup kepala dari topi jerami dan beberapa wanita dengan kain sarung yang dibalutkan di kepalanya. 
Hasil gambar untuk desa Pematang Bandar
Pohon-pohon Durian yang tinggi menjulang masih sangat sering aku temui di setiap aku berjalan-jalan di kampung itu. Tepatnya, Desa itu bernama Pematang Bandar yang kini telah menjadi kecamatan dan Desa Sibolatangan. Dua desa yang sering sekali aku jalani waktu itu memberikan banyak kisah yang tak mungkin bisa aku lupakan sampai hari ini.
Hasil gambar untuk pohon durian
Perjalan dari satu Desa ke Desa yang satunya lagi jarang aku dan saudaraku tempuh dengan kendaraan, tetapi kami lebih senang berjalan kaki, karena di setiap perjalanan kami sering melakukan banyak hal. Misalnya di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk mengambil kelapa muda yang enak sekali rasanya, satu diantara saudaraku yang pandai memanjat kelapa menjatuhi kelapa yang masih muda-muda dan segar ke bawah dan kami belah dengan semangat untuk mengambil airnya. Satu hal yang menarik adalah ketika kami akan meminum air kelapanya, sepupuku yang kebetulan tinggal di Desa tersebut memotong bambu yang berukuran kecil dan menjadikannya seperti pipet, lalu kami gunakan untuk menyedot air kelapa yang sudah dibolongi untuk diminum airnya, tanpa kami berfikir apakah di dalam bambu tersebut bersih atau tidak, yang penting "kipas tross"...Glek,glek,glek...suara air kelapa itu kami minum dengan semangatnya. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan beramai-ramai dengan teman-teman dan saudara sambil tertawa-tawa dan menceritakan berbagai hal yang saling nyambung di antara kami.

Belum berhenti sampai di situ, belum lagi kami sampai ke Desa yang kami tuju, kami singgah kembali ke Sungai pinggiran yang berada di antara pohon-pohon besar yang rindang dan pohon-pohon bambu yang tinggi-tinggi. Jangan bayangkan sungai itu seperti sungai besar dan panjang seperti sungai Ular di perbatasan Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Sungai itu tidak terlalu besar dan berada di antara bebatuan yang besar dan memiliki air yang sangat jernih. Setiap mata memandang ke air itu, maka apa yang ada di bawah air itu kelihatan semuanya, pasir-pasirnya, batu-batu kecil, bahkan ikan-ikan kecil yang berenang-renang di dalam air tersebut, tetapi ikan tersebut susah sekali untuk diambil, karena geraknya yang sangat cepat. Selain itu, batu-batu yang ada di pinggiran sungai itu ada yang besar, ada yang kecil, ada yang meninggi ke atas, ada yang saling berhimpit, dan di antara celah batu tersebut ada yang mengeluarkan air yang sangat jernih. Sepupuku bilang bahwa air itu dari dalam batu dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Karena aku kurang percaya, maka aku suruh dia untuk meminumnya dan ia segera mengambil air itu dengan tangannya dan meminumnya di depanku. Karena sudah percaya akupun tak mau kalah lalu menampung air itu dengan tanganku dan segera meminumnya. Rasanya...waaaaah...segar sekali. Aku, saudaraku dan temanku terus bermain air di sungai yang terlalu besar itu tetapi memiliki air yang sangat jernih itu. Orang-orang Kampung setempat sambil  lewat dan melihati kami sambil tersenyum ramah dan membiarkan kami terus bermain air. 
Hasil gambar untuk Sungai Desa jernih
Gambar Ilustrasi

Tanpa mengeringkan lebih dahulu badan kami dengan handuk, kami keluar dari sungai dan melanjutkan perjalanan ke Desa yang kami tuju. Di jalan pakaian kami kering sendiri dihembus angin. Apalagi ketika musim durian tiba, aku selalu singgah ke ladang keluargaku untuk menyantap durian mereka yang masih sangat bagus kualitasnya, buahnya besar-besar dan jarang sekali yang rusak. Pohon durian masyarakat kampung masih sangat banyak dan besar-besar. Begitu juga dengan pohon durian Atokku (baca : kakek), bahkan aku sering tinggal di sana ketika hari libur untuk membantunya menjaga buah durian miliknya, dan sambil menjaganya aku bebas memakan buah durian itu sepuasku. Setelah selesai memakan buah durian rasa hauspun datang dan aku disuruh untuk mengambil jerigen (wadah) untuk mengambil air di sungai dari celah-celah batu yang memancarkan air, dan air itulah yang kami minum bersama-sama.

