Tuesday, 19 November 2019

Tongkrongan

Hasil gambar untuk tongkrongan warkop"

Seringkali sudah aku mendengar istilah "tongkrongan", terutama bagi anak-anak sekolah baik itu SMP apalagi SMA. Istilah tongkrongan ini buatku adalah tempat berkumpulnya anak-anak sekolah itu sepulang sekolah atau setelah kegiatan di sekolahan sudah selesai. Tetapi ada juga beberapa anak sekolah yang masih jam belajar aktif sudah berada di tongkrongan, alias cabut sekolah.

Hampir di semua sekolah terutama SMA, beberapa siswanya memiliki tempat tongkrongan sendiri-sendiri dan dengan aktivitas sendiri-sendiri pula. Ini adalah bagian dari perkembangan psikologis remaja yang selalu ingin berkelompok sebagai bagian dari ekspresi keremajaan itu. Dalam tinjauan sosiologi, ketika seseorang berada dalam kelompoknya, maka ada beberapa perasaan yang ia rasakan, contoh: seseorang akan merasa kuat / hebat, sehingga dalam situasi seperti itu maka jangan cari gara-gara, karena sebagai sebuah kelompok ia akan merasa bahwa seseorang sedang menguji  kehebatan kelompoknya, sehingga kelompok itu sangat ingin membuktikan bahwa kelompoknya itu adalah kelompok yang hebat. Kehebatan kelompoknya itu juga akan terekspresikan dalam bentuk simbol-simbol, misalnya memiliki bendera tersendiri, atau yel-yel yang dianggap dapat membakar semangat dan kekokohan diantara anggota kelompok. Dalam hal ini dasar terbentuknya kelompok itu adalah kesamaan hobi (nongkrong di tempat tertentu sambil bersosialisasi).

Dalam ilmu sosiologi ada beberapa penyebab terjadinya perilaku menyimpang, dan salah satunya adalah  sub kebudayaan menyimpang. Saya akan berikan contohnya, seorang anak yang awalnya "baik", diajarin nilai-nilai yang positif di rumah dan di sekolah sebagai agen sosialisasi. Tetapi ada agen sosialisasi lain seperti teman sepermainan yang juga turut andil dalam proses sosialisasinya. Maka jika si anak bergaul dengan sekelompok orang (grup), yang dalam hal ini dikatakan sebagai sub kebudayaan dan kelompok tersebut adalah kelompok yang "tidak baik" dan suka berperilaku menyimpang, maka si anak bisa saja akan menjadi seorang "penyimpang", apalagi ia sangat sering berada di dalam kelompok tersebut. Nah itu yang disebut sebagai penyimpangan hasil dari sub kebudayaan yang menyimpang.

Tongkrongan, boleh saya katakan sebagai sebuah kelompok dalam pergulatan pergaulan anak-anak sekolah saat ini. Barangkali ada banyak hal yang mereka bicarakan dengan teman-teman satu tongkrongannya, yang mungkin tidak terceritakan kepada orang tua atau mungkin gurunya. Tongkrongan barangkali menjadi salah satu wadah mereka bercerita tentang apa saja, karena mungkin buat mereka  tongkrongan sebagai sesuatu yang bebas nilai dan bebas kontrol. Hanya saja buat saya, ini hal yang agak berbahaya, karena teman berceritanya juga teman-teman sebaya  dengan emosi dan rasionlaitas yang cenderung sama, sehingga tak ada yang bisa menjadi panutan atau kalau dalam istilah umum "yang dituakan", yang mungkin bisa berperan untuk mengontrol hal-hal negatif yang akan atau sedang dilakukan. 

Hasil gambar untuk tongkrongan warkop"

Tongkrongan, bisa menjadi hal positif, jika saja pembicaraan atau pergaulan yang dihasilkan di sana memberikan pengetahuan paling tidak ada hal positif dalam perkembangan keperibadian anak sekolah. Tetapi tongkrongan bisa juga menjelma menjadi "kawah candra dimuka" bagi anak sekolah yang tak mampu menyaring mana yang baik dan yang buruk buatnya.
Semoga yang namanya tongkrongan itu mampu lebih mendewasakan anak-anak sekolah yang datang ke sana dan mampu memberikan hal positif bagi pengetahuan mereka.
Kalau saya sih, bisa memaklumi tongkrongan-tongkrongan itu, karena saya juga pernah menjadi bagian dari anak-anak tongkrongan itu ketika masih sekolah. Hanya saja terkadang orang tua sering merasa khawatir dengan anak-anaknya yang sering ngumpul-ngumpul dan dianggap tidak memberikan manfaat apa-apa. Tapi maunya ya anak-anaknyapun jangan menunjukkan perubahan ke arah yang negatif kepada orang tuanya. Gaul ya gaul....tapi jangan menjadikan kita malah jadi orang yang "brengsek", tak mengerti nilai dan norma dan nilai-nilai pelajaran jadi semakin memburuk. 
Jangan ya Nak......

Atau kamu ada komen tentang tongkrongan? Silahkan dikomen tulisan ini...




17 comments:

  1. Ambil yang positif nya aja
    Udh mantap itu

    ReplyDelete
  2. Benar sekali pak.. Kita harus pandai memilih mana tongkrongan yang membawa kita ke nilai-nilai positif. Jangan sampai kita terjerumus ke hal yang akan membuat kita menjadi pribadi yang buruk

    ReplyDelete
  3. Benar sekali pak, cocok nih pak ceritanya yang sesuai dengan anak sma sekarang !

    ReplyDelete
  4. Blog ini bagus sangat terinspirasi kita buat membuat usaha cafe" nongkrong

    ReplyDelete

Mengenal Grandslam

Salah satu cabang olahraga yang memiliki paling banyak turnamen kelas dunia adalah Tenis Lapangan. Beberapa opini masyarakat mengatakan ba...