Di perjalanan aku sering bertemu dengan orang-orang setempat yang juga sedang berjalan kaki menuju tujuannya masing-masing. Setiap kali berpapasan mereka selalu menegurku dan sepupu-sepupuku, walau sekedar basa-basi, tapi aku tau bahwa itu adalah bentuk interaksi yang ramah dan merasa bahwa mereka warga yang baik. Jarang aku temui kendaraan yang lalu lalang di Desa tersebut. Rumah-rumah yang kulewati rata-rata masih sangat sederhana dengan atap rumbia yang katanya tidak memancarkan panas matahari ke dalam ruangan rumah. Hanya ada juga beberapa rumah yang sudah menggunakan seng sebagai atap rumahnya. Setiap hari sabtu Desa Pematang Bandar itu selalu ada "Pekanan", kalau istilah saat ini adalah pajak/pasar, hanya saja pekanan itu hanya dilakukan seminggu sekali. Tempatnya hanya beralaskan tanah dan terpal-terpal sebagai atapnya. Di situlah warga menjual semua yang bisa ia jual untuk mencari keuntungan ekonomi tambahan, misalnya mereka menjual pisang hasil ladangnya, menjual, durian atau buah-buahan lain hasil ladangnya,Ikan hasil kolamnya, walaupun ada juga yang menjual bahan-bahan lain seperti buku, pakaian, sembako dan lain sebagainya, tetapi biasanya yang seperti itu adalah orang-orang luar desa yang ikut berdagang di pekan tersebut. Suasana dan pengalaman itu menjadi catatan tersendiri yang indah dalam perjalanan hidupku.

Kini...
Ketika aku kembali pulang ke kampung orangtuaku, ada warna dan suasana yang jauh berbeda dengan apa yang aku ceritakan di atas. Aku tak pernah lagi berjalan dari Desa Pematang Bandar ke Desa Sibolatangan, karena terik panas sudah mulai menyiksa tubuh tanpa ada penghalang-penghalang panas.

Hasil gambar untuk pohon durianHasil gambar untuk pohon durian

Selain itu Debu-debu jalanan serta asap-asap kendaraan masyarakat sudah mulai sangat terasa, terutama dari truk-truk beberapa toke sawit di daerah itu yang selalu hilir mudik mengambil hasil kebun para warga. 
Aku yang dulu bisa dengan bebas memakan buah durian yang tidak hanya yang dimiliki oleh keluargaku tapi juga milik orang lain yang sering menyuruh singgah untuk merasakan durian mereka karena itu adalah bagian dari ketidaksombongan mereka,kini aku harus membeli durian yang beberapa masyarakat jual di pinggiran jalan dengan harga yang relatif mahal, karena pohon durian yang sudah sangat jarang. Karena rinduku pada rasa durian daerah itu, akupun membelinya beberapa buah. Setelah aku membelahnya maka kualitas buah durian itupun ikut berubah, terkesan kering, dan sesekali terlihat banyak kehitaman, bahkan kurang masak. Hal itu tentu tidak terjadi begitu saja. Menurut warga setempat itu disebabkan oleh semakin banyaknya sawit-sawit yang kini telah menjadi salah satu usaha andalan warga setempat, sehingga kualitas tanah juga semakin berkurang dihisap oleh "pohon-pohon rakus" itu. 
Hasil gambar untuk pohon sawit di pinggir jalan
Hempasan ekonomi dan tuntutan kebutuhan ternyata harus merenggut kerindangan pohon-pohon durian yang besar-besar itu. Cara pandang lain telah menyentuh masyarakat dan dengan segera mereka menjadikan kekokohan dan menjulangnya batang-batang durian itu menjadi komoditi-komoditi sesaat untuk keperluan para "kapitalis" dengan cara mengambil batang-batang durian itu untuk dijadikan papan, broti atau keperluan-keperluan lainnya. Satu persatu masyarakat mulai menumbangkan pohon-pohon duriannya dengan alasan ekonomi, dan ada juga yang dengan alasan bahwa buah duriannya semakin tidak baik kualitasnya, jadi tidak perlu lagi dipertahankan.

Aku coba untuk mengambil air dari celah-celah batu yang dulu pernah aku minum langsung, tapi air itu telah hilang dari sana, begitu juga dengan air sungai yang sangat jernih itu telah semakin berkurang dan sungainya juga semakin menyempit, rasanya tak lagi pantas untuk anak-anak bermain-main atau mandi-mandi lagi di sungai itu, yang kelihatan hanya beberapa warga yang memanfaatkannya untuk mencuci pakaian mereka sambil mandi menggunakan gayung yang mereka bawa dari rumah. Pekanan yang tadinya terhampar dengan apa adanya, kini telah menjadi seperti ruko-ruko tempat berdagang yang harus disewa dengan harga yang relatif mahal juga. Jalan-jalan desa semakin tak karuan, berlobang disana-sini, kemungkinan karena seringnya truk-truk pengangkat sawit dengan muatan yang sangat berat lalu-lalang di Desa tersebut. 

Hasil gambar untuk truk pengangkat sawitHasil gambar untuk truk pengangkat sawit

Tapi apa boleh buat, warga membutuhkannya untuk mengangkat hasil ladang mereka. Pelan dan lambat jalanan itu bisa terperbaiki, itupun jika kepala desanya (pangulu) cepat tanggap dengan kondisi infrastruktur desanya. Orang-orang tak lagi terlihat begitu ramah dengan tegur sapanya, karena banyak kesibukan, untuk tetap menjaga hubungan yang baik, maka kalaupun mereka tak menegur, aku yang duluan harus menegur mereka untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Terlihat beberapa pemuda desa yang seringkali menjadi buruh para toke-toke sawit dan hidup di atas truk-truk mereka untuk mencari penghidupan. Mereka tak lagi mengerjakan sawah bersama orangtua mereka, karena sawah-sawah yang tertata indah yang pernah kulihat dulu, telah sirna dan berubah menjadi kebun-kebun sawit yang mereka anggap lebih menjanjikan kesejahteraan.
Ketika aku berada di rumah orang tuaku, aku terkejut melihat galon-galon air mineral berbaris di dapur. Aku menanyakan untuk apa galon-galon itu, dan ternyata galon-galon itu adalah untuk diisi air minum dengan cara isi ulang yang dijual oleh beberapa pedagannya di kampung itu atau untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang membutuhkan air bersih. Ini berarti bahwa air di Desa atau di kampung itu sudah tidak lagi dipercaya oleh masyarakat setempat untuk dikonsumsi sebagai air minum, sehingga masyarakat sudah banyak yang menggunakan air isi ulang untuk kebutuhan rumah tangganya. Udah kaek Kota-kota ya...
Kemana alamku yang dulu itu? Kemana pohon-pohon yang terkesan angkuh dan besar-besar itu? Kemanakah sungai-sungai nan jernih dan menyegarkan itu? Kemana masyarakat kampung yang selalu tersenyum dengan tegur sapa yang ikhlas itu? Kemana itu semua? Seperti inikah Hasil dari Globalisasi dan Modernisasi itu???

Hasil gambar untuk globalisasi dan modernisasi

50 comments:

  1. Ah sekarang kampung udah malu menjaga tradisi bang,, malah lbh bangga disebut kampung modern supaya terkesan melek internet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah perbedaan cara pandang golongan tua dan golongan muda di daerah perkampungan.

      Delete
  2. Perubahan sosial yg terjadi diDesa Pematang Bandar salah satunya ialah,banyaknya ditebang pohon"an untuk dibuatkan jalan,dan perubahan lainnya ialah polusi yg buruk yg disebabkan oleh truk" yg melintasi jalan tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, sebaiknya para toke sawit juga ikut memperbaiki jalan ya..

      Delete
    2. Bagus pejuang rindu, tapi apa ada pohon2 ditebang utk jadi jalan?

      Delete
    3. ada pak, banyak pohon durian yg ditebang untuk dijadikan jalan didesa tersebut.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perubahan sosial yg terjadi di desa pematang bandar adalah air sungai yg dulu jernih, sekarang menjadi kotor

      Delete
  4. pepohonan yg semakin menipis, dan semakin majunya desa membuat transportasi bnyak melalui lintasan sehingga polusi udara sudah tidak segar

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perubahan sosialnya :
      1.polusi udara
      2.kualitas buah-buahan di desa tersebut menurun
      3.jalanan rusak yang di lalui truk
      4.sawah-sawah yang tertata rapi sekarang sudah menjadi pohon-pohon sawit
      5.yang dulunya air sungai di desa tersebut sangat jernih, sekarang sudah tidak memungkinkannya untuk djadikan minum atau mandi.

      (Miranda)

      Delete
  6. Perubahan sosial:
    1 polusi yng sekarang tidak bagus lagi
    2 jalan yng dulunya rusak dan sekarang sudah menjadi bagus
    3 sekarang tidak ada pohon yng rindang
    4 air sungai sudah tidak jernih lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta sejati harusnya juga mencintai desanya, ya kan?
      Komen kamu bagus...

      Delete
  7. Pohon yang rindang menjadi tidak rindang
    Jalan yang rusak menjadi lebih bagus
    Air yang jernih menjadi sangat kotor

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. perubahan yang terjadi pada desa itu salah satunya pada jalan yang digunakan truk untuk berlalu-lalang sehingga jalan itu berlubang dan menyebabkan polusi, karna tidak adanya pohon-pohon rindang. Dulunya air sungai yang jernih sampai bisa diminum dan digunakan masyarakat sekarang telah hilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pinkeubil....sudah bagus, walau ada perubahan yg lain lagi kalau dibaca.

      Delete
  10. Perubahan-perubahan yang terjadi sangatlah banyak...
    1. Dulu, orang orang selalu berjalan kaki untuk sampai ke desa dengan suasana yang baik, angin yang sejuk karna banyak pohon pohin di sepanjang jalan tetapi sekarang mereka sudah menggunakan banyak kenderaan untuk ke desa dan asap asap dari kenderaan tersebut membuat polusi udara tidak baik.
    2.Pohon kelapa yang buahnya masih berkualitas baik tidak seperti sekarang yang buahnya sudah kering, tidak berkualitas dan pohon pohon kelapa juga banyak ditebang dan diganti dengan lahan sawit oleh toke-toke sawit.
    3.Air sungai yang dulu sangat bersih dan jernih,sekarang tidak lagi, sudah tidak jernih dan kurang bersih dan semakin menyempit.
    4.Dulu pohon pohon dijalanan banyak dengan daunnya yang rindang membuat udara sejuk di desa sekarang pohon pohon itu sudah banyak ditebangi sehingga membuat udara semakin panas.
    5.Jalanan yang dulunya mulus sekarang sudah berlubang karena banyak truk yang kapasitasnya berat, dan kepala desa yang kurang memperhatikan infrastruktur desanya.
    6.Dulu yang seminggu sekali terdapat pasar pasar yang menjual berbagai sembako, barang. Sekarang sudah diambil dari pedagang pedagang luar untuk kepentingan ekonomi pribadi.
    Menurut saya perubahan itu sudah menyebar luas bahkan ke desa tetapi perubahan perubahan itu hampir semua membawa dampak negatif bagi manusia dan perubahan itu hanyak berdampak positif bagi orang orang tertentu saja.

    ReplyDelete
  11. NAMA : GIOVANNY ASHARI
    KELAS: XII IS 1

    Hasil dari perubahan di atas meliputi dari :
    1.Perubahan Alam (Dari sawah-sawahan yang indah menjadi sawit-sawitan)
    2.Perubahan polusi udara (Yang dulu sejuk sekarang sudah di warnai polusi udara yang berasal dari kendaraan-kendaraan pengangkat sawit)
    3.Perubahan jalanan (Semakin memburuk karena berasal dari beban truk-truk sawit yang sangat berat mengangkat beban)
    4.Perubahan air yang jernih
    5.Perubahan air minum yang sudah menggunakan galon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus Giovani..
      Cuma perubahan air yg jernih itu bkn perubahan sosial loo..hehe

      Delete
  12. perubahan sosial :
    1.polusi udara
    2.kualitas buah di desa tersebut menurun
    3.jalan yang mulai membaik
    4.air sungai sudah tidak jernih
    5.sekarang tidak ada pohob yang rindang di ganti pohon-pohon sawit

    ReplyDelete
  13. perubahan sosialnya adalah:
    1.ekonomi karena kebutuhan ekonomi masyarakat menebangi pohon" durian mereka demi dijualkan untuk kebutuhan mereka
    2.perubahan sungai
    sungai telah menjadi sempit dan airnya tidak jernih lagi dikarenakan dijadikan lahan dan tempat pembuangan limbah
    3.perubahan jalan
    yang dulunya mulus rata kini menjadi berlobang dikarenakan banyak truk" pengangkutan yang berlalu lalang.
    4.perubahan tata krama/sosial
    yang dulunya saling tegur sapa kini telah tidak peduli siapa dia
    5.perubahan hamparan sawah
    yang dulunya terhampar luas kini menjadi tempat lahan sawit perusahaan
    6.perubahan air
    yang dulunya bisa minum dari hasil sungai kini harus membeli.
    7.perubahan udara
    dulunya udaranya bersih dan segar kini telah menjadi banyak asap dan polusi udara dikarenakan banyak kendaraaan yang lewat seperti truk dan lain"
    8.perubahan pepohonon kini telah menjadi lahan usaha sawit
    semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  14. Warga yg tinggal di desa Pematang Bandar tersebut berubah menjadi kurang bersosialisasi karena masalah perekonomian dan perubahan globalisasi dan mereka jadi macam mengurus urusan mereka masing-masing dan mereka pun rela menjual sawah mereka demi menjadi desa yg maju atau buat lahan perkebunan dengan alasan "lebih menjanjikan".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nampaknya kamu peehatian dengan persoalan sosialisasi ya...

      Delete
  15. Ditebang nya pepohonan membuat desa sudah tidak asri dan udara nya sudah mulai terasa kotor dan tercemar pepohonan durian nya pun sudah mulai berkurang dan juga sudah berkurang nya air bersih sehingga warga susah mencari air yang bersih. Sungai pun sudah tercemar dan sudah tidak layak digunakan kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu konsen pada persoalan alamnya nampaknya...
      Gak papa...bagus

      Delete
  16. Seperti contohnya perubahan sosial yang terjadi adalah:jalan raya sudah rusak bisa menyebabkan polusi udara, perpohonan distu sudah banyak di tebang, dan sehingga membuat panas yang sangat kering,rumah sudah tidak lagi beratap tepas,melainkan sudah beralasan sseng/atap. (yogapngs)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus...walau banyak perubahan yang lain lagi

      Delete
  17. Warga di Desa Pematang Bandar dulu sangat sering menggunakan air sungai yang jernih untuk segala keperluan seperti mandi dan mencuci pakaian.Semenjak ada nya air isi ulang yang lebih cepat untuk mengolah air bersih,air sungai pun sudah tidak lagi di pakai atau sudah jarang di gunakan.
    (Ginda Pratama)

    ReplyDelete
  18. Perubahan sosialnya adalah:
    1)Air sungai: yg dulunya air sungai itu bisa di minum,ada air dari celah batu,dan banyak anak anak mandi di sana.kini tak lagi sungai itu semakin berkurang,semakin menyempit,dan tak pantas untuk anak anak bermain di sungai tersebut.
    2)polusi udara:kampung itu dulunya bersih,arsih,sejuk.kini tak lagi semenjak adanya kendaraan truk yg kluar masuk utk mengangkut sawit.
    3)perubahan jalan:kampung itu dulu memiliki jalan yg bagus dan cantik.kini tak lagi sudah rusak,sudah banyak lubang-lubabg di jalan itu karna kluar masuknya truk untuk mengangkut sawit.
    4)perubahan lahan sawah:dulu kampung sangat banyak di tanami sawah yg hamparannya hijau sedap di pandang.kini sudah berubah menjadi lahan sawit di kampung itu.
    5)perubahan tata krama:yg dulunya kampung itu saling menegur sapa dengan lain,kini sudah tak lagi dan tak peduli
    6)yg dulunya kampung itu setiap hari sabtu ada pekanan,kini tak lagi ruko-ruko tempat berdagang yang harus disewa dengan harga yang relatif mahal
    7)dulunya banyak pohon pohon durian kini sudah sedikit tidak banyak seperti yg dulu dan kualitas buah durian itupun ikut berubah, terkesan kering, dan sesekali terlihat banyak kehitaman, bahkan kurang masak. Hal itu tentu tidak terjadi begitu saja. Menurut warga setempat itu disebabkan oleh semakin banyaknya sawit-sawit yang kini telah menjadi salah satu usaha andalan warga setempat, sehingga kualitas tanah juga semakin berkurang dihisap oleh "pohon sawit tersebut".
    Sekian pendapat saya tentang perubahan sosial di sebuah kampung,semoga dapat di terima ya...

    ReplyDelete
  19. perubahannya dulu banyak pemandangan" yang sangat indahh ,banyaknya pepohonan" yang indah disekitar kampung halaman itu, sekarang sudahh tidak ada lagi karena adanya penebangan untuk pembangunan" jalann

    ReplyDelete
  20. Perubahan-perubahan di desa banyak, seperti air sungai yg dulu jerni sekarang jorok tempat yang dulu besar sekarang menyempit dulu emang banyank ank-ank yg sering mandi ke sungai sekarang sudah jarang karna melihat sungai yang jorok dan sempit takpantas jugk anak-ank bermain atau mandi di sungai tersebut...... (mhd. Khadafi)

    ReplyDelete
  21. Nama: Xavier Purba
    Kls : XII IS 1

    Perubahan-perubahan sosialnya adalah:
    1. Pepohonan yg dulunya sangat banyak sehingga udara menjadi sejuk kini sudah banyak yg ditebangi oleh masyarakat sekitar
    2. Jalan raya yg dulunya dapat dilalui dengan berjalan kaki tanpa perlu menutup hidung dan mulut karena debu kini jalan raya sudah di penuhi debu karena dilewati truk-truk dan masyarakat sudah malas berjalan kaki karena debu yg begitu banyak.
    3. Pohon durian yg dulunya mudah didapati bahkan dapat diminta oleh masyarakat sekitar dan rasanya sangat enak kini melihat pohon durian saja sangat susah kalaupun ada rasanya sudah hambar karena masyarakat sudah banyak menanami sawit yg banyak mengonsumsi gizi yg ada didalam tanah.
    4. Tata Krama masyarakat yg dulunya sangat ramah kini masyarakat sudah tidak ramah lagi dikarenakan kesibukan nya masing masing.
    5. Air yg dulunya dapat diambil dari celah celah batu bahkan bisa mandi di sungai dikarenakan jernih nya kini untuk minum saja harus beli dan disungai itu air nya sangat keruh
    6. Pasar/pajak yg dulunya penjualnya menjual dengan cara membuat tenda jualan kini banyak ruko ruko digunakan sebagai tempat menjual sekalian rumah tinggal nya
    7. Pemuda pemuda desa yang dulunya bekerja di sawah mereka sendiri bersama orang tua nya kini pemuda pemuda desa sudah banyak bekerja bersama toke toke sawit karena masyarakat disitu menganggap buah sawit lebih mahal dibanding padi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus Xavier...berarti kamu baca tulisan ini.

      Delete
  22. Perubahan sosial yang terjadi (Mahfuzhah q) :
    1. Debu jalanan serta asap-asap kendaraan masyarakat sudah mulai sangat terasa terutama dari truk-truk
    2. Saat ini untuk membeli durian yang beberapa masyarakat jual dipinggir jalan dengan harga yang relatif mahal karena pohon durian yang jarang , serta kualitas berubah , terkesan kering , terkadang banyak kehitaman , bahkan rusak
    3. Hempasan ekonomi dan tuntutan kebutuhan ternyata harus merenggut keindahan pohon-pohon durian
    4. Cara pandang masyarakat yang menjadikan komodisi sesaat untuk keperluan para kapitalis , selain itu dengan alasan ekonomi mereka menumbangkan pohon duriannya
    5. Air sungai yang tak lagi jernih tidak cocok untuk dijadikan tempat anak-anak bermain dan mandi , dan beberapa warga yang memanfaatkannya untuk mencuci pakaian
    6. Orang-orang yang lagi ramah dengan tegur sapanya karena banyak kesibukan. Anak-anak muda yang tak lagi mengerjakan sawah bersama orang tuanya , karena sawah yang pernah dilihat sudah sirna

    ReplyDelete
  23. Kampungnya makin keren pasti...hehe

    ReplyDelete
  24. Haduh sayang sekali banyak yang hilang. .

    ReplyDelete
  25. Perubahan sosialnya
    1.Pepohonan menjadi sedikit karena penebangan liar
    2.jarak pandang menipis karena polusi udara atau abu bernaikan karena jalanan rusak dan sebagai kluar masuk nya truk pengangkut
    3.air sungai kotor,dulu dapat di minum menjadi tidak bisa karena telah tercemar limbah pembuangan
    M.IQBALSYAHPUTRA
    XII IPS 3

    ReplyDelete
  26. Saya menganalisis bahwa kampung ini telah terjadi perubahan yang sangat drastis,sehingga masyarakatnya telah mengalami perubahan yang dulunya belum modern dan sekarang menjadi modern,contohnya yang dulunya untuk minum masyarakat akan mengambilnya dari sungai dan sekarang masyarakat tinggal membeli.
    -Mrizky Aditya
    X ips 3

    ReplyDelete

Amanatku sebagai Pembina Upacara

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat Pagi, Salam sejahtera buat kita semua. Anak-anak sekalian... Satu hal y...